Surah Ad-Duha merupakan salah satu surah Al-Qur’an yang
sarat dengan kasih sayang Allah, penguatan spiritual, dan kabar gembira bagi
Rasulullah Muhammad SAW. Surah ini mengajarkan bahwa ketika kehidupan terasa
sunyi, pertolongan belum tampak, dan manusia menghadapi kesedihan, seorang
mukmin tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah SWT.
Pada permulaan surah ini, Allah bersumpah dengan dua tanda
kebesaran-Nya: waktu duha dan malam ketika suasananya menjadi tenang. Setelah
itu, Allah menegaskan bahwa Dia tidak meninggalkan Rasulullah SAW dan tidak
membencinya. Allah juga menyampaikan janji bahwa kehidupan akhirat lebih baik
bagi beliau daripada kehidupan dunia, serta bahwa Allah akan memberikan karunia
hingga beliau merasa puas.
Pesan utamanya sangat mendalam: kesunyian bukan berarti
ditinggalkan Allah, ujian bukan berarti kebencian Allah, dan tertundanya
pertolongan bukan berarti hilangnya kasih sayang-Nya.
Ada satu hal penting yang perlu dipahami. Sumpah Allah dalam
Al-Qur’an bukan sumpah untuk meyakinkan diri-Nya sendiri, melainkan bagian dari
cara Allah menegaskan kebenaran suatu pesan kepada manusia, sesuai dengan
hikmah dan kehendak-Nya.
1. Teks dan makna QS. Ad-Duha ayat 1–5
وَٱلضُّحَىٰ
Ayat 1 — Demi waktu duha
“Demi waktu duha (ketika matahari
naik sepenggalah).”
Waktu duha menghadirkan cahaya setelah gelapnya malam.
Sumpah ini membuka surah dengan gambaran cahaya, harapan, dan datangnya
kehidupan.
وَٱلَّيۡلِ إِذَا سَجَىٰ
Ayat 2 — Demi malam ketika sunyi
“Dan demi malam apabila telah
sunyi.”
Malam menggambarkan ketenangan dan keheningan. Dalam konteks
surah ini, malam dan duha menjadi dua tanda kebesaran Allah yang mengingatkan
manusia bahwa perubahan suasana merupakan bagian dari ketetapan-Nya.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
Ayat 3 — Allah tidak meninggalkan Rasul-Nya
“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau
(Muhammad) dan tidak pula membencimu.”
Inilah inti penghiburan Ilahi. Keadaan yang tampak sunyi
tidak berarti terputusnya wahyu atau berakhirnya pemeliharaan Allah terhadap
Rasul-Nya.
وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ
Ayat 4 — Akhirat lebih baik
Terjemahan makna
“Dan sungguh, yang kemudian itu
lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
Ayat ini menegaskan kemuliaan yang Allah sediakan bagi
Rasulullah SAW. Ia juga mengarahkan pandangan manusia agar tidak mengukur
keberhasilan hanya dari keadaan sesaat di dunia.
وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ
Ayat 5 — Janji karunia hingga ridha
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti
memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas.”
Ayat ini mengandung janji agung tentang pemberian Allah
kepada Rasul-Nya. Para mufasir membahas cakupannya dalam kaitan dengan
kemuliaan Rasulullah, pertolongan Allah, dan karunia yang dianugerahkan
kepadanya.
Ayat 1–5 membentuk rangkaian yang indah: sumpah dengan
tanda-tanda kebesaran Allah, penegasan kasih sayang-Nya, orientasi kepada
akhirat, dan janji karunia.
2. Asbabun nuzul: latar belakang turunnya Surah Ad-Duha
Dalam riwayat yang dibahas oleh Imam Ibnu Katsir, dari
sahabat Jundub bin Abdullah, Rasulullah SAW pernah mengalami sakit sehingga
tidak melaksanakan salat malam selama satu atau dua malam. Kemudian, seorang
perempuan melontarkan ucapan yang menyakitkan, seolah-olah setan yang biasa
datang kepadanya telah meninggalkannya. Lalu turunlah ayat-ayat awal Surah
Ad-Duha sebagai peneguhan dari Allah SWT.
