Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rindu Rasulullah SAW, atau Hanya Rindu Pada Perasaan?

Rabu, 16 September 2026 | 10:30 WIB Last Updated 2026-09-17T05:02:48Z


Kita sering berkata:
"Aku cinta Rasulullah…”
“Aku rindu Rasulullah…”
“Ya Rasulullah, aku ingin bertemu denganmu…”

TintaSiyasi.id — Lalu kita menangis ketika mendengar kisah beliau.

Kita bershalawat dengan penuh haru.

Kita merasa hati bergetar ketika nama Muhammad SAW disebut.

Itu indah…

Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih dalam:

“Jika benar kita rindu Rasulullah SAW, sudahkah kita mengikuti beliau?”

Sebab kerinduan yang benar tidak akan berhenti pada perasaan.

Kerinduan akan melahirkan keinginan untuk mendekat.

Dan salah satu bentuk mendekat kepada Rasulullah SAW adalah ITTIBA’—mengikuti petunjuk dan meneladani kehidupan beliau.

Allah SWT berfirman:

«قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ»

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Maka jangan hanya bertanya:

“Seberapa sering aku bershalawat?”

Tetapi tanyakan juga:

“Seberapa jauh akhlakku mengikuti akhlak Rasulullah?”

Rasulullah SAW jujur—
apakah kita masih nyaman dengan kebohongan?

Rasulullah SAW amanah.

apakah kita masih mengkhianati kepercayaan?

Rasulullah SAW penyayang—
apakah lisan kita masih gemar menyakiti?

Rasulullah SAW pemaaf.

apakah hati kita masih penuh dendam?

Rasulullah SAW rendah hati—
apakah kita masih suka merasa lebih tinggi daripada orang lain?

Di sinilah cinta diuji.

Cinta bukan hanya ucapan.
Cinta adalah kesediaan untuk mengikuti.
Kita membaca sirah Rasulullah SAW agar belajar perjuangannya.

Kita bershalawat agar hati semakin terhubung dengan beliau.

Kita mencintai sunnahnya agar kehidupan kita semakin dekat dengan petunjuknya.

Kita meneladani akhlaknya agar kehadiran kita menjadi rahmat bagi orang lain.

Karena Rasulullah SAW bukan hanya untuk dikagumi.

Beliau adalah untuk diteladani.

Allah SWT berfirman:

«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ»

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Maka…

Kalau kita benar-benar rindu Rasulullah SAW, mari buktikan dengan perubahan diri.

Dari yang mudah marah menjadi lebih sabar.

Dari yang suka menyakiti menjadi lebih menyayangi.

Dari yang sombong menjadi rendah hati.

Dari yang lalai menjadi lebih taat.

Dari yang hanya pandai berbicara tentang Islam menjadi pribadi yang menghadirkan rahmat Islam dalam kehidupan.

Rindu itu harus bergerak.

Dari hati → menjadi cinta.
Dari cinta → menjadi ittiba’.
Dari ittiba’ → menjadi akhlak.
Dari akhlak → menjadi rahmat bagi sesama.

Itulah kerinduan yang hidup.

Bukan sekadar air mata ketika nama Rasulullah disebut.

Tetapi air mata yang kemudian melahirkan tekad:

“Ya Rasulullah SAW, aku mungkin tidak pernah melihatmu dengan mata kepalaku. Tetapi aku ingin menjalani hidup dengan mengikuti jalan yang engkau ajarkan.”

Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Rasulullah SAW kelak dalam keadaan beliau ridha.

Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Opini

×
Berita Terbaru Update