Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tragis, Murid SD Dirundung Teman Hingga Tewas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 04:57 WIB Last Updated 2026-10-16T21:57:30Z

TintaSiyasi.id -- Bila melihat siswa berseragam merah putih di fase kelas 1-3 pastilah menimbulkan kesan bahwa mereka ini masih polos, ceria, aktif dan penuh rasa ingin tahu. Lalu mereka yang memasuki jenjang kelas 4-6 sudah mulai menunjukkan sikap senioritas, butuh validitas kelompok bahkan ingin mendominasi kelompok. Semua itu terjadi secara alamiah sesuai fitrah manusia yang apabila dikendalikan dengan sistem yang benar akan membawa keberkahan dan sebaliknya. 

Rasa dan sikap senioritas seorang anak yang diarahkan oleh sistem yang benar yaitu sistem Islam niscaya akan menunjukkan sikap penuh keteladanan, kesabaran membimbing juniornya dengan kasih sayang serta mau belajar dan tumbuh bersama dalam ketaatan kepada Allah Swt. Namun apabila sistem pengendalinya adalah kapitalisme sekuler yang menempatkan agama sebatas aturan untuk ibadah ritual semata maka yang ada mereka menjadikan rasa senioritas itu sebagai alat untuk memperdaya juniornya agar mau memberi apa yang dia minta, mengerjakan apa yang dia suruh bahkan tidak ragu untuk melakukan kekerasan kepada juniornya. 

Dan yang membuat hati kita teriris nyeri adalah wafatnya seorang anak kelas 2 SD di Pemalang yang bernama M. Hasbi Aqib akibat dirundung oleh seniornya yang duduk di kelas 5 dan 6 seperti yang dimuat BBCNews.com edisi 5 Oktober 2026 kemarin. Kejadian ini patut mengingatkan kita bahwa kasus ini bukan yang pertama. Bahkan selama periode 2020-2025 terjadi peningkatan kasus. Perlu diketahui bahwa data tahun 2025 mencatat ada 614 kasus perundungan. Hal ini sangat mengherankan. Ternyata masalah perundungan selama ini belum bisa dihentikan atau dicegah tapi malah seolah dibiarkan untuk sering terjadi. 

Pemerintahan sekuler kapitalistik memang selalu memandang semua masalah seolah selesai hanya dengan didata dan dihitung tanpa perlu benar-benar dihentikan. Pola tiap kasus selalu sama. Kasus terjadi, tersebar lalu pejabat terkait mengutarakan pendapatnya. Beberapa pekan berikutnya kasus itu menguap begitu saja karena sudah tergantikan oleh kasus baru. Karena negeri ini memang problematik. Beberapa masalah muncul di saat masalah yang lain bahkan belum terselesaikan. Kenyataan ini seperti benang kusut yang tidak berujung. 

Bila kita bedah kasus ini, semakin terkuaklah sebuah kesimpulan bahwa keadaan masyarakat kita memang sudah hancur. Kehancuran itu tidak hanya terjadi di kalangan orang dewasa tetapi juga di kalangan anak usia SD. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan bisa menghilangkan nyawa juniornya yang tidak berdosa secara keji. 

Kekejaman itu pasti tidak muncul begitu saja. Ada beberapa pihak yang menabur benih kesombongan dan kesewenangan lalu mereka tiru. Usut punya usut para pelaku adalah putra dari orang-orang terpandang. Sudah umum diketahui bahwa pola asuh yang biasa dijalankan oleh keluarga berada yang tidak berdasarkan pada ketakwaan pada Allah SWT senantiasa selalu menuruti kemauan buah hati mereka sehingga anak-anak itu merasa dimanjakan. Akibatnya mereka tidak segan untuk marengek, marah dan memaksa orang tua mereka bila tidak dituruti. Bahkan tidak jarang mereka akan mengancam dengan mogok belajar, mogok sekolah, dan sejenisnya. Akhirnya mau tidak mau orang tua pun menuruti. 

Sadar tidak sadar sikap ini terbawa dalam pergaulan sesama teman. Merasa bisa mendapatkan apapun yang diinginkan di rumah dengan cara memaksa, merengek dan mengancam, dia menganggap temannya pun bisa dia perlakukan seperti itu apalagi bila temannya itu jauh lebih muda dan lebih kecil secara fisik. Akhirnya perundungan pun terjadi. 

