TintaSiyasi.id -- Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat. Teknologi ini telah digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, industri hingga komunikasi. Kehadiran AI memang memberikan banyak kemudahan bagi manusia. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat potensi bahaya yang perlu diwaspadai.
Para peneliti kecerdasan buatan (AI), termasuk salah satu tokoh yang dikenal sebagai “Bapak AI” dunia, kembali memperingatkan pemerintah agar bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya “ledakan kecerdasan” AI. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika kemampuan AI berkembang dengan sangat cepat dan melampaui kemampuan manusia dalam berbagai bidang.
Perkembangan tersebut sebenarnya dapat memberikan dampak positif, misalnya membantu penelitian medis, mempercepat penemuan teknologi baru, serta menyelesaikan berbagai persoalan yang sulit dilakukan manusia. Namun, perkembangan AI yang tidak terkendali juga membawa sejumlah risiko.
Setidaknya terdapat tiga risiko besar yang perlu diperhatikan. Pertama, AI dapat meningkatkan ancaman biologis dan siber. Kedua, semakin canggihnya AI dapat mengurangi kendali dan keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan. Ketiga, AI berpotensi digunakan dalam persaingan dan perang antarnegara sehingga dapat memperbesar dampak konflik.
Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu membawa kebaikan. Teknologi dapat menjadi sarana untuk memberikan kemudahan dan menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk melakukan kejahatan jika berada di tangan orang atau pihak yang memiliki kepentingan buruk.
Pada dasarnya, manusia telah diberikan akal oleh Allah Swt. sebagai salah satu bentuk kemuliaan. Dengan akalnya, manusia dapat memahami tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. sekaligus menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, kemampuan manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya diarahkan untuk kemaslahatan, bukan untuk menciptakan kerusakan.
Dalam pandangan Islam, hasil pemikiran manusia dapat berkaitan dengan hadarah maupun madaniyah. Hadarah berkaitan dengan pemikiran dan pandangan hidup yang dipengaruhi oleh ideologi tertentu, sedangkan madaniyah merupakan bentuk kemajuan material yang bersifat netral. Karena itu, teknologi tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari manusia yang menciptakan dan menggunakannya.
AI merupakan salah satu hasil perkembangan teknologi buatan manusia. AI bekerja dengan memproses berbagai informasi, data, pemikiran, dan instruksi yang diberikan kepadanya. Dengan demikian, arah pemanfaatannya sangat bergantung pada manusia dan sistem yang mengaturnya.
AI dapat memberikan manfaat besar ketika digunakan untuk membantu manusia dalam bidang kesehatan, pendidikan, penelitian, dan berbagai kebutuhan lainnya. Namun, AI juga dapat digunakan untuk kejahatan, seperti serangan siber, manipulasi informasi, pengembangan senjata, maupun tindakan lain yang membahayakan kehidupan manusia.
Karena itu, kecanggihan teknologi tidak cukup hanya disertai kemampuan manusia dalam mengembangkan dan mengendalikannya. Perkembangan tersebut juga membutuhkan landasan nilai yang benar. Dalam pandangan Islam, akidah dan syariat menjadi landasan dalam mengarahkan seluruh aktivitas manusia, termasuk dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
AI yang dikembangkan dan digunakan oleh manusia yang memiliki akidah yang kokoh serta tunduk kepada syariat Islam diharapkan dapat diarahkan untuk memberikan kemaslahatan. Sebaliknya, ketika teknologi dikembangkan hanya berdasarkan kepentingan material, kekuasaan, atau keuntungan, potensi penyalahgunaannya dapat semakin besar.
Oleh karena itu, persoalan AI bukan sekadar persoalan kecanggihan teknologi. Yang lebih penting adalah siapa yang mengembangkan, mengendalikan, dan menentukan arah penggunaannya. Kecanggihan tanpa aturan yang benar justru dapat menjadi ancaman bagi manusia.
Islam telah memberikan aturan dalam berbagai aspek kehidupan agar manusia tidak menggunakan akalnya secara bebas tanpa batas. Dengan menjadikan syariat Allah Swt. sebagai landasan dalam mengatur kehidupan, termasuk dalam perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan dapat diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan.
Pada akhirnya, perkembangan AI harus ditempatkan sebagai sarana, bukan sebagai penguasa kehidupan manusia. Manusia tetap harus menjadi pihak yang bertanggung jawab atas penggunaannya. Dengan akidah yang benar dan penerapan syariat Islam dalam kehidupan, kemajuan teknologi diharapkan dapat menjadi sarana untuk menjalankan amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi, bukan menjadi jalan menuju kehancuran.[]
Yosi E. Purwanti, S.E.
Aktivis Muslimah