TintaSiyasi.id -- Panggung politik Eropa kembali menampilkan gelombang permusuhan terbuka terhadap Islam. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, secara resmi meluncurkan kebijakan kontroversial yang melarang penggunaan penutup wajah seperti cadar (niqab dan burqa) di lingkungan sekolah. Kebijakan restriktif ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dibungkus dalam retorika integrasi palsu yang kental dengan nuansa xenofobia (NgajiShubuh, 05/10/2026).
Di balik jargon perlindungan hak perempuan dan kesetaraan gender yang didengungkan pemerintah kanan-tengah Italia, langkah ini adalah manuver politik elektoral murahan. Meloni dan kelompok sayap kanan sengaja memanfaatkan isu Islamofobia untuk meraup suara mayoritas kelompok konservatif-nasionalis, dengan cara mengorbankan hak asasi, keyakinan agama, dan kehormatan para mahasiswi serta pelajar Muslimah yang memilih taat pada ajaran agamanya.
Akar Masalah: Sekularisasi Liberal dan Kapitalisasi Isu Identitas
Simbol-simbol kehormatan perempuan Muslim selalu menjadi sasaran tembak penguasa sekuler di Barat, dikarenakan berakar pada dua penyakit utama peradaban liberal: Sekularisasi Liberal dan Kapitalisasi Politik Identitas.
Pertama, Sekularisasi Liberal (Standar Ganda Kebebasan). Sistem sekuler mengagung-ngagungkan kebebasan individu di atas segalanya, namun kebebasan tersebut seketika dicabut ketika berhadapan dengan identitas Islam. Paham sekuler-liberal memandang ketaatan agama di ruang publik sebagai ancaman terhadap hegemoni budaya mereka. Akibatnya, pakaian kehormatan seperti niqab dan burqa distigmatisasi secara sistematis, sementara bentuk kebebasan vulgar di ruang publik justru diagung-agungkan atas nama hak asasi manusia.
Kedua, Kapitalisasi Politik Elektoral. Dalam sistem demokrasi kapitalis, kekuasaan diperoleh melalui komodifikasi isu. Ketakutan terhadap kaum imigran dan Islam (xenofobia) sengaja dipelihara dan dikapitalisasi oleh para politisi busuk untuk mengalihkan perhatian rakyat dari krisis ekonomi, kegagalan domestik, dan borok struktural negara. Islam dijadikan musuh bersama (common enemy) demi mendulang suara dalam bursa pemilu.
Allah SWT telah menegaskan sebagaimana firmanNya:
"Telah nyata kebencian dari mulut mereka, apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (TQS. Ali 'Imran: 118)
Solusi Islam: Menjaga Kemuliaan Wanita dan Perlindungan Institusi Global
Islam memandang kehormatan, penutup aurat, dan identitas muslimah bukan sebagai alat politik, melainkan sebagai bentuk ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta yang wajib dilindungi harga dirinya.
Pertama, Syariat Islam Menjaga Kehormatan dan Kemuliaan Wanita. Islam memandang, menutup aurat secara sempurna adalah bentuk perlindungan (wifayah) terhadap kehormatan wanita dari pandangan liar dan eksploitasi komersial. Islam memuliakan perempuan dengan menempatkan mereka pada posisi yang terhormat, bukan dengan mengeksploitasi tubuh mereka demi kepentingan industri atau politik seperti yang dilakukan sistem sekuler.
Kedua, Perlindungan Hakiki Melalui Kekuatan Negara (Khilafah). Penindasan terhadap Muslimah di belahan dunia mana pun, termasuk pelarangan niqab di Italia, menunjukkan kelemahan umat Islam hari ini yang kehilangan perisai politik global. Islam mewajibkan adanya kekuatan negara (Khilafah) yang bertindak sebagai pelindung utama bagi setiap darah, harta, dan kehormatan kaum Muslimin dari kezaliman penguasa tiran di dunia. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya." (HR. Muslim)
Kebijakan biadab melarang niqab di sekolah-sekolah Eropa membuktikan bahwa sekularisme gagal total memberikan keadilan hakiki. Sudah saatnya umat Islam sadar bahwa perlindungan harkat dan martabat kemanusiaan hanya akan terwujud tatkala aturan Allah ditegakkan secara menyeluruh di muka bumi.
Wallaahu a’lam bishshawwab
Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd.
(Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan)