“Kenapa saya memfokuskan pada
kepemimpinan, karena beliau adalah seorang pemimpin. Disebabkan sebagai
pemimpinlah, beliau dapat menerapkan syariat Islam. Dan disebabkan kepemimpinan
pula, beliau dapat berdakwah dengan lebih mantap. Kenapa? Karena beliau sudah
memperoleh kekuasaan,” tegasnya.
“Ketika Islam memperoleh
kekuasaan dalam kepemimpinan negara, maka syariat Islam dapat diterapkan,”
katanya dalam program online Open Circle Muslimah bertajuk Maulidur
Rasul Bukan Sekadar Selawat pada Sabtu (22/8/2026).
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan
Rasulullah saw. berlandaskan akidah dan syariat Islam dengan tujuan menegakkan
hukum Allah serta menyebarkan syiar Islam.
“Kepemimpinan beliau ṣallallāhu
’alaihi wa sallam berdasarkan akidah dan syariat Islam seratus persen,
tidak lain hanyalah untuk menegakkan hukum Allah dan menyebarkan syiar Islam ke
seluruh penjuru dunia,” katanya.
Syafinaz turut mengetengahkan
keadilan sebagai salah satu ciri utama kepemimpinan Rasulullah saw., yakni ketika
hukum diterapkan tanpa perlakuan istimewa, termasuk terhadap anggota keluarga
beliau sendiri.
“Beliau menerapkan hukum secara
adil, tidak ada keistimewaan hukum atau perlakuan yang berbeda meskipun
terhadap anggota keluarga sendiri,” ujarnya.
Ia memperkuat hal tersebut dengan
merujuk pada sikap Rasulullah saw. dalam kasus seorang perempuan dari Bani
Makhzum yang mencuri, ketika beliau menolak adanya perbedaan perlakuan
berdasarkan kedudukan seseorang.
“Demi Allah, sekiranya Fatimah
binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya,” katanya mengutip
sabda Rasulullah saw..
Menurut Syafinaz, kepemimpinan
Rasulullah saw. turut memberikan perhatian terhadap kepentingan, keamanan, dan
keselamatan umat, termasuk dalam urusan kehidupan sehari-hari.
“Kenapa Rasulullah yang terbaik?
Karena Rasulullah sebagai pemimpin menjaga keamanan dan keselamatan,” lugasnya.
Lanjut dikatakan, beliau
memastikan keamanan umat, misalnya, agar tidak terjadi pelanggaran seperti
penipuan dalam perdagangan, berbagai persoalan lain, dan tindak kejahatan
lainnya. “Beliau benar-benar melayani kepentingan umat dengan sebaik-baiknya,”
tandasnya.
Sehubungan dengan itu, Syafinaz
menyerukan kepada umat Islam, khususnya para pemimpin masa kini, agar
menjadikan kepemimpinan Rasulullah saw. sebagai teladan dalam mengelola negara
dan masyarakat.
“Negara-negara Islam saat ini ada
lebih dari 50 negara, tetapi semuanya tidak bersatu. Ada sebagian yang bisa
berkawan dengan Yahudi, Zionis. Kenapa? Tidak ada ketakwaan. Apalagi untuk
menerapkan syariat Islam,” serunya.
Sehubungan dengan itu, Syafinaz
turut berpesan bahwa sebagai seorang Muslim yang telah mengetahui, maka menjadi
kewajiban bagi umat untuk kembali memperjuangkan (kepemimpinan Islam) bersama
jemaah yang menginginkan Islam kembali tinggi.
Pada akhirnya, ia mengingatkan
umat agar tidak hanya mengenang Nabi ketika peringatan Maulidur Rasul, tetapi
turut menjadikannya sebagai momentum untuk merealisasikan sunah terbesar Nabi saw..
“Peringatan Maulidur Rasul
seharusnya tidak hanya terbatas pada rasa syukur dalam mengenang kelahiran
serta kehebatan beliau semata-mata, tetapi lebih daripada itu, memahami dan
mempraktikkan sunah terbesar beliau,” pungkasnya.[] Aliya Ab Aziz