Tintasiyasi.id.com -- Candaan, salah satu aktivitas manusia yang bisa mewarnai perjalanan kehidupan manusia selama di dunia. Dengan candaan itu pula, terkadang mampu mendekatkan serta melekatkan antara individu satu dengan lainnya.
Ibaratnya, seperti minuman kopi. Candaan seperti gula yang mampu memberikan sensasi rasa pada minuman tersebut. Namun, seiring dengan berjalannya roda kehidupan kita candaan kini mulai bergeser kedudukannya.
Aktivitas tersebut kini nyaris membuat percikan api keretakan pertemanan di masayarakat secara umum. Lebih parahnya ketika kita melihat pada dunia pendidikan saat ini.
Candaan, sekarang bergeser menjadi sebuah aktivitas yang notabenenya justru seperti merendahkan orang atau mengejek. Ranahnya sekarang sudah menuju pada aktivitas kekerasan verbal, parahnya malah sampai pada fisik.
Sebut saja aktivitas tadi sebagai bullying. Nah, bullying ini kini makin santer di kalangan remaja bahkan terkadang menjadi hal yang dianggap wajar oleh segelintir orang. Padahal, posisinya itu tak sedikit yang sampai berujung pada sakit hati mendalam alias dendam.
Bahkan parahnya si korban dengan rasa sakit mendalam tadi mampu merencanakan sebuah tindakan yang ujungnya dapat membalasnya. Tidak sedikit akhirnya yang sampai pada berita kematian dari si pembully.
Seperti yang diberitakan oleh salah satu laman nasional mengebutkan bahwa aksi perundungan di sekolah menimpa seorang siswa di Pemalang. Korbannya bernama Aqib (7) warga Kebondalem, Pemalang, telah berpulang (meninggal dunia) setelah terjadi perundungan (bullying) kakak kelasnya.
Ibu korban, Diah Indriyanti (36) memaparkan bahwa sangat terpukul atas meninggalnya anak ketiga. Beliau bercerita sejak terjadinya kasus perundungan, anaknya berubah jadi pendiam, bahkan tidak berani bercerita terkait penganiayaan yang dialaminya.
Korban mau bercerita setelah diperiksa dokter. Keluarga korban berharap dari pihak kepolisian dapat segera mengungkap kasus bullying secara fisik ini. (detik. com, 02/10/2026)
Dari data JPPI didapatkan adanya peningkatan jumlah kasus bullying secara fisik di satuan pendidikan. Pada 2023 kasus bullying mencapai 285. Terjadi peningkatan signifikan pada 2024 573 kasus, dan kembali bertambah di 2025 dengan 614 kasus.
Dari data tersebut dapat kita lihat bersama bahwa kasus ini seharusnya benar-benar menjadi perhatikan bagi seluruh manusia. Terkhusus pada orang yang terlibat langsung di dunia pendidikan saat ini.
Melihat data di atas membuat kita sedih sekaligus miris melihat keadaan para generasi yang notabenenya mereka akan menjadi penerus kita. Para pelajar saat ini tak lagi konsentrasi penuh dari sisi keseriusan dalam hal menimba ilmu, termasuk membentuk akhlak yang baik.
Mereka agak bergeser dari makna menimba ilmu tadi. Konsentrasi sekolah sekarang hanya sekadar cari deretan angka yang tergambar dalam sebuah sertifikat untuk mencari kerja. Nah, hal ini tentunya sangat menarik ketika kita dalami secara menyeluruh.
Pendidikan saat ini sebagaimana penulis gambarkan di atas bahwa para siswanya hanya berkutat pada mencari sertifikat serta 'happing fun'. Plus, mereka nihil juga dari sisi adab terhadap guru serta me sesama teman.
Inilah yang sejatinya mejadi perhatian kita semua. Seharusnya sekolah tak sekadar transfer ilmu, namun juga ada pembentukan sisi adab yang akan menjadi bekal ketika ia terjun ke masyarakat.
Berkaitan dengan hal tersebut, tentu akan sangat wajar terjadi jika memang aturan yang ada membuat para siswa akhirnya berkelakuan bebas dan bergaya sekuler (memisahkan antara agama dengan kehidupan).
Ditambah lagi dengan gaya sistem kapitalis yang senantiasa mencari keuntungan materi aerta manfaat, maka di bidang pendidikan pun turut terwarnai oleh hal itu. Nah, inilah bahaya nyata yang ada di dunia pendidikan saat ini.
Belum lagi gaji guru yang minimalis akhirnya membuat pahlawan tanpa tanda jasa itu akhirnya memutar otak untuk mencari pekerjaan tambahan agar dapur tetap 'ngebul'.
Dengan kondisi seperti ini, akhirnya guru terkesan hanya transfer ilmu semata tanpa berusaha mendidik dari sisi akhlaqnya. So, hasilnya pun dapat kita lihat secara jelas, bagaimana sisi remaja pelajar saat ini. Mereka berkelakuan semaunya sendiri tanpa mau melihat dari sisi orang lain.
Termasuk pula akhirnya mereka melakukan aktivitas pembullyan dan mengganggapnya hanya sebatas pada bagian candaan saja. Ini bagian parahnya, karena dari kasus yang ada bahwa pembullyan bisa sampai pada kematian si korban. Seperti pada kutipan berita di atas.
Jujur, penulis juga sebagai ibu yang mempunyai empat anak tentu merasa prihatin dan miris melihat fenomena fakta yang ada. Takut sekaligus deg-degan ketika mau menyekolahkan anak karena begitu masifnya aktivitas bullying ini.
