TintaSiyasi.id -- Di media sosial warganet ramai curhat terpaksa downgrade gaya hidup atau beralih ke barang dan jasa yang jauh lebih murah demi bisa terus bertahan hidup. Ini bukan lagi cerita segelintir orang, tapi jeritan kolektif kelas menengah. Jika dulu krisis membuat rakyat mantap (makan tabungan), kini tabungan itu sudah ludes. Yang tersisa adalah maut (makan utang), gali pinjol tutup paylater, gali paylater tutup kartu kredit. (Republika.co.id, 10 Oktober 2026)
Ekonom Yusuf Wibisono menyebut downgrade adalah tanda pelemahan daya beli kelas menengah yang kini lebih pilih fungsi daripada gengsi. Padahal kelas menengah adalah penopang konsumsi, tapi jumlahnya turun dari 60,8 juta pada 2018 menjadi 46,7 juta pada 2025, sementara kelompok rentan miskin naik dari 68,5% menjadi 74,5%. Jika dibiarkan, ini berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi dan target Indonesia Emas 2045. (Republika.co.id, 07/10/2026)
Dari data di atas menunjukkan bahwa downgrade bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan indikator runtuhnya kelas menengah akibat kemiskinan struktural yang diciptakan oleh sistem sekuler kapitalisme. Ketika penopang konsumsi negara turun 14 juta orang dalam 7 tahun dan kelompok rentan miskin membengkak hingga hampir tiga perempat populasi, itu artinya sistem sekuler kapitalisme gagal menyejahterakan. Ia hanya berhasil menciptakan gengsi, tapi gagal menciptakan kesejahteraan yang merata.
Downgrade adalah dampak langsung dari kebijakan efisiensi pemerintah, kenaikan harga kebutuhan pokok, kebijakan perpajakan yang mencekik seperti PPN 12%, hingga gelombang PHK. Politik ekonomi kapitalisme sekuler inilah yang menghasilkan krisis finansial dan ancaman kemiskinan yang meluas.
Politik ekonomi kapitalisme sekuler pada hakikatnya menghasilkan krisis finansial dan ancaman kemiskinan yang meluas. Ketika pertumbuhan hanya ditopang oleh konsumsi yang didorong gengsi dan utang, bukan oleh produksi dan kesejahteraan riil, maka pelemahan sedikit saja langsung menjatuhkan kelas menengah. Fenomena downgrade dari mobil ke motor dan dari kafe ke warung bukanlah gaya hidup minimalis, melainkan gejala krisis, saat fungsi dipaksa menggantikan gengsi karena kemampuan ekonomi rakyat terus tergerus.
Hal ini terjadi karena negara dalam sistem kapitalisme sekuler berlepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Negara hanya berperan sebagai regulator pasar, bukan penjamin kebutuhan dasar. Pendidikan, kesehatan, pangan, dan energi dilepas ke mekanisme pasar yang mahal dan timpang. Akibatnya, ketika kelas menengah turun dari 60,8 juta menjadi 46,7 juta dan kelompok rentan miskin naik hingga 74,5%, negara tidak hadir dengan jaminan, melainkan hanya dengan imbauan untuk berhemat.
Ketika rakyat mantab, negara diam, namun ketika rakyat maut dan terjerat riba pinjol, negara justru melegalkan pinjol tersebut sebagai solusi. Inilah kezaliman yang sempurna.
Islam memiliki paradigma yang sangat berbeda. Paradigma gaya hidup Islam adalah prioritas, bukan gengsi, namun Islam mengajarkan hidup sederhana (zuhud) bukan karena miskin, tapi karena mengutamakan kebutuhan berdasarkan prioritas syariat, bukan memenuhi semua keinginan. Prinsipnya memenuhi kebutuhan (hajat), bukan memuaskan keinginan (hawa nafsu). Sehingga tidak ada istilah fomo atau gengsi yang dipaksakan industri.
Negara di dalam Islam wajib menyediakan lapangan kerja dan menghapus beban pajak yang zalim. Negara tidak boleh menyerahkan lapangan kerja kepada swasta dan asing. Negara harus mengelola sda milik umum (tambang, laut, hutan) secara mandiri melalui Baitul Mal dan hasilnya digunakan untuk membangun industri berat yang menyerap jutaan tenaga kerja. Dan Islam tidak membebani rakyat dengan pajak yang mencekik. Pajak dalam Islam hanya dipungut dalam kondisi kas negara kosong dan hanya kepada yang kaya.
Negara Islam atau Khilafah akan menjamin kebutuhan dasar secara langsung, nilah yang tidak ada di sistem kapitalisme. Khilafah wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara cuma-cuma atau dengan harga sangat murah. Jika jaminan ini ada, tidak akan ada tekanan finansial massal yang memaksa rakyat mantab apalagi maut.
Khilafah berfungsi sebagai raa'in. Rasulullah Saw. bersabda, "Imam adalah raa'in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR. Bukhari Muslim).
Fungsi raa'in adalah melayani rakyat secara keseluruhan, mencari yang miskin dan menjaminnya, bukan menunggu rakyat melapor dan mengajukan bantuan melalui aplikasi.
Sungguh fenomena downgrade dari mantab ke maut adalah alarm keras bahwa sistem kapitalisme sekuler telah gagal total menjaga kesejahteraan. Selama kita masih berharap pada sistem yang sama, maka mode bertahan hidup pun akan terus dianggap sebagai prestasi.
Walhasil, solusinya tidak hanya mengganti gaya hidup dari gengsi ke fungsi, tapi mengganti sistem yang merusak itu dengan sistem Islam yang menjamin kesejahteraan hakiki.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Yeni
Aktivis Muslimah