Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Inilah Kekeliruan Rasional Agnostisisme

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:12 WIB Last Updated 2026-10-12T23:12:16Z


TintaSiyasi.id — Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyoroti kerangka rasionalitas di balik sikap agnostik dan mengkritik pergeseran agnostisisme dari ketidaktahuan pribadi menjadi klaim universal bahwa Tuhan mustahil diketahui oleh manusia. Dalam rilis, Letter to Intellectuals No. 025 bertajuk "Bukti Rasional Kekeliruan Agnostisisme: Ketika Kerendahan Hati Epistemik Berubah Menjadi Klaim bahwa Tuhan Tak Dapat Diketahui", HILMI menekankan bahwa kritik terhadap agnostisisme perlu dilakukan secara cermat.

 

“Pernyataan seperti, ‘Saya belum memiliki alasan yang cukup untuk menyimpulkan keberadaan Tuhan’ merupakan laporan ketidaktahuan pribadi (personal ignorance) yang wajar sebagai bentuk kerendahan hati epistemic,” ucapnya. Menurut HILMI, untuk menyatakan sesuatu tidak mungkin diketahui secara universal, seseorang memerlukan argumen filosofis yang jauh lebih kuat daripada sekadar belum menemukan jawabannya.

 

Hilmi memaparkan sejumlah argumen logika untuk menguji konsistensi agnostisisme kuat. “Problem self-reference adalah klaim realitas transenden tidak dapat dijangkau mengandung paradoks internal. Untuk mengetahui bahwa sesuatu tidak dapat diketahui (to know that X is unknowable), seseorang sebenarnya harus mengetahui hal yang cukup signifikan mengenai objek tersebut serta batas kognitif manusia,” paparnya.

 

Menurutnya, tidak terlihat bukan berarti tidak dapat diketahui. “Agnostisisme sering mengasumsikan bahwa Tuhan harus diamati secara empiris di laboratorium. Namun, pengetahuan manusia tidak hanya bergantung pada observasi langsung, melainkan juga pada inferensi rasional (inference to the best explanation), sebagaimana ilmuwan memahami atom, planet, atau pikiran manusia lain,” jelasnya.

 

Ia mengulas dua kekeliruan metodologis yang kerap melandasi pandangan agnostik. Pertama, tuntutan kepastian absolut yakni menuntut bukti 100 persen sebelum meyakini keberadaan Tuhan dinilai sebagai standar epistemik yang keliru. Dalam sains maupun filsafat, ketiadaan kepastian mutlak tidak berarti ketiadaan pengetahuan (absence of certainty ≠ absence of knowledge).

 

Kedua, pluralitas agama adalah banyaknya agama yang saling berbeda pendapat (disagreement) tidak membuktikan bahwa kebenaran tidak dapat diketahui (unknowability). Sebagaimana sejarah perbedaan pendapat dalam ilmu pengetahuan, keragaman klaim agama seharusnya menjadi dorongan untuk membandingkan bukti-bukti rasional, bukan alasan untuk menghentikan pencarian.

 

Dari sisi metafisika, HILMI menilai agnostisisme kuat terlalu menitikberatkan masalah pada kemampuan manusia menuju Tuhan, namun mengabaikan kemungkinan bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia melalui wahyu. Ketidakmampuan manusia mencapai Tuhan secara mandiri tidak meniadakan kemampuan Tuhan untuk berkomunikasi dengan manusia.

 

“Dalam perspektif tauhid, ditegaskan adanya perbedaan mendasar antara incomprehensibility (ketidakmampuan memahami hakikat zat Allah secara menyeluruh) dan unknowability (ketidakmampuan mengetahui keberadaan-Nya). Keterbatasan akal manusia tidak menghalangi rasionalitas untuk mengenali Sang Pencipta melalui tanda-tanda alam semesta, penalaran, dan kebenaran wahyu,” tuntasnya. [] Ika Mawarningtyas

 

 

Opini

×
Berita Terbaru Update