Keterangan ini memperlihatkan konteks yang penting:
Rasulullah SAW menghadapi bukan hanya beratnya tugas kenabian, tetapi juga
ucapan orang-orang yang berusaha melemahkan beliau.
Namun, perlu dicatat bahwa rincian riwayat mengenai sebab
turunnya surah ini memiliki beberapa versi. Karena itu, penjelasan hendaknya
berpegang pada riwayat yang dinilai kuat oleh para ahli hadis, tanpa memastikan
setiap detail dari semua versi sebagai fakta yang tidak diperselisihkan.
Hikmah dari peristiwa tersebut
• Terhentinya suatu keadaan bukan
berarti berakhirnya pertolongan Allah. Jeda turunnya wahyu tidak berarti
Rasulullah SAW ditinggalkan oleh Allah.
• Jangan menjadikan perkataan
manusia sebagai ukuran hubungan seseorang dengan Allah. Ucapan yang menyakitkan
tidak dapat membatalkan janji dan ketetapan-Nya.
• Rasulullah SAW pun mengalami
kesedihan dan ujian. Hal ini mengajarkan umatnya bahwa kesulitan tidak otomatis
menunjukkan kelemahan iman.
• Wahyu menjadi sumber keteguhan
hati. Allah meneguhkan Rasul-Nya dengan firman yang kebenarannya melampaui
penilaian manusia.
3. Penjelasan beberapa tafsir QS. Ad-Duha ayat 1–5
A. Tafsir Ath-Thabari
Fokus: makna sumpah dan penegasan pesan Ilahi
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah bersumpah dengan
waktu duha. Dalam penafsiran maknanya, terdapat keterangan yang memahaminya
sebagai waktu tertentu pada siang hari, dan ada pula yang memaknainya sebagai
rentang siang hari.
Hikmahnya: Allah mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda
kebesaran-Nya. Cahaya siang dan ketenangan malam bukan sesuatu yang terjadi di
luar pengetahuan serta kekuasaan-Nya.
Pada ayat ketiga, inti pesannya adalah penolakan terhadap
anggapan bahwa Allah telah meninggalkan Rasul-Nya. Jeda wahyu tidak boleh
ditafsirkan sebagai kebencian Allah terhadap Nabi Muhammad SAW.
B. Tafsir Ibnu Katsir
Fokus: sebab turunnya surah, penghiburan, dan karunia
akhirat
Ibnu Katsir menghubungkan awal surah dengan riwayat mengenai
jeda turunnya wahyu dan ucapan yang menyakitkan kepada Rasulullah SAW. Ia juga
menjelaskan bahwa janji Allah pada ayat kelima mencakup pemberian karunia yang
membuat Rasulullah ridha, terutama kemuliaan di akhirat dan berbagai anugerah
yang Allah siapkan bagi beliau.
Hikmahnya: Allah mengetahui keadaan Rasul-Nya, bahkan ketika
manusia salah memahami keadaan tersebut. Penghiburan Allah tidak berhenti pada
penyangkalan terhadap tuduhan, tetapi dilanjutkan dengan janji masa depan yang
penuh kemuliaan.
C. Tafsir As-Sa'di
Fokus: kasih sayang Allah dan harapan terhadap masa depan
Dalam corak tafsirnya yang menonjolkan makna pendidikan dan
tadabur, Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menempatkan ayat-ayat ini dalam
rangkaian pemeliharaan Allah terhadap Rasul-Nya: Allah tidak meninggalkan
beliau, kehidupan akhirat lebih baik baginya, dan karunia Allah akan terus
diberikan hingga beliau ridha.
Hikmahnya: Seorang mukmin perlu menilai kehidupan dengan
pandangan yang lebih luas daripada pengalaman hari ini. Kesulitan sesaat tidak
boleh dijadikan kesimpulan mtlak tentang masa depan, sementara harapan harus
tetap berpijak pada iman dan petunjuk Allah.
