“Umat Islam belum merdeka dari
hukum ciptaan manusia. Kalau kita lihat hari ini, sebenarnya sistem dan
undang-undang penjajah masih digunakan dan dipertahankan,” katanya dalam
program daring Open Circle Muslimah bertajuk Ayuh! Merdekakan Diri
dengan Islam Kaffah pada Sabtu (29/08/2026).
Ia mengakui bahwa penjajahan
secara fisik tidak lagi terjadi, tetapi mempertanyakan apakah keadaan tersebut
saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa umat benar-benar telah bebas.
“Kalau kita tidak mengkajinya,
memang kita merasa seperti, ‘Oh, tidak masalah, kita sudah memerintah negara
kita sendiri, mengelola negara sendiri, penjajah sudah tidak ada, mereka sudah
kembali ke negara mereka.’ Namun, sebenarnya undang-undang mereka ditinggalkan
untuk diterapkan di Malaysia,” ujarnya.
Farisha kemudian menyinggung
proses menjelang kemerdekaan dengan merujuk pada pembentukan Komisi Reid pada
Maret 1956, yakni setahun sebelum kemerdekaan.
“Komisi independen tersebut
dibentuk untuk merancang Konstitusi Federal, yang disusun terlebih dahulu
sebelum berlangsungnya proses menuju kemerdekaan,” ungkapnya.
“Konstitusi Federal ini dirancang
terlebih dahulu, kemudian barulah dibuat perjanjian untuk merdeka, setelah itu
barulah kemerdekaan tersebut berlangsung,” jelasnya.
Farisha kemudian mengalihkan
perhatian pada bentuk penjajahan yang menurutnya masih bertahan dalam cara
berpikir umat.
“Penjajahan fisik memang sudah
tidak ada, tetapi sekarang penjajahan pemikiran masih ada dan masih
berlangsung. Jadi umat masih terbelenggu oleh pola pikir bentukan penjajah,”
jelasnya.
Ia mengaitkan kondisi tersebut
dengan penjajahan pemikiran melalui masuknya sejumlah paham asing yang
menurutnya dapat menjauhkan umat Islam dari syariat, di antaranya liberalisme,
pluralisme, dan feminisme.
“Di antara ancaman pemikiran
asing itu adalah liberalisme. Kebebasan, liberalisme itu semuanya bebas, bebas
berperilaku, bebas dalam akidah, bebas dalam kepemilikan. Jadi, maksudnya
itulah kebebasan yang dianut,” katanya.
Farisha kemudian memberikan
contoh pluralisme yang menurutnya menempatkan agama-agama pada kedudukan yang
sama dengan menganggap semuanya baik.
“Dan juga pluralisme, kesamaan,
kesetaraan agama, semua agama baik, semua agama bagus. Dalam pluralisme,
maksudnya mereka ingin mengatakan bahwa semuanya sama, semua agama bagus, semua
agama baik,” jelasnya.
Selain penjajahan pemikiran,
Farisha melihat umat semakin jauh dari Islam ketika gaya hidup Barat mudah
diterima dan dianggap lebih modern. “Budaya yang mengutamakan hal-hal yang
melalaikan, dengan menjadikan penyelenggaraan konser sebagai salah satu contoh
yang menurutnya dapat merusak pemikiran,” singgungnya.
“Apa yang datang dari Barat
semuanya dianggap bagus, apa yang datang dari Barat semuanya dianggap modern.
Siapa yang tidak mengambil apa yang berasal dari Barat dianggap ketinggalan
zaman, dianggap kolot,” ujarnya.
Ia melanjutkan, “Kalau kita
lihat, banyak artis yang mengadakan konser, ataupun banyak hal yang merusak
pemikiran, hal-hal yang melalaikan. Jadi, itulah yang dibawa oleh Barat,”
ujarnya.
Kecenderungan tersebut,
menurutnya, turut berdampak pada keterikatan umat terhadap hukum syarak
sehingga perkara halal dan haram masih dikompromikan.
“Berpegang teguh pada hukum
syarak itu seperti menggenggam bara api. Panas, lalu pilihannya apakah bara itu
hendak dilepaskan atau tetap digenggam sampai menjadi abu. Halal dan haram itu
sudah jelas, tetapi maksudnya mereka masih tetap ingin melakukannya,” katanya.
Ia turut menyoroti kecenderungan
memahami Islam hanya dalam ranah ritual, sedangkan aspek kehidupan lainnya
tidak diatur berdasarkan Islam.
“Ritual itu maksudnya sekadar
ibadah saja. Namun, ketika menjalani kehidupan sehari-hari, mereka tidak
mengambil Islam. Hari ini mereka hanya menjalankan ibadah-ibadah, tetapi ketika
menjalani kehidupan, mereka mengambil sistem dari Barat,” jelasnya.
Setelah menguraikan
kondisi-kondisi tersebut, Farisha menyimpulkan bahwa tidak adanya penjajahan
secara fisik belum berarti umat telah mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya.
“Jelas dan nyata bahwa kita belum
merdeka, belum benar-benar merdeka,” tutupnya.[] Aliya Ab Aziz