Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sumpah Allah untuk Rasulullah Muhammad SAW: Hikmah dan Penjelasan Tafsir Surah Ad-Duha Ayat 1–5

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:32 WIB Last Updated 2026-10-12T23:32:12Z


TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Ketika Allah Meneguhkan Hati Rasul-Nya

 

Surah Ad-Duha merupakan salah satu surah Al-Qur’an yang sarat dengan kasih sayang Allah, penguatan spiritual, dan kabar gembira bagi Rasulullah Muhammad SAW. Surah ini mengajarkan bahwa ketika kehidupan terasa sunyi, pertolongan belum tampak, dan manusia menghadapi kesedihan, seorang mukmin tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah SWT.

 

Pada permulaan surah ini, Allah bersumpah dengan dua tanda kebesaran-Nya: waktu duha dan malam ketika suasananya menjadi tenang. Setelah itu, Allah menegaskan bahwa Dia tidak meninggalkan Rasulullah SAW dan tidak membencinya. Allah juga menyampaikan janji bahwa kehidupan akhirat lebih baik bagi beliau daripada kehidupan dunia, serta bahwa Allah akan memberikan karunia hingga beliau merasa puas.

 

Pesan utamanya sangat mendalam: kesunyian bukan berarti ditinggalkan Allah, ujian bukan berarti kebencian Allah, dan tertundanya pertolongan bukan berarti hilangnya kasih sayang-Nya.

 

Ada satu hal penting yang perlu dipahami. Sumpah Allah dalam Al-Qur’an bukan sumpah untuk meyakinkan diri-Nya sendiri, melainkan bagian dari cara Allah menegaskan kebenaran suatu pesan kepada manusia, sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya.

 

1. Teks dan makna QS. Ad-Duha ayat 1–5

وَٱلضُّحَىٰ 

Ayat 1 — Demi waktu duha

“Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah).”

Waktu duha menghadirkan cahaya setelah gelapnya malam. Sumpah ini membuka surah dengan gambaran cahaya, harapan, dan datangnya kehidupan.

 

وَٱلَّيۡلِ إِذَا سَجَىٰ 

Ayat 2 — Demi malam ketika sunyi

“Dan demi malam apabila telah sunyi.”

Malam menggambarkan ketenangan dan keheningan. Dalam konteks surah ini, malam dan duha menjadi dua tanda kebesaran Allah yang mengingatkan manusia bahwa perubahan suasana merupakan bagian dari ketetapan-Nya.

 

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ 

Ayat 3 — Allah tidak meninggalkan Rasul-Nya

“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu.”

Inilah inti penghiburan Ilahi. Keadaan yang tampak sunyi tidak berarti terputusnya wahyu atau berakhirnya pemeliharaan Allah terhadap Rasul-Nya.

 

وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ 

Ayat 4 — Akhirat lebih baik

Terjemahan makna

“Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”

Ayat ini menegaskan kemuliaan yang Allah sediakan bagi Rasulullah SAW. Ia juga mengarahkan pandangan manusia agar tidak mengukur keberhasilan hanya dari keadaan sesaat di dunia.

 

 

وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ 

Ayat 5 — Janji karunia hingga ridha

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas.”

Ayat ini mengandung janji agung tentang pemberian Allah kepada Rasul-Nya. Para mufasir membahas cakupannya dalam kaitan dengan kemuliaan Rasulullah, pertolongan Allah, dan karunia yang dianugerahkan kepadanya.

Ayat 1–5 membentuk rangkaian yang indah: sumpah dengan tanda-tanda kebesaran Allah, penegasan kasih sayang-Nya, orientasi kepada akhirat, dan janji karunia.

 

 

2. Asbabun nuzul: latar belakang turunnya Surah Ad-Duha

Dalam riwayat yang dibahas oleh Imam Ibnu Katsir, dari sahabat Jundub bin Abdullah, Rasulullah SAW pernah mengalami sakit sehingga tidak melaksanakan salat malam selama satu atau dua malam. Kemudian, seorang perempuan melontarkan ucapan yang menyakitkan, seolah-olah setan yang biasa datang kepadanya telah meninggalkannya. Lalu turunlah ayat-ayat awal Surah Ad-Duha sebagai peneguhan dari Allah SWT.

