Tintasiyasi.id.com -- Dunia kembali disengat oleh bara api konflik Timur Tengah yang tak pernah benar-benar padam. Eskalasi militer melonjak tajam menyusul serangan masif kelompok Houthi yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, fasilitas vital minyak Aramco, hingga rentetan pengeboman beruntun.
Tragedi ini menelan korban jiwa serta melumpuhkan rasa aman di jantung kekuasaan Arab Saudi. Di balik dentuman rudal dan kepulan asap kilang minyak, panggung geopolitik global memperlihatkan telanjang bulat bagaimana aliansi pertahanan regional sekadar menjadi retorika kosong, sementara pertarungan pengaruh hegemoni imperialis terus mencengkeram leher umat Islam (Bennix, 12-10-2026).
Akar Masalah: Sekularisasi Politik dan Cengkeraman Kapitalisme Global
Negeri-negeri Muslim terus-menerus menjadi medan pembantaian dan proksi perang antarkekuatan regional maupun global, disebabkan akar masalah fundamental, yaitu penerapan sistem sekularisme dalam tata kelola pemerintahan dan cengkeraman kapitalisme global yang merusak sendi-sendi ukhuwah Islamiyah.
Dalam kerangka sekuler, politik luar negeri tidak lagi berpijak pada prinsip akidah, pembelaan terhadap kaum Muslimin, atau ukhuwah Islamiyah, melainkan diukur atas dasar national interest (kepentingan nasional yang sempit), pragmatisme kekuasaan, dan kalkulasi ekonomi kapitalistik. Hal ini terpampang nyata ketika Arab Saudi mengandalkan Pakta Mekkah—sebuah perjanjian pertahanan bersama Turki dan Pakistan. Begitu eskalasi meledak, Turki dan Pakistan dengan dingin menarik batas, menyatakan hanya akan memberikan dukungan defensif dan menolak terlibat dalam operasi ofensif di Yaman. Aliansi strategis runtuh seketika diuji oleh kepentingan domestik masing-masing rezim.
Di sisi lain, kapitalisme global menjadikan darah dan konflik di Timur Tengah sebagai komoditas bisnis yang menguntungkan. Intervensi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang memberikan sinyal dukungan bersyarat, manuver diplomatik Iran
Sehingga ketidakpastian pasar energi dunia yang mempermainkan harga minyak (dari skenario business as usual hingga potensi eskalasi ekstrem) membuktikan bahwa minyak dan suplai energi adalah komoditas utama yang diperebutkan para predator global. Umat Islam dijadikan alat bakar dalam arena pertempuran ekonomi dan politik para kapitalis dunia.
Tanda-Tanda Kerusakan dan Peringatan Keras Ilahi
Eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan sesama umat Islam di Timur Tengah adalah manifestasi dari perpecahan yang telah diingatkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an. Ketika kaum Muslimin meninggalkan ikatan akidah dan memilih berwala' (loyalitas) kepada sistem thogut serta kekuatan sekuler kafir, kehinaan dan perpecahan adalah keniscayaan. Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang keterangan yang jelas. keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang ysng mendapat siksa ysng berat." (TQS. Ali 'Imran: 105)
Konflik Yaman-Saudi yang melibatkan intervensi kekuatan luar menegaskan peringatan Rasulullah SAW tentang masa-masa di mana umat Islam akan diperebutkan oleh musuh-musuhnya bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerubungi piring hidangan, bukan karena sedikitnya jumlah umat, melainkan karena hilangnya izzah (kemuliaan) akibat kecintaan pada dunia (wahn) dan perpecahan internal.
Solusi Islam: Kembali pada Kesatuan Umah dan Sistem Syariah
Menghadapi karut-marut geopolitik global dan ancaman perang regional, solusi tuntas tidak akan pernah lahir dari meja diplomasi PBB, pakta pertahanan sekuler yang rapuh, atau belas kasihan adikuasa kapitalis. Solusi hakiki bagi umat Islam bersifat mutlak dan komprehensif:
Pertama, Menghapus Batas Nasionalisme Sempit (Asobiyah)
Islam melarang persatuan umat diikat berdasarkan nasionalisme batas negara (wathaniyah) ciptaan penjajah barat (Perjanjian Sykes-Picot). Umat Islam adalah satu tubuh. Sabda Rasulullah SAW:
"Perumpaan kaum Muslim dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit , maka seluruh tubuh akan merasakan demam Perumpamaan dan tidak bisa tidur." (HR. Muslim).
Kedua, Menerapkan Sistem Kepemimpinan Global Islam (Khilafah). Krisis keamanan di Timur Tengah hanya akan selesai secara permanen apabila kaum Muslimin disatukan di bawah satu kepemimpinan umum yang menerapkan hukum Allah secara kafah, yang melindungi darah, kehormatan, dan kekayaan alam umat dari jamahan imperialisme asing.
Ketiga, Kemandirian Ekonomi dan Politik. Menolak tunduk pada fluktuasi pasar minyak global yang dikendalikan oleh para spekulan kapitalis, serta mengelola sumber daya alam mandiri demi kesejahteraan umat, bukan demi kepentingan oligarki global.
Konflik mematikan hari ini harus menjadi lonceng kesadaran bagi kaum Muslimin untuk meninggalkan ilusi aliansi sekuler dan kembali menegakkan kedaulatan hukum Islam di muka bumi. Wallaahu a’lam bishshawwab.[]
Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd.
(Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan)