Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Fenomena Downgrade: Pilihan bijak atau Keterpaksaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:43 WIB Last Updated 2026-10-21T08:43:21Z

TintaSiyasi.id -- Belakangan ini, fenomena downgrade ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Yang paling terasa adalah ketika kita sendiri mulai menurunkan standar hidup. Dulu mungkin kita bisa membeli kebutuhan dengan bebas, namun kini harus memilih: mana yang benar-benar penting dipenuhi, dan mana yang harus dikorbankan. Kita mulai mengubah pola belanja, menyesuaikan gaya hidup, dan memilih barang yang terjangkau, semata-mata agar tetap bisa bertahan ditengah tekanan ekonomi.

Sejumlah pengguna media sosial membagikan pengalaman orang-orang yang di sekitar mereka yang mengalami penurunan penghasilan setelah kehilangan pekerjaan, atau kesulitan mendapatkan pekerjaan baru dengan posisi dan gaji yang setara. Fenomena ini menggambarkan kondisi sebagian pekerja yang harus menurunkan ekspektasi posisi maupun penghasilan agar tetap bisa bekerja di tengah pasar kerja yang semakin ketat. (Kompas.com, 06/10/2026)

Kondisi ini memicu pertanyaan besar di benak banyak orang, apakah langkah ini merupakan kebijaksana untuk menjaga kestabilan hidup, atau sekadar jalan keluar karena keadaan yang tidak lagi memungkinkan? Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar orang melakukan downgrade karena keadaan yang tidak berpihak. Harga kebutuhan yang terus naik, pendapatan yang tidak menentu, hingga kehilangan pekerjaan membuat pilihan hidup yang dulunya terasa wajar, kini terasa sangat berat. Dalam posisi ini, downgrade bukanlah keinginan hati, melainkan satu-satunya cara agar tetap bisa bertahan.

Namun, di balik fenomena ini, tersembunyi cerita yang lebih dalam, cerita tentang bagaimana sistem yang kita jalani ikut membentuk pilihan-pilihan yang kita ambil. Dalam sistem kapitalis, mekanisme pasar berorientasi pada akumulasi keuntungan bagi pemilik modal. Upah pekerja cenderung ditekan atau tidak naik sebanding dengan inflasi, biaya hidup, dan harga barang. Ketika pendapatan rill stagnan sementara harga kebutuhan pokok naik, masyarakat pun terpaksa menyesuaian agar apa yang tersisa cukup digunakanan untuk bertahan hidup.

Sistem kapitalis sering kali membanggakan angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang positif. Namun pertumbuhan tersebut tidak dirasakan secara merata oleh kelas pekerja. Fenomena downgrade menjadi sinyal bahwa sistem ekonomi berjalan timpang: angka di tingkat makro terlihat tumbuh, namun di tingkat mikro, masyarakat justru merasakan tekanan ekonomi yang mencekik. Hal ini terlihat dari tingginya ketergantungan pada pinjaman serta beban cicilan yang semakin berat.

Downgrade yang dialami masyarakat bukan karena mereka ingin hidup hemat, melainkan karena daya beli mereka perlahan terkikis oleh kebijakan yang mengikuti aturan pasar bebas. Kebutuhan dasar kerap dijadikan komoditas yang harganya naik-turun mengikuti logika keuntungan, tanpa pengendalian yang cukup untuk melindungi masyarakat yang lemah.

Islam memandang, downgrade bukan suatu kegagalan atau aib. Menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan justru merupakan bentuk kebijaksanaan yang sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."(TQS. Al-A'raf: 31). Islam mengajarkan kita untuk menata ulang prioritas. Penuhi terlebih dahulu apa yang mendasar dan penting. Islam tidak melarang kita menikmati kenyamanan hidup, tetapi memperingatkan agar tidak hanyut di dalamnya sehingga melupakan hakikat dan tujuan hidup.

Islam memandang negara sebagai pelindung dan pengelola kemaslahatan rakyat. Rasulullah Saw. bersabda, "Imam (pemimpin) adalah pengurus dan pemelihara urusan rakyat, dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari)

Karena itu, negara tidak boleh berdiam diri ketika rakyatnya kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Negara memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan kondisi kehidupan yang layak bagi seluruh rakyatnya. Salah satu kewajiban yang paling mendasar adalah menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup dan layak. Ketika setiap warga negara memiliki pekerjaan yang memadai dengan penghasilan yang seimbang dengan kebutuhan hidup, maka masyarakat tidak akan terpaksa menurunkan standar hidupnya hanya demi bertahan hidup. Sebaliknya, menyesuaikan gaya hidup akan tetap menjadi pilihan bijak bagi siapa saja yang ingin hidup sederhana demi ketenangan jiwa.[]


Rosita 
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update