Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rudal Houthi dan Bangkrutnya Kedaulatan Saudi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:58 WIB Last Updated 2026-10-17T11:58:13Z
Tintasiyasi.id.com -- Dunia kembali disuguhi tontonan absurd: sebuah kerajaan dengan anggaran militer bernilai ribuan triliun rupiah, yang diperkuat sistem pertahanan udara tercanggih buatan Barat, dibuat kewalahan dan babak belur oleh serangan asimetris milisi Houthi. 

Keberhasilan proyektil dan drone Houthi menembus pangkalan udara serta titik vital seperti Bandara King Khalid di Riyadh bukan sekadar isu kegagalan teknis radar atau kejenuhan Baterai Patriot. 

Ini adalah tamparan keras yang menelanjangi betapa rapuhnya sistem pertahanan rezim-rezim di Dunia Islam yang bertumpu pada kaki-kaki kapitalisme global dan sekularisme politik (SINDOnews, 12-10-2026).

Secara taktis-militer, analisis mendalam dari para pakar strategi menegaskan adanya blind spot (zona buta) radar, keterbatasan cakupan rudal Patriot, serta kekakuan rantai komando (rigid chain of command) yang lambat merespons ancaman ketinggian rendah (low-altitude saturation attack). 

Kelumpuhan sistemik ini memperlihatkan betapa ketergantungan penuh pada alutsista impor—khususnya dari Amerika Serikat—tidak otomatis menjamin kedaulatan udara suatu negara. 

Akar masalah dari tragedi ini adalah dua penyakit utama: sekularisasi politik dan cengkeraman sistem ekonomi kapitalisme global.

Pertama, Sekularisasi Memisahkan Islam dari Tata Kelola dan Militer. Sekularisasi telah memisahkan Islam dari tata kelola negara dan doktrin militer. Negeri-negeri Muslim, termasuk Arab Saudi, tidak lagi menjadikan doktrin Jihad fi Sabilillah dan kesatuan umat sebagai asas pertahanan nasional mereka. 

Politik luar negeri mereka dipandu oleh pragmatisme sekular dan batas-batas nasionalisme (nation-state) buatan kolonial Sykes-Picot. Akibatnya, tentara Muslim yang seharusnya menjadi perisai bagi seluruh darah dan kehormatan umat Islam, justru dilumpuhkan oleh loyalitas sempit kepada oligarki kekuasaan. 

Mereka membelanjakan miliaran dolar untuk alutsista Barat bukan untuk membebaskan Palestina atau membela kaum terlindas, melainkan untuk bertikai dalam perang saudara antar-sesama Muslim yang disulut oleh proxy kekuatan imperialis.

Kedua, Kapitalisme Global Menjadikan Umat Konsumen Pasif. Sistem kapitalisme global menempatkan negeri-negeri Muslim sekadar sebagai konsumen teknologi dan pasokan bahan mentah. Rezim Arab Saudi terjebak dalam dependency syndrome (sindrom ketergantungan) teknologis. 

Mereka membeli senjata tanpa transfer teknologi yang sejati, sehingga ketika serangan terjadi, mereka gagap dan sangat bergantung pada teknisi serta persetujuan politik negara produsen.

Kapitalisasi perang ini memastikan bahwa negeri-negeri Muslim tetap lemah, tidak mandiri secara industri pertahanan, dan terus menjadi pasar abadi bagi pedagang senjata Barat. Allah SWT secara tegas melarang:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin/pelindung dengan meninggalkan orang-orang beriman." (TQS. An-Nisa' [4]: 144)

Ketergantungan pada sekutu Barat yang membela zionis adalah bentuk pelanggaran nyata terhadap perintah Allah SWT ini, yang hasilnya hanyalah kehinaan dan kekalahan bertubi-tubi.

Reformasi doktrin pertahanan tidak cukup hanya dengan membeli teknologi AI (Artificial Intelligence) baru atau menambal sistem Integrated Air and Missile Defense (IAMD) sebagaimana direkomendasikan para pengamat sekular. Solusi tunduk pada resep Barat hanya akan memperpanjang siklus ketergantungan.

Solusi fundamental dan hakiki wajib dikembalikan pada institusi politik Islam, yaitu Khilafah Islamiyyah. Pilar Utama Kemandirian Militer Islam:

Pertama, Penyatuan Komando dan Penghapusan Sekat Nasionalisme. Dalam Islam, militer tidak dikotak-kotakkan oleh batas negara buatan kolonial. Seluruh kekuatan tempur umat dipersatukan untuk menegakkan keadilan dan melindungi tumpah darah Muslim di mana pun mereka berada.

Kedua, Kemandirian Industri Militer Berat. Negara wajib membangun industri berat secara mandiri (self-sufficiency) untuk memproduksi alutsista sendiri, sehingga tidak dapat didikte atau dilumpuhkan oleh embargo asing. Allah SWT berfirman:

"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan yang menggentarkan musuh Allah dan musuhmu..." (TQS. Al-Anfal [8]: 60)
   
Ketiga, Doktrin Pertahanan Berbasis Jihad dan Iman. Ketangguhan militer bukan hanya ditentukan oleh canggihnya tombol kendali, melainkan pada keimanan personelnya. Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya Al-Imam (Khalifah) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR. Muslim)

Tragedi bobolnya pertahanan Saudi harus menjadi momentum kesadaran politik global: bahwa tanpa penerapan Syariat Islam secara kaffah dan tanpa kemandirian militer yang hakiki, kekayaan melimpah hanya akan menjadi bancakan imperialis dan kedaulatan hanyalah fatamorgana di atas padang pasir. Wallaahu a’lam bishshawwab.

Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd.
(Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan)

Opini

×
Berita Terbaru Update