 

Keterangan ini memperlihatkan konteks yang penting: Rasulullah SAW menghadapi bukan hanya beratnya tugas kenabian, tetapi juga ucapan orang-orang yang berusaha melemahkan beliau.

Namun, perlu dicatat bahwa rincian riwayat mengenai sebab turunnya surah ini memiliki beberapa versi. Karena itu, penjelasan hendaknya berpegang pada riwayat yang dinilai kuat oleh para ahli hadis, tanpa memastikan setiap detail dari semua versi sebagai fakta yang tidak diperselisihkan.

 

Hikmah dari peristiwa tersebut

 

• Terhentinya suatu keadaan bukan berarti berakhirnya pertolongan Allah. Jeda turunnya wahyu tidak berarti Rasulullah SAW ditinggalkan oleh Allah.

• Jangan menjadikan perkataan manusia sebagai ukuran hubungan seseorang dengan Allah. Ucapan yang menyakitkan tidak dapat membatalkan janji dan ketetapan-Nya.

• Rasulullah SAW pun mengalami kesedihan dan ujian. Hal ini mengajarkan umatnya bahwa kesulitan tidak otomatis menunjukkan kelemahan iman.

• Wahyu menjadi sumber keteguhan hati. Allah meneguhkan Rasul-Nya dengan firman yang kebenarannya melampaui penilaian manusia.

 

3. Penjelasan beberapa tafsir QS. Ad-Duha ayat 1–5

 

A. Tafsir Ath-Thabari

Fokus: makna sumpah dan penegasan pesan Ilahi

 

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah bersumpah dengan waktu duha. Dalam penafsiran maknanya, terdapat keterangan yang memahaminya sebagai waktu tertentu pada siang hari, dan ada pula yang memaknainya sebagai rentang siang hari.

 

Hikmahnya: Allah mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya. Cahaya siang dan ketenangan malam bukan sesuatu yang terjadi di luar pengetahuan serta kekuasaan-Nya.

 

Pada ayat ketiga, inti pesannya adalah penolakan terhadap anggapan bahwa Allah telah meninggalkan Rasul-Nya. Jeda wahyu tidak boleh ditafsirkan sebagai kebencian Allah terhadap Nabi Muhammad SAW.

 

B. Tafsir Ibnu Katsir

 

Fokus: sebab turunnya surah, penghiburan, dan karunia akhirat

Ibnu Katsir menghubungkan awal surah dengan riwayat mengenai jeda turunnya wahyu dan ucapan yang menyakitkan kepada Rasulullah SAW. Ia juga menjelaskan bahwa janji Allah pada ayat kelima mencakup pemberian karunia yang membuat Rasulullah ridha, terutama kemuliaan di akhirat dan berbagai anugerah yang Allah siapkan bagi beliau.

 

Hikmahnya: Allah mengetahui keadaan Rasul-Nya, bahkan ketika manusia salah memahami keadaan tersebut. Penghiburan Allah tidak berhenti pada penyangkalan terhadap tuduhan, tetapi dilanjutkan dengan janji masa depan yang penuh kemuliaan.

 

C. Tafsir As-Sa'di

 

Fokus: kasih sayang Allah dan harapan terhadap masa depan

 

Dalam corak tafsirnya yang menonjolkan makna pendidikan dan tadabur, Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menempatkan ayat-ayat ini dalam rangkaian pemeliharaan Allah terhadap Rasul-Nya: Allah tidak meninggalkan beliau, kehidupan akhirat lebih baik baginya, dan karunia Allah akan terus diberikan hingga beliau ridha.

 

Hikmahnya: Seorang mukmin perlu menilai kehidupan dengan pandangan yang lebih luas daripada pengalaman hari ini. Kesulitan sesaat tidak boleh dijadikan kesimpulan mtlak tentang masa depan, sementara harapan harus tetap berpijak pada iman dan petunjuk Allah.