Ketiga corak penafsiran tersebut saling melengkapi:
Ath-Thabari memberi perhatian pada penjelasan makna dan riwayat, Ibnu Katsir
menghimpun riwayat serta penjelasan tentang karunia Allah, sedangkan pendekatan
As-Sa'di menonjolkan pelajaran keimanan dan pembinaan jiwa. Perbedaan penekanan
bukan berarti ketiganya bertentangan.
4. Mengapa Allah bersumpah dengan waktu duha dan malam?
Allah berfirman dalam ayat pertama dan kedua dengan sumpah
atas waktu duha dan malam yang sunyi. Kedua fenomena ini memiliki makna yang
dapat direnungkan dalam konteks pesan surah tersebut.
Pertama, duha melambangkan cahaya yang tampak
Setelah malam, datanglah siang. Cahaya matahari menyinari
bumi dan memperlihatkan jalan. Dalam tadabur, ini mengingatkan kita bahwa masa
sulit tidak harus menjadi akhir perjalanan. Pertolongan dan jalan keluar dapat
datang pada waktu yang tidak kita duga.
Kedua, malam mengajarkan ketenangan
Malam merupakan bagian dari keteraturan ciptaan Allah. Tidak
semua waktu dipenuhi aktivitas yang terlihat. Dalam kehidupan seorang mukmin,
ada masa bekerja, ada masa beristirahat, dan ada masa menanti dengan sabar.
Kita perlu membedakan antara makna tafsir dan renungan
pribadi. Al-Qur’an secara langsung menyebut duha dan malam sebagai objek sumpah
Allah. Adapun pemaknaan keduanya sebagai simbol harapan dan kesabaran merupakan
pelajaran reflektif yang selaras dengan pesan surah, bukan pengganti makna ayat
yang dijelaskan para mufasir.
5. Ayat ketiga: Allah tidak meninggalkan dan tidak membenci
Rasulullah SAW
QS. Ad-Duha ayat 3:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau
(Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.”
Ayat ini merupakan pusat penghiburan dalam rangkaian ayat
1–5. Allah menggunakan penegasan yang jelas untuk membantah dua tuduhan: bahwa
Rasulullah telah ditinggalkan dan bahwa Allah membencinya.
Menurut penjelasan Tafsir Kementerian Agama, tidak turunnya
wahyu selama beberapa waktu bukanlah tanda bahwa Allah membenci Nabi Muhammad
SAW atau membiarkannya sendirian dalam menyampaikan risalah.
Tiga pelajaran ruhani
1. Jangan mengukur kasih sayang Allah hanya dengan keadaan
lahiriah.
Manusia sering merasa dekat kepada Allah ketika urusannya
lancar, tetapi merasa jauh ketika menghadapi kesulitan. Surah Ad-Duha
mengajarkan agar penilaian terhadap hubungan dengan Allah tidak semata-mata
didasarkan pada perubahan keadaan.
2. Jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa doa tidak
didengar.
Kita boleh bersedih, menangis, dan mengakui kelemahan.
Namun, kita tidak semestinya memastikan bahwa Allah telah meninggalkan kita
hanya karena suatu permohonan belum terwujud.
3. Tetaplah menjalankan amanah ketika pertolongan belum
tampak.
Rasulullah SAW tetaplah seorang nabi dan rasul yang membawa
risalah Allah. Bagi umatnya, pelajaran ini berarti tetap menjaga salat,
kejujuran, tanggung jawab, dakwah, dan amal saleh ketika keadaan belum sesuai
dengan harapan.
Catatan penting: ayat ini secara khusus berbicara tentang Rasulullah
SAW. Penerapannya kepada kehidupan kita merupakan pengambilan hikmah dari pesan
ayat, bukan berarti setiap orang dapat memastikan bahwa semua keinginannya akan
terpenuhi sesuai waktu dan bentuk yang ia kehendaki.
6. Ayat keempat: Akhirat lebih baik daripada dunia
Terjemahan QS. Ad-Duha ayat 4:
وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ
“Dan sungguh, yang kemudian itu
lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan
keutamaan kehidupan akhirat dan pahala yang Allah sediakan bagi Rasulullah SAW.
Kehidupan akhirat bersifat kekal, sedangkan kehidupan dunia terbatas.
