Tintasiyasi.id.com --Maulid Nabi bukan sekadar momentum mengenang kelahiran manusia mulia. Ia semestinya menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW dengan mempelajari risalah yang beliau bawa, meneladani metode perjuangannya, dan berupaya menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
Sambut Rabiulawal 1448 Hijriah, Kementerian Agama ( Kemenag ) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini digelar melalui kegiatan Blissful Mawlid 1448 H.
Salah satu agenda utamanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. (SindoNews, 23/08/2026)
Mengekspresikan rasa cinta bisa dengan berbagai cara seperti dengan membaca shalawat, mengadakan tabligh Akbar dan sebagainya. Namun, cinta membutuhkan bukti yang nyata, perwujudannya dengan penerapan risalah yang dibawa Rasulullah SAW dalam kehidupan baik secara individu, masyarakat maupun negara. Karena Beliau hadir sebagai teladan untuk seluruh aspek kehidupan.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 31 yang artinya:
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Maulid Nabi Muhammad SAW mestinya menjadi momentum untuk mengingatkan dan mengembalikan kesadaran umat akan perjuangan Rasulullah SAW dalam membangun peradaban mulia dengan risalah yang dibawanya.
Kerinduan dan harapan untuk mendapatkan syafa'atnya diiringi dengan kerinduan dan harapan agar umat kembali hidup dengan tuntunan Islam sebagaimana yang pernah beliau perjuangkan dan terwujud ketika Islam diterapkan sebagai sebuah institusi di Madinah.
Muhammad SAW merupakan manusia biasa yang Allah SWT berikan wahyu untuk membimbing umat manusia. Sebagai manusia maka perilakunya bisa diteladani oleh orang-orang yang mencintainya.
Diutusnya Rasulullah sebagai role model terbaik baik sebagai individu, bermasyarakat maupun bernegara. Rasulullah SAW sebagai manusia pilihan yang kelak menjadi pemimpin dan menjalankan kepimpinannya dengan Islam menjalani proses kehidupan yang manusiawi.
Nilai-nilai kehidupan Islam yang ditawarkan pada penduduk Mekah saat itu mengalami pertentangan yang luar biasa, padahal awalnya beliau adalah manusia yang sangat dicintai bahkan digelari sebagai Al-Amin.
Namun, Rasulullah senantiasa berjuang menyampaikan nilai-nilai Islam yang pada saat itu dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah ada.
Alloh SWT mengutus Rasulullah SAW bukan sekedar merubah akhlak individu saja bahkan akhlak dalam bermasyarakat dan bernegara. Selama dakwah kurang lebih 13 tahun di Mekah dengan melakukan pembinaan terhadap umat, melakukan berbagai strategi seperti menawarkan kepada setiap kabilah yang datang ke Mekah pada musim haji untuk mendapatkan pertolongan atas dakwahnya serta menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya.
Lalu mendatangi tempat seperti Thoif yang diharapkan menjadi titik tolak tersebarnya nilai-nilai Islam yang ternyata beliau mendapatkan perlakuan yang kasar dari penduduknya sampai berdarah kakinya karena dilempari batu dan disebut sebagai orang gila.
Sampai akhirnya Madinah menerima dakwah beliau melalui delegasi yang bernama Mus'ab bin Umair menjadi awal dari penerapan nilai-nilai Islam dalam sebuah institusi dan beliau sebagai pemimpin negara. Aturan-aturan publik seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sanksi dan keamanan diatur dengan Islam.
Mengembalikan Kesadaran Umat kepada Islam
Kondisi umat saat ini berada dalam sistem yang jauh dari nilai-nilai Islam. Ketika agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan publik, maka Islam akhirnya direduksi menjadi aturan ibadah personal.
Akibatnya, persoalan ekonomi, pendidikan, politik, hukum, sosial, dan pemerintahan diserahkan kepada sistem yang tidak menjadikan wahyu sebagai sumber pengaturan.
Jika Rasulullah SAW membawa risalah untuk membimbing manusia dalam seluruh aspek kehidupan, apakah tepat jika risalah tersebut hanya ditempatkan di ruang privat?
Islam sejatinya adalah pandangan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya.
Pengaturan hubungan manusia dengan Tuhannya seperti dalam hal ibadah mahdhoh, bagaimana sholat, puasa, zakat, menunaikan ibadah haji.
Pengaturan hubungan manusia dengan dirinya sendiri seperti bagaimana batasan aurat laki-laki dan perempuan, perihal makanan,minuman serta pakaian. Pengaturan hubungan manusia dengan manusia lainnya, bagaimana manusia berinteraksi baik dalam hal ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.
Maulid mestinya menjadi momentum mengembalikan kesadaran umat akan perjuangan Muhammad SAW dalam mewujudkan peradaban manusia yang mulia. Tidak mencukupkan pada euphoria atas kelahiran beliau saja. Wallohu a'lam bishshwwab.[]
Oleh: Ummu Maiaa
(Aktivis Muslmah)