 

Ketiga corak penafsiran tersebut saling melengkapi: Ath-Thabari memberi perhatian pada penjelasan makna dan riwayat, Ibnu Katsir menghimpun riwayat serta penjelasan tentang karunia Allah, sedangkan pendekatan As-Sa'di menonjolkan pelajaran keimanan dan pembinaan jiwa. Perbedaan penekanan bukan berarti ketiganya bertentangan.

 

4. Mengapa Allah bersumpah dengan waktu duha dan malam?

 

Allah berfirman dalam ayat pertama dan kedua dengan sumpah atas waktu duha dan malam yang sunyi. Kedua fenomena ini memiliki makna yang dapat direnungkan dalam konteks pesan surah tersebut.

 

Pertama, duha melambangkan cahaya yang tampak

 

Setelah malam, datanglah siang. Cahaya matahari menyinari bumi dan memperlihatkan jalan. Dalam tadabur, ini mengingatkan kita bahwa masa sulit tidak harus menjadi akhir perjalanan. Pertolongan dan jalan keluar dapat datang pada waktu yang tidak kita duga.

 

Kedua, malam mengajarkan ketenangan

 

Malam merupakan bagian dari keteraturan ciptaan Allah. Tidak semua waktu dipenuhi aktivitas yang terlihat. Dalam kehidupan seorang mukmin, ada masa bekerja, ada masa beristirahat, dan ada masa menanti dengan sabar.

 

Kita perlu membedakan antara makna tafsir dan renungan pribadi. Al-Qur’an secara langsung menyebut duha dan malam sebagai objek sumpah Allah. Adapun pemaknaan keduanya sebagai simbol harapan dan kesabaran merupakan pelajaran reflektif yang selaras dengan pesan surah, bukan pengganti makna ayat yang dijelaskan para mufasir.

 

5. Ayat ketiga: Allah tidak meninggalkan dan tidak membenci Rasulullah SAW

 

QS. Ad-Duha ayat 3:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ 

“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.”

 

Ayat ini merupakan pusat penghiburan dalam rangkaian ayat 1–5. Allah menggunakan penegasan yang jelas untuk membantah dua tuduhan: bahwa Rasulullah telah ditinggalkan dan bahwa Allah membencinya.

 

Menurut penjelasan Tafsir Kementerian Agama, tidak turunnya wahyu selama beberapa waktu bukanlah tanda bahwa Allah membenci Nabi Muhammad SAW atau membiarkannya sendirian dalam menyampaikan risalah.

 

Tiga pelajaran ruhani

 

1. Jangan mengukur kasih sayang Allah hanya dengan keadaan lahiriah.

Manusia sering merasa dekat kepada Allah ketika urusannya lancar, tetapi merasa jauh ketika menghadapi kesulitan. Surah Ad-Duha mengajarkan agar penilaian terhadap hubungan dengan Allah tidak semata-mata didasarkan pada perubahan keadaan.

 

2. Jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa doa tidak didengar.

 

Kita boleh bersedih, menangis, dan mengakui kelemahan. Namun, kita tidak semestinya memastikan bahwa Allah telah meninggalkan kita hanya karena suatu permohonan belum terwujud.

 

3. Tetaplah menjalankan amanah ketika pertolongan belum tampak.

 

Rasulullah SAW tetaplah seorang nabi dan rasul yang membawa risalah Allah. Bagi umatnya, pelajaran ini berarti tetap menjaga salat, kejujuran, tanggung jawab, dakwah, dan amal saleh ketika keadaan belum sesuai dengan harapan.

 

Catatan penting: ayat ini secara khusus berbicara tentang Rasulullah SAW. Penerapannya kepada kehidupan kita merupakan pengambilan hikmah dari pesan ayat, bukan berarti setiap orang dapat memastikan bahwa semua keinginannya akan terpenuhi sesuai waktu dan bentuk yang ia kehendaki.

 

6. Ayat keempat: Akhirat lebih baik daripada dunia

Terjemahan QS. Ad-Duha ayat 4:

وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ 

“Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”

 

Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan keutamaan kehidupan akhirat dan pahala yang Allah sediakan bagi Rasulullah SAW. Kehidupan akhirat bersifat kekal, sedangkan kehidupan dunia terbatas.

