Menurutnya, rekam jejak penindasan sistematis terhadap muslim
Uighur di Turkestan Timur (Xinjiang) oleh pemerintah Tiongkok sudah terang
benderang. “Wahai umat Islam! Permusuhan para penguasa Tiongkok terhadap Islam
di Turkestan Timur telah berlangsung selama berabad-abad dan saudara-saudari
kita telah melawan tirani itu selama beberapa dekade. Namun, para penguasa negeri-negeri
muslim tidak pernah mendukung muslim Uighur,” imbuhnya.
Ia mengecam para penguasa di negeri-negeri muslim yang
dinilai menutup mata atas penderitaan warga Uighur demi kepentingan
kolonialisme ekonomi dan pinjaman berbasis bunga (riba) dari bank-bank
Tiongkok. “Beberapa pemerintah negeri muslim bahkan dituding membantu Tiongkok
menangkap dan mengekstradisi pengungsi Uighur yang mencari perlindungan. Sikap
pasif ini dinilai ironis mengingat negeri-negeri muslim memegang kontrol atas
cadangan minyak dunia dan jalur maritim vital Tiongkok,” terangnya.
Angkatan laut negara-negara seperti Indonesia, Bangladesh,
Pakistan, Turki, dan Mesir, serta kekuatan darat Bangladesh, Pakistan,
Afghanistan, dan Iran dianggap olehnya memiliki kapasitas geopolitik untuk
memblokir jalur pasokan Tiongkok. “Sebagai solusi utama, Khilafah Rasyidah
merupakan satu-satunya sarana efektif untuk melindungi kaum tertindas dan
menghentikan perang terhadap Islam di Turkestan Timur. Ingatlah ketegasan
Panglima Qutayba bin Muslim saat menghadapi penindas muslim di Baykand maupun
penguasa Tiongkok kuno! Wahai militer umat Islam! Dengarlah seruan ini,”
tegasnya.
Rekam Jejak
Ia menyampaikan, kritik terbuka Amerika Serikat terhadap
pelanggaran hak asasi manusia oleh Tiongkok dilakukan untuk mempermalukan
Beijing secara diplomatik, meskipun AS sendiri dinilai memiliki rekam jejak
penindasan terhadap umat Islam. “Secara historis, wilayah Turkestan Timur
ditaklukkan oleh pasukan Kekhalifahan Umayyah di bawah pimpinan Panglima
Qutayba bin Muslim hingga mencapai Kashgar pada 95 Hijriah. Wilayah ini
berkembang pesat menjadi pusat peradaban Islam setelah Sultan Satuq Bughra Khan
dari Dinasti Qarakhanid memeluk Islam pada 232 Hijriah, yang disusul
penerjemahan Al-Qur’an serta pendirian 300 masjid di Kota Kashgar saja,”
paparnya.
Namun, lanjutnya, seiring melemahnya dominasi Kekhalifahan,
penguasa Manchu Tiongkok melancarkan pertempuran berdarah pada 1759 yang
mengakibatkan gugurnya lebih dari satu juta muslim. “Meskipun kaum muslim
sempat mengusir pendudukan Manchu pada 1863, pasukan Tiongkok kembali menguasai
wilayah tersebut pada 1876, mengubah namanya menjadi Xinjiang (Perbatasan Baru),
lalu secara resmi menganeksasinya pada 18 November 1884,” tambahnya.
Ia mengungkap, sejak Partai Komunis Tiongkok berkuasa dan
menduduki Turkestan Timur pada 1949, perlawanan rakyat setempat diredam melalui
pembantaian massal. “Sebelumnya, rakyat Turkestan Timur sempat dua kali
memproklamasikan kemerdekaan, yaitu pada 1933 dan 1944. Di bawah kendali rezim
Komunis, wilayah tersebut dibagi ke dalam 450 kamp kerja paksa tempat 98%
populasi muslim—yang mayoritas merupakan petani dan pekerja—dipaksa bekerja.
Dengan dalih slogan anti-agama, Tiongkok tercatat menutup 28.000 masjid, 18.000
sekolah Islam, membakar 730.000 buku, dan manuskrip keagamaan,” bebernya,
Bahkan, ujarnya, pemerintah Tiongkok juga menggelar 45 uji
coba nuklir di Pangkalan Lop Nur dari 6 Oktober 1964 hingga 29 Juli 1996, yang
menyebarkan radiasi berbahaya serta memicu tingginya kasus kanker di kalangan
penduduk setempat. “Sepanjang periode 1949 hingga 1968, terjadi sekitar 45 kali
pemberontakan rakyat muslim, yang berujung pada eksekusi mati sedikitnya
360.000 jiwa oleh rezim Komunis,” tuntasnya. [] Ika Mawarningtyas
