“Aku memerintahkan kalian
untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama
hamba, yakni manusia. Aku juga memerintahkan kalian agar berada dalam kekuasaan
Allah dan melepaskan diri dari kekuasaan sesama hamba atau manusia,”
katanya dalam program daring Open Circle Muslimah bertajuk Ayuh!
Merdekakan Diri dengan Islam Kaffah pada Sabtu (29/08/2026), ketika
mengutip seruan Rasulullah saw. dalam sebuah surat kepada penduduk Najran.
Dalam menjelaskan bagaimana Islam
memerdekakan umat, Farisha menyebut ada empat cara Islam memerdekakan manusia.
Pertama, Islam membebaskan
manusia dari menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan utama dan mengarahkan
pandangan mereka kepada kehidupan akhirat yang kekal.
“Bukan berarti dunia itu sempit,
tetapi maksudnya kita tahu bahwa dunia ini hanyalah perhiasan, hanyalah tipu
daya. Namun, itulah yang didambakan atau dikejar-kejar oleh umat hari ini,
padahal tempat kita yang kekal dan abadi adalah akhirat,” jelasnya.
Kedua, Islam memerdekakan
manusia dengan mengeluarkan mereka dari kezaliman menuju keadilan.
“Itulah yang dapat dikatakan
sebagai merdeka. Kezaliman dapat dihilangkan dengan keadilan, lawan dari zalim
adalah adil,” ujarnya.
Ketiga, dengan membawa
manusia keluar dari jahiliah, sebagaimana yang terjadi pada fase awal dakwah
Rasulullah saw. di Makkah.
Ia mengatakan, “Datangnya Islam
adalah untuk membawa cahaya, untuk mengeluarkan mereka dari kejahilan menuju
Islam, menuju cahaya, dari menyembah berhala menjadi menyembah Allah.”
Keempat, membebaskan
manusia dari penyembahan dan penghambaan kepada sesama makhluk menuju
penyembahan kepada Allah.
“Merdeka itu harus keluar dari
penghambaan. Bukan hanya menyembah sesama manusia atau sesama makhluk.
Menyembah di sini maksudnya rela menjadi hamba kekayaan, kemewahan, dan harta
benda. Semua itu juga terjadi, bukan?” terangnya.
Menurutnya, seseorang yang masih
terikat dan diperbudak oleh perkara-perkara tersebut sebenarnya belum mencapai
kemerdekaan sebagaimana yang dimaksudkan dalam Islam.
Ia turut memberikan gambaran
penting mengenai misi Islam dalam memerdekakan manusia melalui kisah seorang
utusan yang dikirim untuk menemui panglima Persia, Rustum.
“Allah telah mendatangkan kami
agar kami mengeluarkan siapa saja dari penghambaan kepada sesama manusia menuju
penghambaan hanya kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan
dari kezaliman agama-agama selain Islam menuju keadilan Islam,” ungkapnya,
mengutip dialog masyhur Panglima Rabi’ bin Amir.
Ia menambahkan, inti pengabdian
seorang Muslim adalah ketundukan, ketaatan, dan kepatuhan yang ditujukan hanya
kepada Allah, bukan kepada sesama manusia atau makhluk. “Hal ini karena manusia
diciptakan di dunia dengan tugas dan tanggung jawab sebagai hamba Allah,”
bebernya.
“Kemerdekaan melalui Islam
menuntut agar ajaran Islam diambil secara menyeluruh dan sempurna, bukan hanya
bagian-bagian yang mudah untuk dilaksanakan,” tandasnya.
“Selama kita tidak mengambil
Islam secara keseluruhan, hanya memilih-milih, yang mudah diambil sementara
yang sulit tidak mau dilakukan dan ditinggalkan, kita akan senantiasa
terbelenggu oleh kungkungan Barat,” katanya.
Oleh karena itu, menurutnya,
menerapkan Islam secara kaffah merupakan bentuk pengabdian kepada Allah dan
menjadi syarat agar umat benar-benar memperoleh kemerdekaan.
“Kemerdekaan hakiki menurut Islam
adalah mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah dengan menjalani kehidupan yang
diatur oleh hukum Islam secara kaffah. Maksudnya, mengambil Islam secara
keseluruhan, bukan mengambil sedikit dan membuang banyak, mengambil sebagian
dan meninggalkan sebagian,” tegasnya.[] Aliya Ab Aziz