Jika kita lihat, efeknya bener-bener sangat merusak mental si korban. Ini menjadi persoalan serius yang harusnya segera ditangani dengan cepat dan solusi tepat.
Berbicara terkait sistem yang saat ini diterapkan, kapitalis sekuler nyatanya memang membuat sisi pwndidikan kita makin karut marut saja. Dunia pendidikan dibawa pada arus mendapatkan keuntungan banyak dan sisi manfaat besar yang mampu diperolehnya. Artinya, pendidikan saat ini hanya kejar setoran.
Maksudnya bahwa pendidikan saat ini hanya mencetak oara generasi untuk siap kerja. Jadi, pendidikan pun akhirnya hanya membuka (ini bagi SMK) yang potensial dicari oleh pasar). Buka tutup jurusan pun akhirnya benar nyata terjadi. Hal ini pun akhirnya sampai pada Perguruan Tinggi yang hanya mencetak lulusan dengan deretan angka funtastik yang siap kerja.
Lagi-lagi cuan menjadi nomor satu yang wajib dicari. Sementara pada sisi adab, benar-benar tanpa sentuhan. Alhasil, meraka tak mempunyai bekal yang cukup ketika terjun ke masyakat. Ia menjadi individu yang lemah bahkan mudah stres ketika berada di dunia pekerjaan.
Tentu akan sangat berbeda ketika Islam hadir dalam kehidupan manusia. Dengan aturannya yang lengkap, maka insyaAllah mampu mengatasi seluruh persoalan kehidupan termasuk pada dunia pendidikan.
Berkaca pada aturan Islam, maka pemerintah akan serius dalam menangani pendidikan. Hal tersebut karena pemerintah bertanggung jawab akan penyelenggaraan pendidikan secara penuh. Karena pendidikan termasuk pada kebutuhan pokok.
Bahkan kalau dalam Islam sendiri, seluruh kaum Muslim wajib untuk melakukan proses belajar. Nah, berkaitan dengan itu maka negara harus mempunyai benteng keuangan yang kuat. Tentunya agar program yang ada bisa berjalan maka harus didukung oleh kas negara.
Dalam Islam sendiri, negara mempunyai 12 pos pemasukan sehingga insyaAllah mampu menopang seluruh kegiatan pendidikan. Bahkan benar-benar tanpa biaya sepersen pun, jika ada siswa yang berprestasi malah justru difasilitasi dengan baik salah satunya dengan pemberian bea siswa.
Dalam proses belajar mengajarnya pun menggunakan kurikulum berbasis Pada akidah Islam. Termasuk pada pembelajaran siswa agar mempunyai pola pikir serta sikap Islami. Sebagai bekal bagi dia untuk menjalankan aktivitas setiap harinya.
Para siswa akan selalu melihat dan mencari jawaban atas seluruh problem yang ada. Sekaligus ketika mau berbuat, maka akan mencari tahu terlebih dahulu apakah boleh untuk dilakukan atau tidak.
Sementara guru juga akan memberikan ilmu serta sisi adab (akhlak) juga disampaikan. Dengan begini maka akan match ketika ia akan terjun ke masyarakat nanti. Tidak akan goyah terhadap persoalan yang ada.
Aktivitas amar makruf pun akan terus dilakukan sebagai bentuk perhatian kepada saudaranya. Ini juga bagian dari pembelajaran serta kebiasaan baik yang terus ditanamkan kepada seluruh siswa. Dengan adanya amar makruf tadi maka orang yang berbuat salah maka akan menyadarinya dan tak akan mengulang perbuatannya lagi.
Ini akan berjalan baik di lingkungan sekolah ataupun di masyarakat secara umum. Jika berjalan dengan baik, maka insyaAllah kasus bullying ini tak akan pernah ada lagi. Karena mengetahui dengan jelas bagaimana hukumnya ketika melakukan hal tersebut.
Negara pun akan turun tangan secara totalitas. Dengan kekuatannya maka negara akan memberikan hukuman kepada para pembully atau yang melakukan kesalahan. Hukumannya disesuaikan dengan hukum syarak yang tentunya akan membuat jera si pelaku dan yang lain tak akan melakukan hal yang sama. Dengan begini, maka mencegah seseorang untuk berlaku yang tidak seharusnya.
Islam mempunya dasar yang kokoh yaitu akidah Islam. Dalam dunia pendidikan pun akidah akan menjadi fondasi serta bahan kurikulum ajar di semua jenjang pendidikan. Dengan begitu maka akan tercetak generasi yang pandai dari sisi keilmuan serta mempunyai adab yang kuat.
Sebagaimana kita melihat para pendahulu yang mampu menjadi insan bermanfaat untuk umat. Sebagai contoh para penemu baik di bidang science and technology ataupun lainnya. Beliau semua tak sekadar menguasai keilmuan saja namun juga mempunyai sikap atau akhlak yang baik terhadap sesama.
Inilah yang kita inginkan bersama, semoga segera terwujud dengan Islam sebagai fondasi dalam kehidupan manusia. Dalam kekuatan institusi Islam yang mampu memberikan kekuatan serta keamanan bagi seluruh masyarakat.
InsyaAllah kasus di atas akan hilang manakala Islam diterapkan dalam kehidupan manusia di dunia. Ancaman generasi pun akan dengan mudah diselesaikan karena mempunyai dasar akidah yang kuat lagi kokoh. Wallahu'alam.[]
Oleh: Mulyaningsih
(Pemerhati Masalah Anak & Keluarga)