“Pernyataan seperti, ‘Saya belum memiliki alasan yang cukup
untuk menyimpulkan keberadaan Tuhan’ merupakan laporan ketidaktahuan pribadi
(personal ignorance) yang wajar sebagai bentuk kerendahan hati epistemic,”
ucapnya. Menurut HILMI, untuk menyatakan sesuatu tidak mungkin diketahui secara
universal, seseorang memerlukan argumen filosofis yang jauh lebih kuat daripada
sekadar belum menemukan jawabannya.
Hilmi memaparkan sejumlah argumen logika untuk menguji
konsistensi agnostisisme kuat. “Problem self-reference adalah klaim
realitas transenden tidak dapat dijangkau mengandung paradoks internal. Untuk
mengetahui bahwa sesuatu tidak dapat diketahui (to know that X is unknowable),
seseorang sebenarnya harus mengetahui hal yang cukup signifikan mengenai objek
tersebut serta batas kognitif manusia,” paparnya.
Menurutnya, tidak terlihat bukan berarti tidak dapat
diketahui. “Agnostisisme sering mengasumsikan bahwa Tuhan harus diamati secara
empiris di laboratorium. Namun, pengetahuan manusia tidak hanya bergantung pada
observasi langsung, melainkan juga pada inferensi rasional (inference to the
best explanation), sebagaimana ilmuwan memahami atom, planet, atau pikiran
manusia lain,” jelasnya.
Ia mengulas dua kekeliruan metodologis yang kerap melandasi
pandangan agnostik. Pertama, tuntutan kepastian absolut yakni menuntut bukti
100 persen sebelum meyakini keberadaan Tuhan dinilai sebagai standar epistemik
yang keliru. Dalam sains maupun filsafat, ketiadaan kepastian mutlak tidak
berarti ketiadaan pengetahuan (absence of certainty ≠ absence of knowledge).
Kedua, pluralitas agama adalah banyaknya agama yang saling
berbeda pendapat (disagreement) tidak membuktikan bahwa kebenaran tidak dapat diketahui
(unknowability). Sebagaimana sejarah perbedaan pendapat dalam ilmu pengetahuan,
keragaman klaim agama seharusnya menjadi dorongan untuk membandingkan
bukti-bukti rasional, bukan alasan untuk menghentikan pencarian.
Dari sisi metafisika, HILMI menilai agnostisisme kuat
terlalu menitikberatkan masalah pada kemampuan manusia menuju Tuhan, namun
mengabaikan kemungkinan bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia
melalui wahyu. Ketidakmampuan manusia mencapai Tuhan secara mandiri tidak
meniadakan kemampuan Tuhan untuk berkomunikasi dengan manusia.
“Dalam perspektif tauhid, ditegaskan adanya perbedaan
mendasar antara incomprehensibility (ketidakmampuan memahami hakikat zat
Allah secara menyeluruh) dan unknowability (ketidakmampuan mengetahui
keberadaan-Nya). Keterbatasan akal manusia tidak menghalangi rasionalitas untuk
mengenali Sang Pencipta melalui tanda-tanda alam semesta, penalaran, dan
kebenaran wahyu,” tuntasnya. [] Ika Mawarningtyas
.png)