 

Ayat ini mengajarkan sebuah paradigma kehidupan: keberhasilan tidak hanya dinilai dari kekayaan, jabatan, popularitas, atau penghargaan manusia, tetapi juga dari kedekatan kepada Allah dan keselamatan di akhirat.

 

Relevansi bagi kehidupan modern

 

• Dalam pendidikan: menuntut ilmu bukan semata-mata untuk memperoleh gelar, tetapi untuk membangun pribadi berilmu, berakhlak, dan bermanfaat.

• Dalam dakwah: keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya pengikut, tetapi juga dari keikhlasan, kebenaran pesan, dan manfaat yang dihasilkan.

• Dalam entrepreneurship: keuntungan penting, tetapi harus dicari melalui cara yang halal, amanah, adil, dan membawa keberkahan.

• Dalam kehidupan keluarga: kebahagiaan bukan hanya terpenuhinya kebutuhan materi, melainkan juga tumbuhnya iman, kasih sayang, dan tanggung jawab.

 

Orientasi akhirat tidak berarti meninggalkan urusan dunia. Justru, dunia menjadi ladang amal untuk meraih ridha Allah.

 

7. Ayat kelima: Janji Allah memberikan karunia hingga Rasul-Nya ridha

Terjemahan QS. Ad-Duha ayat 5:

وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ 

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas.”

 

Ayat ini memiliki kedudukan istimewa karena mengandung janji pemberian Allah kepada Rasulullah SAW. Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dalam kaitannya dengan kemuliaan yang disiapkan bagi Nabi di akhirat dan karunia Allah terhadap beliau serta umatnya.

 

Apa makna “hingga engkau ridha”?

 

Dalam konteks langsungnya, janji tersebut ditujukan kepada Rasulullah SAW. Para ulama menjelaskan cakupannya melalui berbagai bentuk karunia, termasuk kemuliaan di akhirat dan kenikmatan surga.

 

Sebagian penjelasan ulama juga menghubungkannya dengan perhatian Rasulullah terhadap umatnya. Akan tetapi, ayat ini tidak seharusnya dipersempit menjadi satu bentuk pemberian saja, seolah-olah seluruh cakupan janji Ilahi telah habis dijelaskan oleh satu penafsiran.

 

Bagi umat Islam, ayat ini menumbuhkan harapan kepada keluasan rahmat Allah. Kita mencintai Rasulullah SAW, mengikuti sunnahnya, dan memohon kepada Allah agar dianugerahi iman, ampunan, rahmat, serta keselamatan di akhirat.

 

Harapan yang benar bukanlah tuntutan agar Allah mengikuti keinginan kita, melainkan keyakinan bahwa karunia dan hikmah-Nya jauh lebih luas daripada pengetahuan kita.

 

8. Hubungan ayat 1–5: Dari sumpah menuju kabar gembira

Ayat 1–2

Sumpah dengan waktu duha dan malam

Tanda-tanda kebesaran Allah

 

Ayat 3

Peneguhan kasih sayang Alla

Rasulullah tidak ditinggalkan dan tidak dibenci

 

Ayat 4

Orientasi kepada akhirat

Kehidupan akhirat lebih baik

 

Ayat 5

Janji karunia Allah

Harapan dan kemuliaan bagi Rasulullah SAW

 

Susunan ini memperlihatkan bahwa Allah tidak hanya membantah tuduhan yang menyakitkan, tetapi juga mengarahkan perhatian Rasulullah kepada masa depan yang lebih mulia. Peneguhan hati disertai janji, dan janji itu menumbuhkan harapan.

 

9. Implementasi dalam kehidupan: Meneladani pesan Surah Ad-Duha

 

1. Ketika menghadapi kesulitan, perkuat hubungan dengan Allah. Jaga salat, perbanyak doa, baca Al-Qur’an, dan lakukan muhasabah tanpa berputus asa.

 

2. Ketika mengalami keterlambatan hasil, tetaplah berikhtiar. Evaluasi langkah, perbaiki strategi, mintalah nasihat, dan bersabarlah tanpa mengabaikan tanggung jawab.

