Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sistem yang Rusak, SDA Melimpah tetapi Rakyat Terpuruk

Rabu, 16 September 2026 | 10:32 WIB Last Updated 2026-09-17T05:03:52Z


TintaSiyasi.id — Indonesia adalah negeri yang dianugerahi Allah SWT dengan kekayaan alam yang luar biasa. Tanah yang subur, hutan yang luas, laut yang kaya, serta cadangan energi dan mineral yang melimpah.

Namun muncul sebuah pertanyaan besar:

Mengapa negeri yang begitu kaya sumber daya alam masih menyisakan begitu banyak persoalan ekonomi, kemiskinan, kesenjangan, dan ketidakadilan?

Masalahnya bukan semata-mata karena Indonesia kekurangan sumber daya. Bisa jadi persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana sumber daya itu dikelola dan sistem apa yang menjadi landasannya.

Ketika sumber daya alam dipandang terutama sebagai komoditas ekonomi dan diserahkan kepada mekanisme yang berorientasi pada keuntungan, maka kekayaan yang seharusnya menjadi milik dan kemaslahatan rakyat dapat berubah menjadi sumber akumulasi kekayaan bagi segelintir pihak.

Di sinilah kita perlu melakukan muhasabah sistemik.

Bukan sekadar mengganti orangnya, tetapi mempertanyakan sistem pengelolaannya.

Bukan hanya memperdebatkan siapa yang salah, tetapi mencari paradigma yang benar.

Islam Memiliki Pandangan yang Berbeda

Islam memandang kekayaan alam sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dikelola untuk kemaslahatan manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Hadis ini menjadi salah satu landasan penting dalam fikih kepemilikan Islam bahwa terdapat sumber daya tertentu yang menyangkut hajat hidup masyarakat dan tidak semestinya dikuasai secara eksklusif oleh individu atau kelompok tertentu.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar:

“Siapa yang menguasai tambang?”

Tetapi:

“Untuk siapa kekayaan itu dikelola?”

Jika kekayaan alam adalah amanah, maka negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan pengelolaannya benar-benar menghadirkan kemaslahatan rakyat.

Jangan Hanya Mengutuk Korupsi, Perbaiki Sistemnya

Korupsi tentu merupakan kemaksiatan dan pengkhianatan terhadap amanah.

Tetapi memberantas korupsi tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku setelah kerugian terjadi.

Diperlukan sistem yang mampu:

- menutup ruang penyalahgunaan kekuasaan,
- membangun transparansi pengelolaan kekayaan negara,
- memastikan kekayaan alam memberi manfaat luas,
- menguatkan pengawasan,
- dan menempatkan amanah sebagai prinsip kekuasaan.

Islam tidak hanya berbicara tentang kesalehan individu.

Islam juga berbicara tentang tata kelola kehidupan.

Karena itu, perubahan yang dibutuhkan bukan hanya perubahan moral personal, tetapi juga perubahan paradigma dan sistem pengelolaan kehidupan agar kekuasaan benar-benar menjadi amanah untuk mewujudkan kemaslahatan.

Kembali kepada Islam secara Kaffah

Kembali kepada Islam bukan sekadar memperbanyak simbol-simbol keislaman.

Kembali kepada Islam berarti menjadikan wahyu Allah sebagai sumber nilai dan pedoman dalam kehidupan.

Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama, sekaligus memberikan prinsip-prinsip dalam kehidupan ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, dan pemerintahan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah).”
(QS. Al-Baqarah: 208)

Maka, ketika kita melihat kerusakan, ketimpangan, eksploitasi, dan salah kelola kekayaan negeri, jangan berhenti pada keluhan.

Mari melakukan muhasabah.

Sudahkah kekayaan negeri dikelola sebagai amanah?

Sudahkah kekuasaan dijalankan sebagai tanggung jawab di hadapan Allah?

Sudahkah pembangunan benar-benar berorientasi pada kemaslahatan rakyat?

Dan yang paling mendasar:

Apakah sistem yang kita gunakan telah sesuai dengan prinsip keadilan yang Allah kehendaki?

Indonesia tidak kekurangan kekayaan.

Yang kita perlukan adalah tata kelola yang amanah, adil, transparan, berpihak kepada kemaslahatan rakyat, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Karena itu, perjuangan umat bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan.

Perjuangan umat adalah membangun kesadaran, memperbaiki manusia, memperbaiki tata kelola, dan menghadirkan kehidupan yang lebih adil berdasarkan petunjuk Allah SWT.

Saatnya berhenti hanya mengeluh.
Saatnya bermuhasabah.
Saatnya kembali kepada Islam sebagai jalan kehidupan yang paripurna.

Islam bukan hanya agama ritual, tetapi jalan hidup yang membawa manusia menuju keadilan, kemaslahatan, dan keberkahan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

Opini

×
Berita Terbaru Update