TintaSiyasi.id -- Para Bapak AI dunia, Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton, memperingatkan bahwa ledakan kecerdasan akan dipicu ketika AI mampu meriset dan memperbaiki dirinya sendiri secara rekursif, sehingga kemampuannya melonjak eksponensial setara jutaan ahli dan berisiko lepas kendali, karenanya mereka mendesak regulasi keselamatan yang ketat sebelum disalahgunakan untuk merugikan manusia. (CNN.com, 30 September 2026)
Perkembangan AI memang membawa banyak manfaat, namun sisi gelapnya sangatlah serius dalam penyebaran informasi, di mana ancaman utamanya adalah teknologi deepfake yang mampu menghasilkan gambar, video, dan teks palsu yang sangat realistis sehingga seseorang bisa ditampilkan dalam situasi yang tidak pernah terjadi, yang berisiko merusak reputasi, memicu konflik sosial, memanipulasi opini publik, melanggar privasi, dan menjadi senjata propaganda sosial yang sulit dibedakan dari kenyataan. (Metrotvnews, 21 April 2026)
Tak dipungkiri bahwa perkembangan teknologi AI bisa memberi kemudahan besar karena mampu mengotomatisasi riset hingga jutaan kali lebih cepat dari manusia, namun di sisi lain ada bahaya serius yang ditimbulkan yaitu ketika ledakan kecerdasan di mana AI yang bisa mengembangkan dirinya sendiri secara rekursif akan melonjak tanpa kendali, serta menjadi senjata manipulasi informasi lewat deepfake dan hoaks yang diproduksi masif, cepat, dan murah untuk propaganda politik, sehingga jika jatuh ke tangan yang salah potensinya bisa mematikan dan mengaburkan batas fakta-fiksi.
Penggunaan AI memang bisa untuk kebaikan seperti mempercepat riset medis, pendidikan, dan kemudahan hidup manusia, namun di sisi lain sangat mungkin digunakan untuk kejahatan seperti menciptakan deepfake untuk menipu, menyebar hoaks dan propaganda masif, melancarkan serangan siber, mengembangkan senjata otonom, hingga melakukan pengawasan dan manipulasi opini secara sistematis.
Terlebih lagi ketika ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa beresiko pada kehancuran kehidupan manusia, karena ketika AI dibiarkan berkembang hanya berdasar hawa nafsu, dan ambisi kekuasaan tanpa nilai halal-haram, ia akan menjadi alat penindasan, manipulasi, pembunuhan massal, dan perusak tatanan moral yang justru menjerumuskan manusia pada kerusakan di bumi, bukan pada kemaslahatan.
Padahal manusia diberikan kemuliaan akal oleh Allah SWT bukan sekadar untuk bertahan hidup, melainkan sebagai amanah agung untuk merenungi, memahami, dan menyingkap tanda-tanda kekuasaan Allah di langit, bumi, dan seluruh ciptaan-Nya, serta dengan akal yang dituntun wahyu itu manusia menjalankan peran mulianya sebagai khalifah fil ardhi, yaitu mengelola, memakmurkan, dan menegakkan keadilan di bumi sesuai syariat-Nya, bukan merusaknya.
Islam telah menetapkan hukum yang tegas dalam memilah segala bentuk hasil pemikiran dan produk manusia menjadi dua kategori, yaitu hadharah yang terikat dan dipengaruhi oleh akidah serta ideologi tertentu sehingga wajib diseleksi dengan akidah Islam, dan madaniyah yang bersifat netral berupa sains, teknologi, dan benda-benda fisik yang boleh diambil dan dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan syariat.
AI pada hakikatnya adalah buah dari perkembangan teknologi buatan manusia, namun ia bukanlah alat yang netral sepenuhnya, karena dalam prosesnya AI sangat dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran, dan ideologi yang dimasukkan serta diproses oleh pembuatnya, sehingga setiap keputusan, jawaban, dan rekomendasi yang dihasilkannya sejatinya mencerminkan bias nilai dan kepentingan ideologi di baliknya.
Maka ketika AI di tangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan ketundukan penuh pada syariat Islam maka bisa dipastikan akan memberikan kemaslahatan besar bagi manusia, karena ia akan diarahkan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemakmuran sesuai tuntunan Allah, tetapi sebaliknya ketika AI di tangan manusia kafir yang hanya tunduk pada ambisi materi, kekuasaan, dan hawa nafsu pasti akan mendatangkan bahaya, penindasan, dan kerusakan besar bagi kehidupan umat manusia.
Oleh karena itu sistem kehidupan manusia harus diatur sepenuhnya dengan syariat Islam agar selamat, karena hanya dengan hukum Allah yang sempurna dan paripurna lah manusia akan terhindar dari kezaliman, kerusakan, dan kesengsaraan akibat aturan buatan manusia, serta dapat meraih keadilan, kesejahteraan, dan keselamatan sejati di dunia dan akhirat.
Saatnya umat Islam harus kembali pada kemuliaan akal yang dituntun akidah untuk membedakan hadharah dan madaniyah, memastikan teknologi berada di tangan orang beriman yang tunduk pada syariat, karena hanya dengan sistem kehidupan yang diatur total oleh syariat Islam lah umat dan seluruh manusia akan selamat dari kehancuran dan meraih kemuliaan yang hakiki.
Wallahu a’lam bishshawab.[]
Oleh: Nurfitri
Aktivis Muslimah