TintaSiyasi.id -- Dunia hari ini tengah bergetar di ambang tubir kehancuran. Berbagai laporan geopolitik, gelombang inflasi yang kian mencekik, ancaman kelaparan massal, hingga ketegangan militer nuklir yang memicu bayang-bayang Perang Dunia Ketiga bukanlah isapan jempol belaka. Di tengah hiruk-pikuk disrupsi global ini, kajian mendalam yang disampaikan oleh Buya Uzma membuka tabir kesadaran umat bahwa apa yang sedang terjadi di muka bumi bukan sekadar siklus ekonomi biasa. Ini adalah manifestasi nyata dari tanda-tanda akhir zaman yang telah dinubuatkan oleh Rasulullah SAW belasan abad silam (CeritaUntungs, 11-10-2026).
Dunia terperosok ke dalam kekacauan multidimensional diakibatkan dominasi sistem sekularisme dan kapitalisme global.
Sekularisasi telah sukses menyingkirkan nilai-nilai agama dari ruang publik, politik, dan ekonomi, melahirkan manusia-manusia yang materialistis, hedonis, dan kehilangan kompas moral. Di atas fondasi sekuler inilah sistem kapitalisme mencengkeram erat urat nadi dunia. Kapitalisme global memuja akumulasi kekayaan di tangan segelintir elit (oligarki dunia), sementara mayoritas umat manusia dipaksa menanggung beban krisis pangan, eksploitasi sumber daya alam secara brutal, dan ketimpangan sosial yang ekstrem.
Ketika sistem rusak ini berpadu dengan ambisi geopolitik hegemon global, terjadilah perampokan kekayaan alam, manipulasi pasar keuangan, dan perang proksi demi mempertahankan kekuasaan. Manusia modern telah disetir untuk melupakan Tuhan, menjadikan materi sebagai tuhan-tuhan kecil, sehingga ketika goncangan krisis melanda, umat runtuh secara mental, panik, dan kehilangan arah karena tidak memiliki sandaran transendental.
Rentetan krisis hari ini adalah pengantar menuju fase-fase dahsyat akhir zaman. Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah mengingatkan umatnya melalui pelbagai hadis tentang fenomena mengerikan yang akan terjadi, mulai dari krisis ekonomi terparah hingga musibah kosmik dan geologis.
Allah SWT telah memperingatkan:
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS. Ar-Rum: 41)
Kerusakan ekologis, kelaparan, dan ketakutan global adalah buah pahit dari sistem buatan manusia yang menolak petunjuk Allah. Lebih jauh lagi, tanda-tanda akhir zaman yang dashyat seperti khasaf (penenggelaman bumi), maskh (perubahan rupa), dan qadzf (serangan dari angkasa/meteor) adalah peringatan keras bahwa peradaban manusia telah sampai pada batas akhir toleransi kemaksiatan global.
Menghadapi kompleksitas krisis global dan ancaman akhir zaman, Islam mrmberikan solusi tuntas bersifat komprehensif, mencakup dimensi spiritual, intelektual, maupun praktis:
Pertana, Ilmu sebagai Panduan Utama (Rule Model). Umat Islam diperintahkan untuk tidak hidup dalam kebingungan dan ketakutan (overthinking). Bekal utama menghadapi fitnah akhir zaman adalah mempelajari sunnah dan hadis-hadis akhir zaman agar memiliki peta jalan yang jelas. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka ia akan dipahamkan dalam urusan agama." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan ilmu, umat memiliki ketenangan mental karena memahami bahwa seluruh huru-hara ini berada dalam skenario Allah SWT.
Kedua, Penguatan Iman dan Ketakwaan. Mental yang tangguh lahir dari tauhid yang kokoh. Keyakinan bahwa rezeki, ajal, dan pertolongan berada di tangan Allah memberikan imunitas psikologis terhadap kepanikan duniawi.
Ketiga, Persiapan Praktis Berbasis Syariah. Selain tawakal, Islam mengajarkan ikhtiar yang rasional. Langkah taktis seperti mengamankan aset riil melalui kepemilikan emas dan menjaga ketahanan pangan keluarga (stok makanan) adalah bentuk ihtiyar yang sejalan dengan manajemen krisis Islam. Sebagaimana teladan Nabi Yusuf AS dalam menghadapi krisis pangan global selama 7 tahun paceklik (sebagaimana diabadikan dalam QS. Yusuf: 47-48), perencanaan strategis dan mitigasi bencana adalah bagian integral dari ikhtiar bertawakal.
Krisis global hari ini harus dibaca oleh umat Islam bukan sebagai akhir dari segalanya, namun sebagai sarana untuk mengembalikan kedaulatan aturan Allah di muka bumi, serta momentum untuk memperkuat keimanan, solidaritas, dan kemandirian umat menyongsong ketetapan-Nya.
Wallaahu a’lam bishshawwab
Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd.
Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan