“Kita hidup di zaman ketika orang
sering menilai penampilan kita, bagaimana kecantikan dipamerkan, tubuh
dijadikan sebagai bahan penilaian, dan penerimaan masyarakat seolah-olah
menjadi penentu harga diri,” sebutnya.
Bukan pandangan Allah, Husna
menyayangkan bahwa pandangan masyarakat itu yang menjadi penentu bagi nilai
harga diri.
“Keadaan itu menuntut setiap
Muslimah untuk menilai kembali siapa yang seharusnya menentukan nilai dirinya,
apakah berdasarkan ukuran manusia atau ketetapan Allah sebagai Pencipta dan
pemberi panduan kehidupan,” ulasnya dalam program daring Kelas Kesempurnaan
Islam bertajuk Hijab Kami, Iman Kami, Maruah Kami, Sabtu
(17/10/2026).
“Siapakah yang seharusnya
menentukan nilai dirinya? Siapa yang seharusnya menentukan nilai diri kita?
Siapa yang menciptakan kita, siapa yang menyediakan aturan, dan siapa yang
seharusnya kita taati perintahnya? Jadi, apakah ukuran manusia atau ukuran
Allah? Itu yang harus kita tanyakan,” ujarnya sembari mengajak peserta untuk
mengintrospeksi diri.
Tantangan lainnya, Husna menyebut
adanya kecenderungan menjadikan hijab sekadar bagian dari penampilan atau
aksesori. “Padahal, Muslimah perlu memahami ilmu dan tuntunan yang mendasari
pemakaiannya,” ungkapnya.
“Allah Swt. telah memerintahkan
Nabi Muhammad saw. agar menyampaikan kepada istri-istri beliau, anak-anak
perempuan beliau, dan perempuan-perempuan Mukmin untuk mengulurkan pakaian
mereka,” tuturnya.
“Jadi, ini menunjukkan bahwa
seorang Muslimah bukanlah sosok yang dibiarkan begitu saja, tetapi sosok yang
dipelihara dengan ayat-ayat Allah Swt.,” paparnya.
“Maka janganlah kita menjadikan hijab itu
sekadar aksesori saja, sekadar sebagai penutup rambut saja, tidak. Tetapi kita
harus menyadari bahwa itu merupakan suatu perintah Allah. Jadi, kita harus
memiliki ilmu untuk melaksanakan perintah tersebut,” bebernya.
Selain itu, ia turut
mengungkapkan tantangan perubahan peradaban dan perkembangan tren busana yang
senantiasa berubah dari waktu ke waktu, termasuk akibat pengaruh luar yang
semakin kuat masuk ke tengah masyarakat umat Islam.
“Kita dapat melihat garis waktu
dunia ini, bagaimana pakaian Muslimah atau pakaian perempuan itu mengalami
evolusi ataupun perubahan. Yang terakhir, kita melihat bagaimana
pengaruh-pengaruh Barat masuk ke dunia umat Islam dengan begitu cepat hingga
mengubah kedudukan ataupun pakaian perempuan,” ujarnya.
Pada saat yang sama, Husna
menekankan bahwa maruah Muslimah tidak seharusnya dinilai berdasarkan rupa
fisik atau ukuran manusia, melainkan dikaitkan dengan ketaatan dan ketakwaan
kepada Allah Swt.
“Maruah kita itu dinilai dengan
ukuran Allah Swt., bukan ukuran manusia. Allah tidak memandang wajah kita,
tidak memandang rupa kita, tetapi Allah memandang ketakwaan kita,” tegasnya.[] Aliya
Ab Aziz
