“Penerimaan Jeffrey Anderson mengonfirmasi kesetiaan Tunisia
kepada Amerika sebagai musuh Islam dan kaum muslim. Kami memperingatkan
konsekuensi dan bencana besar akan hal ini,” ucapnya dalam siaran pers, Kamis
(17-9-2026).
Ia menilai penerimaan terhadap pimpinan militer AS tersebut
sebagai bentuk pengulangan kebijakan yang mengabaikan besarnya dampak negatif
bagi kedaulatan negara. “Kami memperingatkan bahaya dari sikap pemerintah yang
terus menganggap ekspansi militer AS sebagai bentuk ‘kemitraan’ atau ‘persahabatan’.
Laju kehadiran militer Amerika Serikat di Tunisia menunjukkan peningkatan
signifikan sejak penandatanganan status Sekutu Utama Non-NATO (Major Non-NATO
Ally/MNNA) 2015,” imbuhnya.
Ia menyampaikan, indikasi peningkatan ini terlihat dari
intensitas program pelatihan bersama hingga pembukaan tender ekspansi fasilitas
militer di Bizerte. “Fasilitas yang dikenal sebagai ‘Pusat Keunggulan Maritim’ tersebut
mencakup pembangunan pelabuhan untuk kapal perang serta landasan pendaratan
helikopter. Kami khawatir Tunisia secara bertahap dijadikan sebagai basis
belakang (rear base) untuk operasi AFRICOM di wilayah Afrika Utara dan
Mediterania dengan dalih penanggulangan terorisme serta penanganan migrasi illegal,”
bebernya.
Menurutnya, menyerahkan wilayah negara dan membuat
kesepakatan militer atau keamanan dengan Amerika Serikat merupakan tindakan
kerja sama dengan pihak yang dilarang dalam ajaran Islam. Ia mengutip sabda Rasulullah
Muhammad saw. sebagai berikut, “Sesungguhnya kami tidak meminta bantuan kaum
musyrik untuk melawan kaum musyrik.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Ia juga merujuk firman Allah Swt. dalam Surah An-Nisa ayat
141, “Dan Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir atas
orang-orang beriman.”
Dalam seruannya kepada rakyat Tunisia, ia menyatakan, kerja
sama militer dengan negara-negara Barat tidak memberikan manfaat selain
kehancuran, sebagaimana yang mereka nilai terjadi pada negara-negara Teluk dan
Yordania dalam keterlibatan konflik kawasan. “Kami menyeru kepada masyarakat
untuk menuntut pembatalan seluruh perjanjian militer dan mengakhiri keberadaan
pasukan asing di Tunisia. Sehingga, Tunisia bisa menjadi pionir pembebasan
Palestina dan Masjid Al-Aqsa,” tuntasnya. [] Ika Mawarningtyas
.png)