 

3. Ketika menerima ucapan yang menyakitkan, jaga kemuliaan akhlak. Tidak semua tuduhan perlu dibalas dengan kemarahan. Jawablah dengan kebenaran dan kebijaksanaan.

 

4. Ketika mendapatkan nikmat, bersyukurlah. Gunakan ilmu, harta, kedudukan, dan kemampuan untuk beribadah serta memberi manfaat kepada orang lain.

 

5. Ketika mengharapkan masa depan yang lebih baik, arahkan harapan kepada ridha Allah. Jangan hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” tetapi juga, “Menjadi pribadi seperti apa saya di hadapan Allah?”

 

Perlu diingat, kita tidak boleh menggunakan Surah Ad-Duha sebagai jaminan bahwa setiap masalah pasti selesai dengan cepat atau setiap keinginan pasti terkabul di dunia. Pesan yang lebih mendasar adalah tetap beriman, berharap kepada rahmat Allah, dan beramal saleh dalam menghadapi apa pun yang telah ditetapkan-Nya.

 

10. Renungan dakwah: Ketika malam terasa Panjang

 

Ada masa ketika seseorang telah berdoa, tetapi jawaban yang diharapkan belum tampak. Ada masa ketika ikhtiar telah dilakukan, tetapi hasilnya belum datang. Ada pula saat ketika manusia merasa sendirian, tidak dipahami, bahkan direndahkan oleh perkataan orang lain.

 

Dalam keadaan seperti itu, Surah Ad-Duha mengajak kita berhenti sejenak dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah.

 

Malam tidak selamanya menjadi malam. Cahaya duha datang menurut ketetapan Allah. Namun, pesan surah ini bukan sekadar bahwa setiap kesedihan akan segera berganti kegembiraan. Pesannya lebih dalam: jangan menjadikan kesulitan yang sedang dialami sebagai alasan untuk kehilangan iman, harapan, dan arah hidup.

 

Rasulullah SAW menerima peneguhan langsung dari Allah melalui wahyu. Kita sebagai umatnya memperoleh petunjuk melalui Al-Qur’an, sunnah, doa, ilmu, dan bimbingan para ulama.

 

Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, jangan berhenti berjalan menuju Allah. Perbaiki niat, luruskan ikhtiar, jaga akhlak, dan serahkan hasil akhirnya kepada kebijaksanaan-Nya.

 

Dunia bukan ukuran terakhir kemuliaan. Yang paling penting bukan sekadar seberapa cepat kita memperoleh sesuatu, melainkan apakah perjalanan itu mendekatkan kita kepada Allah dan mempersiapkan kita untuk kehidupan akhirat.

 

Doa dan penutup

 

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, teguhkanlah hati kami dengan iman kepada-Mu. Jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya bagi hati, petunjuk bagi kehidupan, dan penuntun bagi langkah kami.

 

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabat beliau. Anugerahkan kepada kami kecintaan yang benar kepada Rasul-Mu, kemampuan mengikuti sunnahnya, akhlak yang mulia, kesabaran ketika diuji, dan rasa syukur ketika menerima nikmat.

 

Ya Allah, jangan biarkan kesulitan menjadikan kami berputus asa, jangan biarkan kelapangan menjadikan kami lalai, dan jangan biarkan pujian manusia menjauhkan kami dari keikhlasan. Bimbinglah kami agar senantiasa berikhtiar dalam kebaikan dan berharap kepada rahmat-Mu.

 

Karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan perlindungan dari azab neraka. Wafatkanlah kami dalam keadaan beriman dan memperoleh ridha-Mu.

 

Amin ya Rabbal ‘alamin.

 

Kesimpulan: Sumpah Allah dalam Surah Ad-Duha ayat 1–5 meneguhkan bahwa Rasulullah SAW tidak ditinggalkan dan tidak dibenci oleh Tuhannya. Ayat-ayat ini juga mengarahkan beliau kepada kemuliaan akhirat dan menjanjikan karunia Allah. Bagi umat Islam, surah ini menjadi pelajaran untuk menjaga iman, memelihara harapan, memperbaiki amal, dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama kehidupan.

 

Dr Nasrul Syarif M.Si.

Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Opini

×
Berita Terbaru Update