Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Empat Macam Zikir

Rabu, 16 September 2026 | 10:36 WIB Last Updated 2026-09-17T05:06:08Z


Dari Mengingat Allah hingga Diingat Allah

“Dzikir bukan sekadar lisan yang menyebut nama Allah. Dzikir adalah perjalanan hati: dari mengingat Allah, hingga hidup kita menjadi sebab Allah mengingat kita.”

TintaSiyasi.id -- Dalam tradisi tasawuf, dzikir bukan hanya aktivitas verbal berupa membaca subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, atau la ilaha illallah. Dzikir adalah kehidupan hati.

Hati yang hidup akan senantiasa memiliki hubungan dengan Allah. Ia bekerja bersama Allah, mencintai karena Allah, takut kepada Allah, berharap kepada Allah, dan pada akhirnya menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Allah.

Abu Hasan Asy-Syadzili—sebagaimana dinisbatkan dalam pembahasan tentang dzikir dalam Risalah al-Amin—menggambarkan perjalanan dzikir dalam empat tingkatan:

1. Dzikir yang engkau ingat.
2. Dzikir yang membuat engkau ingat.
3. Dzikir yang mengingatkanmu.
4. Dzikir yang membuatmu diingat.

Empat ungkapan ini mengandung kedalaman makna. Ia mengajak kita bertanya:

«Apakah selama ini kita hanya berdzikir dengan lisan, atau sudah berdzikir dengan hati, perilaku, dan seluruh kehidupan?»

1. DZIKIR YANG ENGKAU INGAT

Pada tingkat pertama, engkaulah yang mengingat Allah.

Lisan kita mengucapkan:

Subhanallah...
Alhamdulillah...
Allahu Akbar...
La ilaha illallah...

Kita sengaja mengambil waktu untuk berdzikir. Setelah shalat kita berdzikir. Ketika pagi dan petang kita berdzikir. Saat mendapat nikmat kita berdzikir. Ketika menghadapi kesulitan kita berdzikir.

Ini adalah pintu pertama perjalanan spiritual.

Allah berfirman:

«“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 152)»

Pada tahap ini, kita yang berusaha menghadirkan Allah dalam kesadaran.

Masalahnya, manusia sering mengalami dzikir yang mekanis.

Lisan mengucapkan Allah, tetapi hati memikirkan dunia.

Lisan membaca istighfar, tetapi pikiran sibuk dengan urusan yang lain.

Jari menghitung tasbih, tetapi hati belum benar-benar hadir di hadapan Allah.

Karena itu, tantangan pertama dzikir bukan memperbanyak jumlah bacaan semata, tetapi menghidupkan kesadaran ketika menyebut-Nya.

Bukan hanya:

“Berapa kali aku berdzikir?”

Tetapi:

“Seberapa jauh dzikir itu mengubah diriku?”

2. DZIKIR YANG MEMBUAT ENGKAU INGAT

Pada tingkat kedua terjadi perubahan yang lebih dalam.

Jika pada tingkat pertama kita yang mengingat Allah, maka pada tingkat kedua dzikir yang kita lakukan mulai menjadi sarana yang membuat kita selalu ingat kepada Allah.

Kita membaca la ilaha illallah berulang-ulang.

Lama-kelamaan kalimat itu tidak lagi sekadar suara.

Ia menjadi kesadaran.

Ketika melihat dunia, kita teringat Allah.

Ketika mendapatkan rezeki, kita teringat kepada Sang Pemberi rezeki.

Ketika mendapatkan jabatan, kita teringat bahwa jabatan adalah amanah.

Ketika mendapatkan ujian, kita teringat bahwa Allah sedang mendidik kita.

Ketika mendapatkan kesuksesan, kita tidak menjadi sombong karena sadar bahwa semuanya berasal dari Allah.

Inilah transformasi dzikir:

Dari ucapan menjadi kesadaran.

Dari kesadaran menjadi sikap.

Dari sikap menjadi karakter.

Dan dari karakter menjadi jalan hidup.

Orang yang benar-benar berdzikir tidak hanya memiliki lisan yang basah dengan nama Allah, tetapi juga memiliki hati yang basah dengan kesadaran kepada Allah.

3. DZIKIR YANG MENGINGATKANMU

Ini lebih dalam lagi.

Ada saat ketika kita tidak sedang memegang tasbih.

Tidak sedang duduk di majelis dzikir.

Tidak sedang membaca wirid.

Namun tiba-tiba sesuatu mengingatkan kita kepada Allah.