Ayat ini mengajarkan sebuah paradigma kehidupan:
keberhasilan tidak hanya dinilai dari kekayaan, jabatan, popularitas, atau
penghargaan manusia, tetapi juga dari kedekatan kepada Allah dan keselamatan di
akhirat.
Relevansi bagi kehidupan modern
• Dalam pendidikan: menuntut ilmu
bukan semata-mata untuk memperoleh gelar, tetapi untuk membangun pribadi
berilmu, berakhlak, dan bermanfaat.
• Dalam dakwah: keberhasilan tidak
hanya diukur dari banyaknya pengikut, tetapi juga dari keikhlasan, kebenaran
pesan, dan manfaat yang dihasilkan.
• Dalam entrepreneurship: keuntungan
penting, tetapi harus dicari melalui cara yang halal, amanah, adil, dan membawa
keberkahan.
• Dalam kehidupan keluarga:
kebahagiaan bukan hanya terpenuhinya kebutuhan materi, melainkan juga tumbuhnya
iman, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Orientasi akhirat tidak berarti meninggalkan urusan dunia.
Justru, dunia menjadi ladang amal untuk meraih ridha Allah.
7. Ayat kelima: Janji Allah memberikan karunia hingga
Rasul-Nya ridha
Terjemahan QS. Ad-Duha ayat 5:
وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti
memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas.”
Ayat ini memiliki kedudukan istimewa karena mengandung janji
pemberian Allah kepada Rasulullah SAW. Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dalam
kaitannya dengan kemuliaan yang disiapkan bagi Nabi di akhirat dan karunia
Allah terhadap beliau serta umatnya.
Apa makna “hingga engkau ridha”?
Dalam konteks langsungnya, janji tersebut ditujukan kepada
Rasulullah SAW. Para ulama menjelaskan cakupannya melalui berbagai bentuk
karunia, termasuk kemuliaan di akhirat dan kenikmatan surga.
Sebagian penjelasan ulama juga menghubungkannya dengan
perhatian Rasulullah terhadap umatnya. Akan tetapi, ayat ini tidak seharusnya
dipersempit menjadi satu bentuk pemberian saja, seolah-olah seluruh cakupan
janji Ilahi telah habis dijelaskan oleh satu penafsiran.
Bagi umat Islam, ayat ini menumbuhkan harapan kepada
keluasan rahmat Allah. Kita mencintai Rasulullah SAW, mengikuti sunnahnya, dan
memohon kepada Allah agar dianugerahi iman, ampunan, rahmat, serta keselamatan
di akhirat.
Harapan yang benar bukanlah tuntutan agar Allah mengikuti
keinginan kita, melainkan keyakinan bahwa karunia dan hikmah-Nya jauh lebih
luas daripada pengetahuan kita.
8. Hubungan ayat 1–5: Dari sumpah menuju kabar gembira
Ayat 1–2
Sumpah dengan waktu duha dan malam
Tanda-tanda kebesaran Allah
Ayat 3
Peneguhan kasih sayang Alla
Rasulullah tidak ditinggalkan dan tidak dibenci
Ayat 4
Orientasi kepada akhirat
Kehidupan akhirat lebih baik
Ayat 5
Janji karunia Allah
Harapan dan kemuliaan bagi Rasulullah SAW
Susunan ini memperlihatkan bahwa Allah tidak hanya membantah
tuduhan yang menyakitkan, tetapi juga mengarahkan perhatian Rasulullah kepada
masa depan yang lebih mulia. Peneguhan hati disertai janji, dan janji itu
menumbuhkan harapan.
9. Implementasi dalam kehidupan: Meneladani pesan Surah
Ad-Duha
1. Ketika menghadapi kesulitan, perkuat hubungan dengan Allah.
Jaga salat, perbanyak doa, baca Al-Qur’an, dan lakukan muhasabah tanpa berputus
asa.
2. Ketika mengalami keterlambatan hasil, tetaplah
berikhtiar. Evaluasi langkah, perbaiki strategi, mintalah nasihat, dan
bersabarlah tanpa mengabaikan tanggung jawab.
