Perkembangan kecerdasan buatan (AI) melesat tak terbendung. Para peneliti AI termasuk Bapak AI dunia di jurnal Cambridge Programme on AI Science and Policy mewanti-wanti pemerintah waspada ledakan kecerdasan akibat otomatisasi riset AI oleh AI itu sendiri yang memampatkan kemajuan bertahun-tahun menjadi bulanan.
Di satu sisi AI menawarkan harapan besar seperti diagnosis medis lebih cepat dan analisis keuangan presisi tinggi. Namun di sisi lain ledakan ini menyimpan tiga risiko besar yaitu ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali manusia, serta ancaman perang antarnegara yang menggunakan AI sebagai senjata (cnnindonesia.com 29/09/2026).
Fenomena ini menegaskan AI memberi kemudahan sekaligus bahaya. Kemudahan itu nyata seperti efisiensi kerja, akses pendidikan dan dakwah, serta keamanan digital. Namun kemudahan ini tidak netral karena bergantung pada siapa yang mengendalikan dan untuk tujuan apa.
Di sisi lain bahaya AI jauh lebih besar jika lepas dari kendali akidah. Ancaman siber dapat melumpuhkan negara, hilangnya kendali ketika AI mengembangkan dirinya sendiri akan menggusur peran manusia, serta perlombaan senjata otonom memicu perang.
Belum lagi manipulasi deepfake dan konten pornografi AI yang merusak moral. Ini bukti ledakan kecerdasan tanpa syariat justru menjerumuskan manusia pada kehancuran.
Dalam Islam manusia dimuliakan Allah dengan akal untuk tafakur, sebagaimana firman-Nya:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal..." (QS. Ali Imran: 190-191).
Akal adalah amanah untuk membuat kita makin beriman dan tawadhu, bukan untuk sombong merasa paling hebat hingga merasa tidak butuh Allah dan syariat-Nya. Sombong inilah yang membuat AI kebablasan, padahal secanggih apapun AI, ia tetap produk akal yang terbatas di hadapan Allah.
Dengan akal itu manusia diberi amanah sebagai khalifah fil ardhi:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. Al-Baqarah: 30).
Peran khalifah adalah mengelola bumi sesuai syariat untuk kemaslahatan, bukan merusaknya. Maka AI harus diarahkan menjaga nyawa, akal, dan kehormatan manusia, bukan jadi alat membunuh dan menipu.
Islam menegaskan tidak semua karya manusia itu netral, ada hadarah yaitu pemikiran dan aturan yang terikat aqidah, dan ada madaniyah yaitu sains dan teknologi yang netral. AI pada dasarnya adalah madaniyah berupa algoritma yang mubah dikuasai.
Namun, penerapannya tidak lepas dari hadarah, karena data dan tujuan yang ditanamkan dipengaruhi aqidah pembuatnya, sehingga jika dikendalikan oleh manusia yang aqidahnya batil maka AI akan menghasilkan keputusan yang bertentangan dengan syariat Islam.
AI adalah buah teknologi buatan manusia, namun dipengaruhi informasi, pemikiran dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. Maka AI di tangan manusia berakidah kokoh dan tunduk pada syariat akan memberi kemaslahatan. Sebaliknya, AI di tangan manusia yang aqidahnya batil akan mendatangkan bahaya dan kerusakan.
Sistem kehidupan manusia harus diatur syariat Islam agar selamat karena akal manusia terbatas dan tidak mampu buat aturan adil. Ketika diatur sistem buatan manusia, aturannya pasti cacat karena lahir dari hawa nafsu. Inilah yang terjadi hari ini, AI di tangan sistem batil justru jadi alat penjajahan, senjata otonom, dan sarana hoaks.
Syariat Islam adalah aturan dari Allah Sang Pencipta manusia dan teknologi, sehingga pasti membawa keselamatan. Islam kaffah mengatur seluruh sistem kehidupan, sehingga negara wajib hadir sebagai raa'in yang memastikan AI hanya untuk kemaslahatan dan keselamatan umat. Dengan Islam kaffah, manusia selamat di dunia dari kehancuran teknologi dan selamat di akhirat karena teknologinya dipakai untuk ibadah.
Dengan Islam kaffah, AI akan jadi rahmat bukan ancaman, dan akal tetap tunduk sebagai hamba Allah, bukan merasa paling hebat hingga menghancurkan manusia itu sendiri.[]
Oleh: Mafrukhah
(Aktivis Muslimah)