Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kecanggihan AI: Antara Harapan dan Ancaman Kepunahan

Senin, 12 Oktober 2026 | 06:51 WIB Last Updated 2026-10-11T23:51:22Z

TintaSiyasi.id -- Kemajuan teknologi informasi saat ini telah mengantarkan peradaban manusia pada era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sangat masif. Para peneliti kecerdasan buatan, termasuk figur yang dikenal sebagai "Bapak AI" dunia, menerbitkan riset terbaru yang kembali mewanti-wanti seluruh pemerintah di dunia untuk bersiap menghadapi bahaya dari apa yang mereka sebut sebagai "ledakan kecerdasan" (intelligence explosion). (CNN lndonesia, 30 September 2026).

Fenomena lonjakan kemampuan AI ini memperlihatkan betapa cepatnya mesin mempelajari pola pemikiran manusia dan melampaui batas-batas kecepatan pemrosesan data tradisional. Di satu sisi, kehadiran AI memang menjanjikan harapan besar bagi efisiensi dan inovasi. Perkembangan AI telah terbukti membentuk masa depan baru di berbagai sektor vital, seperti dunia medis, keuangan, hingga penelitian sains modern (Kompas.id, 5 Oktober 2026). 

Namun di sisi lain, para ilmuwan memperingatkan bahwa ledakan kecerdasan ini membawa tiga risiko eksistensial yang mematikan, ancaman serangan biologis dan siber, potensi hilangnya kendali serta keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan, hingga munculnya ancaman perang skala besar antarnegara yang digerakkan oleh sistem otonom. Kekhawatiran ini semakin diperparah oleh potensi krisis lain, seperti ancaman kawanan bot AI yang dapat merebut dan menguasai lalu lintas internet secara otonom (InetDetik.com, 1 Oktober 2026).

Perkembangan mutakhir ini menunjukkan fakta bahwa AI semakin bertindak menyerupai manusia dan kian sulit dikendalikan oleh para penciptanya sendiri. Selain itu, teknologi AI sangat rawan disalahgunakan sebagai senjata manipulasi informasi massal, penipuan, hingga propaganda politik yang menyesatkan masyarakat luas. Realitas bahwa kekhawatiran atas dampak destruktif AI kini meluas secara global di kalangan akademisi dan praktisi menjadi bukti nyata bahwa teknologi tanpa arah yang jelas dapat membawa malapetaka. Sayangnya, regulasi dan kebijakan pemerintah di berbagai negara terbukti semakin tertinggal jauh di belakang laju pesat inovasi AI tersebut (MetroTV.News, 28 September 2026).

Dalam pandangan Islam, manusia dianugerahi kemuliaan berupa akal pikiran untuk memahami tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT di alam semesta, sekaligus mengemban amanah sebagai pengelola bumi (khalifah fil 'ardh). Allah SWT berfirman mengenai potensi sains dan penjelajahan ruang sains oleh akal manusia:

يٰمَعْشَرَالْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْا اِلَّا بِسُلْطٰنٍ

"Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan)." (TQS. Ar-Rahman [55]: 33)

Islam menetapkan kategorisasi yang tegas dan mendasar terhadap seluruh hasil pemikiran serta karya manusia, yakni pembagian antara hadharah dan madaniyah. Hadharah adalah sekumpulan pemahaman tentang kehidupan yang terikat erat oleh pandangan hidup, aqidah, atau ideologi tertentu. Sedangkan madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda terindera yang digunakan dalam pemenuhan kebutuhan hidup, yang pada dasarnya bersifat netral selama tidak terikat dengan hukum khusus.

Secara teknis, AI merupakan bagian dari madaniyah, sebuah alat dan sains buatan manusia. Namun, perancangan algoritma, pengumpulan data latih (training data), serta pembuatan standar keputusan dalam sistem AI sangat dipengaruhi oleh hadharah (ideologi, sekularisme, kapitalisme dan asas pragmatisme) pemilik atau pengembangnya.

Ketika data yang dimasukkan sarat akan kepentingan materialistis atau hegemoni politik, keputusan yang dihasilkan AI pun akan condong pada kepentingan tersebut.
Rasulullah SAW telah menetapkan kaidah dasar dalam pemanfaatan segenap sarana dan tindakan agar tidak mendatangkan bahaya bagi sesama:

لاَ ضَرَرَب وَلاَ ضِرَارَ

"Tidak boleh melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain." (HR. Ibn Majah dan Ahmad)

Analisis mendalam terhadap dilema AI menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi ini ibarat pisau bermata dua: ia bisa memberikan kemudahan luar biasa, tetapi juga sanggup mendatangkan kehancuran massal jika lepas dari kendali nilai moral dan hukum.

Ketika AI berada di tangan individu atau entitas yang memiliki aqidah yang kokoh serta ketundukan penuh pada syariat Islam, teknologi ini akan diarahkan secara maksimal untuk mewujudkan kemaslahatan hakiki, seperti memajukan pengobatan medis, meningkatkan efisiensi pertanian, mempermudah pendidikan dan menyebarkan risalah kebaikan (suspicious link removed). 

Sebaliknya, apabila AI dikuasai oleh ideologi kapitalistik yang menafikan peran Tuhan (sekularisme) serta dipimpin oleh pihak-pihak yang tidak memedulikan halal-haram, maka AI hanya akan dijadikan instrumen eksploitasi ekonomi, pembuatan senjata pembunuh otonom, perang siber, serta alur manipulasi massa demi hegemoni kekuasaan.

Dalam hal ini pentingnya etika dan pembatasan hukum dalam pengembangan AI juga seharusnya terstruktur mengenai batas-batas pemanfaatan teknologi modern dalam kehidupan.

Oleh karena itu, ledakan kecerdasan buatan tanpa kendali akidah dan syariat Islam berisiko besar membawa peradaban manusia menuju kehancuran sosial, ekonomi hingga pertahanan. Tata kelola teknologi modern tidak cukup hanya diserahkan pada regulasi parsial yang kerap terlambat dan rapuh. Seluruh sistem kehidupan manusia, termasuk kebijakan sains dan teknologi, harus diatur dan dilandasi oleh aturan syariat Islam agar selamat dari dampak buruk destruksi digital. 

Hanya dengan kepemimpinan berbasis syariat, kecanggihan AI dapat difilter secara ketat agar senantiasa menjadi berkah dan rahmat bagi seluruh alam, bukan pemicu bencana kepunahan manusia.

Allahu a'lam.[]


Oleh: Zia Shalihah
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update