TintaSiyasi.id -- Kementerian Pendidikan Palestina, pada Rabu, 7 Oktober 2026 merilis data: sebanyak 20.748 pelajar Palestina dan 1.058 tenaga pendidikan serta administrasi tewas di Jalur Gaza dan Tepi Barat selama tiga tahun berlangsungnya konflik. Di Jalur Gaza, sebanyak 19.189 pelajar sekolah dan 1.386 mahasiswa tercatat tewas, sementara di Tepi Barat 134 pelajar sekolah dan 39 mahasiswa tewas.
Tak hanya di Gaza, agresi juga meluas di Tepi Barat. Laporan mencatat 1.210 syuhada gugur, 13.350 orang mengalami luka-luka, dan 24.600 lebih warga Palestina ditangkap oleh penjajah Israel (Ntvnews.id, 8/10/2026).
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti genosida yang terstruktur. Pelajar dan sekolah yang seharusnya dilindungi dalam konvensi perang justru menjadi sasaran serangan. Ini kejahatan perang yang nyata.
Serangan brutal Zionis Israel sejatinya dirancang untuk genosida demi merampas tanah Palestina, di mana sekolah-sekolah dihancurkan dan darah 20.748 pelajar ditumpahkan agar akar perjuangan bangsa itu tercabut. Setelah jiwa-jiwa itu hilang, tanahnya yang berdarah kemudian dijarah dan dibangun permukiman penjajah di atasnya. Inilah wajah asli paradigma perang negara kafir, perang yang lahir dari kerakusan untuk menjajah, bukan dari kemuliaan untuk membebaskan.
Mirisnya, para pemimpin negara adidaya, lembaga internasional seperti PBB, dan penguasa negeri-negeri Muslim tak berdaya dan gagal menghentikan kejahatan tersebut. Resolusi dikutuk, kecaman dilontarkan, tetapi pembantaian tetap berjalan. Dunia menyaksikan 20 ribu pelajar dibunuh tanpa mampu menghentikan satu bom pun. Ini bukti kebobrokan sistem internasional yang berasas nasionalisme dan kepentingan, di mana negara adidaya melindungi Israel dengan veto dan senjata, PBB lumpuh tanpa kekuatan eksekusi, dan penguasa negeri Muslim terkotak oleh sekat nation-state sehingga tak berani mengerahkan tentara untuk membela Palestina.
Dunia butuh kekuatan global baru yang mampu membebaskan Palestina. Kekuatan yang tidak tunduk pada veto Amerika dan tidak disetir kepentingan kapitalisme.
Islam memiliki paradigma perang yang sangat berbeda. Perang (jihad) dalam sistem Khilafah adalah untuk membebaskan manusia dari kekufuran dan kezaliman menuju cahaya Islam, bukan untuk penjajahan apalagi genosida. Apabila perang negara kafir membunuh manusianya untuk merampas tanahnya, maka jihad justru melindungi manusianya dan menghancurkan kezaliman yang menindasnya. Jihad wajib dilakukan untuk melawan penjajahan dan membela kehormatan kaum muslimin yang terjajah.
Syariat Islam terkait perang sangat mulia dan melindungi warga sipil, perempuan, anak-anak, dan lansia. Rasulullah Saw., melarang keras membunuh mereka yang tidak ikut berperang, sebagaimana sabda beliau: "Jangan kalian membunuh orang tua renta, anak kecil, dan perempuan" (HR. Abu Dawud No. 2614). Rasulullah Saw., juga melarang merusak tempat ibadah dan tanaman. Inilah kemuliaan Islam yang tidak dimiliki ideologi manapun.
Menegakkan Khilafah sebagai kekuatan global umat Islam sangat penting untuk menghentikan kejahatan perang Zionis Israel dan negara-negara kafir. Hal ini karena hanya Khilafah yang memiliki prasyarat yang tidak dimiliki sistem saat ini. Pertama adalah akidah yang memerintahkan, di mana jihad untuk membebaskan Palestina adalah kewajiban syariat, bukan pilihan politik, sehingga Khalifah wajib mengerahkan tentara untuk menolong, bukan sekadar mengecam.
Kedua adalah kekuatan militer yang terpusat, di mana saat ini tentara negeri-negeri Muslim terpecah oleh sekat nation-state dan terbelenggu perjanjian dengan Amerika sehingga lumpuh. Khilafah akan menyatukan seluruh potensi militer umat di bawah satu komando untuk membebaskan Palestina.
Ketiga adalah kedaulatan ideologi yang independen, di mana selama masih tunduk pada sistem internasional PBB, setiap upaya akan selalu diveto oleh Amerika. Khilafah adalah negara berdaulat penuh dengan syariat Islam, tidak tunduk pada veto siapa pun, sehingga mampu secara nyata mengirim pasukan, mencabut entitas penjajah, dan mengadili penjahat perang.
Khilafah menjalankan misi dakwah untuk menebar rahmat bagi umat manusia seluruh dunia. Khilafah tidak hanya dibutuhkan oleh umat Islam, tetapi urgen untuk membangun peradaban manusia yang mulia, di mana nyawa pelajar tidak lagi menjadi angka genosida, teapi menjadi generasi penjaga peradaban.
Mafrukhah
Aktivis Muslimah