3. Ketika menerima ucapan yang menyakitkan, jaga kemuliaan
akhlak. Tidak semua tuduhan perlu dibalas dengan kemarahan. Jawablah dengan
kebenaran dan kebijaksanaan.
4. Ketika mendapatkan nikmat, bersyukurlah. Gunakan ilmu,
harta, kedudukan, dan kemampuan untuk beribadah serta memberi manfaat kepada
orang lain.
5. Ketika mengharapkan masa depan yang lebih baik, arahkan
harapan kepada ridha Allah. Jangan hanya bertanya, “Apa yang akan saya
dapatkan?” tetapi juga, “Menjadi pribadi seperti apa saya di hadapan Allah?”
Perlu diingat, kita tidak boleh menggunakan Surah Ad-Duha
sebagai jaminan bahwa setiap masalah pasti selesai dengan cepat atau setiap
keinginan pasti terkabul di dunia. Pesan yang lebih mendasar adalah tetap
beriman, berharap kepada rahmat Allah, dan beramal saleh dalam menghadapi apa
pun yang telah ditetapkan-Nya.
10. Renungan dakwah: Ketika malam terasa Panjang
Ada masa ketika seseorang telah berdoa, tetapi jawaban yang
diharapkan belum tampak. Ada masa ketika ikhtiar telah dilakukan, tetapi
hasilnya belum datang. Ada pula saat ketika manusia merasa sendirian, tidak
dipahami, bahkan direndahkan oleh perkataan orang lain.
Dalam keadaan seperti itu, Surah Ad-Duha mengajak kita
berhenti sejenak dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah.
Malam tidak selamanya menjadi malam. Cahaya duha datang
menurut ketetapan Allah. Namun, pesan surah ini bukan sekadar bahwa setiap
kesedihan akan segera berganti kegembiraan. Pesannya lebih dalam: jangan
menjadikan kesulitan yang sedang dialami sebagai alasan untuk kehilangan iman,
harapan, dan arah hidup.
Rasulullah SAW menerima peneguhan langsung dari Allah
melalui wahyu. Kita sebagai umatnya memperoleh petunjuk melalui Al-Qur’an,
sunnah, doa, ilmu, dan bimbingan para ulama.
Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, jangan berhenti
berjalan menuju Allah. Perbaiki niat, luruskan ikhtiar, jaga akhlak, dan
serahkan hasil akhirnya kepada kebijaksanaan-Nya.
Dunia bukan ukuran terakhir kemuliaan. Yang paling penting
bukan sekadar seberapa cepat kita memperoleh sesuatu, melainkan apakah
perjalanan itu mendekatkan kita kepada Allah dan mempersiapkan kita untuk
kehidupan akhirat.
Doa dan penutup
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
teguhkanlah hati kami dengan iman kepada-Mu. Jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya
bagi hati, petunjuk bagi kehidupan, dan penuntun bagi langkah kami.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabat beliau. Anugerahkan kepada kami
kecintaan yang benar kepada Rasul-Mu, kemampuan mengikuti sunnahnya, akhlak
yang mulia, kesabaran ketika diuji, dan rasa syukur ketika menerima nikmat.
Ya Allah, jangan biarkan kesulitan menjadikan kami berputus
asa, jangan biarkan kelapangan menjadikan kami lalai, dan jangan biarkan pujian
manusia menjauhkan kami dari keikhlasan. Bimbinglah kami agar senantiasa
berikhtiar dalam kebaikan dan berharap kepada rahmat-Mu.
Karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di
akhirat, dan perlindungan dari azab neraka. Wafatkanlah kami dalam keadaan
beriman dan memperoleh ridha-Mu.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Kesimpulan: Sumpah Allah dalam Surah Ad-Duha ayat 1–5
meneguhkan bahwa Rasulullah SAW tidak ditinggalkan dan tidak dibenci oleh
Tuhannya. Ayat-ayat ini juga mengarahkan beliau kepada kemuliaan akhirat dan
menjanjikan karunia Allah. Bagi umat Islam, surah ini menjadi pelajaran untuk
menjaga iman, memelihara harapan, memperbaiki amal, dan menjadikan ridha Allah
sebagai tujuan utama kehidupan.
Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.
.png)