Kedudukan dan profesi orang tua di mata masyarakat dan sekolah juga sering mempengaruhi tegaknya keadilan pada peraturan yang ada. Kita tidak bisa menutup mata ada beberapa guru atau bahkan kepala sekolah yang sungkan menegur murid yang melanggar aturan sekolah bila mereka berasal dari keluarga terpandang. Hal ini lumrah terjadi di dunia pendidikan sekuler kapitalis karena bisa saja orang tua murid tersebut tidak terima dengan teguran itu lalu malah lapor polisi dengan aduan "fitnah" meski pelanggaran itu jelas terjadi. Uang dan kekuasaan bisa mengabulkan apapun yang diinginkan pemiliknya. Bila laporan sudah sampai di meja polisi maka citra sekolah dan guru ikut tercemar. Demi keselamatan pribadi dan sekolah mereka memutuskan untuk menutup rapat masalah ini. Sungguh malang nasib Aqib kecil, darahnya dilap oleh kepala sekolah. Dia disuruh diam, tidak mengadukan perlakuan yang diterimanya untuk kemudian dibiarkan dirundung lagi. Akhirnya dia tidak pernah bisa kembali ke sekolah selamanya karena luka akibat perundungan itu telah mengantarnya menuju kehidupan yang lebih layak. 

Betapa kejamnya sistem ini kepada Aqib. Ternyata kematian adalah cara sistem mengakhiri penderitaannya selama ini. Anak tujuh tahun itu kini sudah sampai di akhirat yang menyambut kedatangannya dengan penuh cinta. Tidak ada lagi senior yang mengancam keselamatannya. 
Tapi di rumahnya, kita tidak bisa membayangkan hancurnya hati ibunda Aqib yang telah mengandungnya sembilan bulan, merawatnya setiap hari dengan cinta tapi kini, putra kesayangannya itu tidak akan pulang lagi. Lalu ayah mana yang rela putranya wafat di tangan seniornya sendiri? 

Mari kita berhenti menutup mata. Terlalu banyak "kedaruratan" di negeri ini karena kehidupan yang semakin jauh dari aturan Allah SWT. Berhenti menganggap kecil masalah perundungan. Terimalah dengan lapang dada bahwa sistem kapitalisme sekuler ini benar-benar merusak. Masa depan seperti apa yang diharapkan oleh generasi yang sewenang-wenang? Tidak ada kecemerlangan. Yang ada hanyalah kepekatan gelap. 

Masa depan cemelang akan terbentuk dari sistem kehidupan yang tundak patuh pada aturan Islam. Saatnya kita merasa cukup hanya dengan berhukum pada Islam dalam semua lingkup kehidupan termasuk pendidikan. Sekolah yang berjalan dalam sistem Islam adalah sekolah yang menanamkan pola pikir dan pola sikap yang mencerminkan kepatuhan pada aturan Allah Swt untuk selalu berbuat baik dan mencegah kemungkaran seperti yang terdapat dalam Surat Al Baqarah ayat 104. Ayat ini tidak hanya berlaku bagi siswa tapi juga guru dan kepala sekolah serta semua kaum muslim. Islam mengajarkan bahwa kedudukan semua manusia itu sama di hadapan Allah Swt. Pembedanya hanya ketakwaan. Maka tidak ada kompensasi untuk kesewenangan selain sanksi yang tegas dan setimpal. Mata dibalas mata, hidung dibalas hidung dan yang pasti nyawa dibalas nyawa. Aturan seperti ini terbukti mengurangi kesewenang-wenangan di tengah masyarakat. 

Islam tidak pernah mencontohkan cara mendidik anak dengan memanjakan mereka. Ingatlah kisah baju Idul Fitri Hasan dan Husain. Saat teman-temannya sudah memiliki baju baru, mereka masih belum punya. Kedua orang tua mereka belum bisa membelikannya. Meski cucu seorang Nabi, kehidupan dua bersaudara itu selalu bersahaja, terbiasa menunggu dan bersabar. Hingga suatu hari ada orang yang mengaku sebagai tukang jahit membawakan dua setel baju dan sepatu. Sayidah Fatimah terkejut melihat kejadian itu. Rasulullah tersenyum dan mengatakan bahwa penjahit itu adalah Malaikat Ridwan. Masha Allah, sebuah kehidupan keluarga sederhana yang penuh berkah. 

Kisah Hasan-Husain di atas patutnya kita ceritakan kepada generasi kita bahwa kehidupan yang sederhana tapi selalu bertakwa kepada Allah SWT dan Rasulullah Saw. serta patuh dan hormat kepada orang tua akan mendatangkan keberkahan dan sebuah keutamaan daripada hidup bergelimang harta tapi selalu melanggar aturan Allah SWT dan tuntunan Rasulullah Saw.[]


Oleh: Nurul Lailiya
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update