Melihat matahari terbit, hati berkata:

“Mahaindah Allah yang menciptakan alam ini.”

Melihat orang yang sedang kesusahan, hati berkata:

“Allah sedang mengingatkanku untuk berbuat baik.”

Ketika hampir melakukan dosa, hati tiba-tiba bergetar:

“Allah melihatku.”

Ketika memperoleh keuntungan dengan cara yang tidak halal, hati berkata:

“Tidak. Aku tidak ingin kehilangan keberkahan.”

Inilah ketika kehidupan itu sendiri berubah menjadi dzikir.

Alam menjadi ayat.

Peristiwa menjadi pelajaran.

Nikmat menjadi pengingat.

Musibah menjadi nasihat.

Kesuksesan menjadi amanah.

Kegagalan menjadi pendidikan.

Kematian menjadi peringatan.

Bahkan kesunyian menjadi kesempatan untuk bertemu dengan Allah.

Allah berfirman:

«“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali 'Imran: 190)»

Orang yang hatinya hidup mampu membaca ayat Allah yang tertulis dalam Al-Qur'an sekaligus ayat Allah yang terbentang di alam.

4. DZIKIR YANG MEMBUATMU DIINGAT

Ini adalah tingkatan yang sangat menggetarkan.

Bukan lagi sekadar:

“Aku mengingat Allah.”

Tetapi:

“Semoga Allah mengingatku.”

Allah telah menjanjikan:

«“Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingatmu.”
(QS. Al-Baqarah: 152)»

Betapa mulianya seorang hamba ketika ia menjadi manusia yang diingat oleh Allah.

Namun bagaimana seorang hamba berharap menjadi orang yang diingat Allah?

Ia berusaha hidup dalam ketaatan.

Ia menjaga shalat.

Ia memperbanyak dzikir.

Ia menjaga kejujuran.

Ia menyayangi manusia.

Ia menolong yang lemah.

Ia menjaga amanah.

Ia meninggalkan kezaliman.

Ia bertaubat ketika jatuh dalam dosa.

Ia terus kembali kepada Allah ketika tersesat.

Dengan demikian, dzikir tidak berhenti pada ritual, tetapi melahirkan transformasi kehidupan.

DZIKIR YANG SEJATI MELAHIRKAN AKHLAK

Jangan sampai kita banyak berdzikir tetapi mudah menghina.

Jangan sampai banyak membaca tasbih tetapi masih gemar menzalimi.

Jangan sampai lisan kita mengucapkan Allah, tetapi tangan kita menyakiti manusia.

Jangan sampai kita rajin menghadiri majelis dzikir tetapi masih suka mengambil hak orang lain.

Sebab dzikir seharusnya membawa manusia menuju tazkiyatun nafs—penyucian jiwa.

Allah berfirman:

«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)»

Ketenangan hati bukan berarti hidup tanpa masalah.

Orang yang berdzikir tetap bisa diuji.

Tetap bisa kehilangan.

Tetap bisa menangis.

Tetap bisa kecewa.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda:

Ia tidak kehilangan Allah di tengah kehilangan dunia.

Itulah kekuatan dzikir.

DARI DZIKIR LISAN MENUJU DZIKIR KEHIDUPAN

Mari kita lihat perjalanan ini:

Dzikir lisan
↓
Dzikir hati
↓
Dzikir kesadaran
↓
Dzikir perilaku
↓
Dzikir kehidupan

Pada awalnya kita menyebut Allah.

Kemudian kita mengingat Allah.

Kemudian segala sesuatu mengingatkan kita kepada Allah.

Kemudian kita berusaha hidup dengan cara yang membuat kita layak mendapatkan rahmat dan ingatan Allah.

Pada titik inilah seseorang tidak hanya mengucapkan dzikir, tetapi menjadi manusia yang berdzikir.

JANGAN HANYA MENGHAFAL NAMA ALLAH, HADIRKAN ALLAH DALAM KEHIDUPAN

Ada orang yang mampu menghafal banyak doa tetapi belum mampu mengendalikan amarah.

Ada yang hafal banyak wirid tetapi masih sulit memaafkan.

Ada yang rajin berdzikir tetapi belum mampu melepaskan kesombongan.

Padahal tujuan dzikir bukan sekadar membuat lidah kita sibuk.

Tujuan dzikir adalah membangunkan hati yang tertidur.

Karena penyakit terbesar manusia bukan selalu kurangnya pengetahuan.

Kadang kita sudah tahu bahwa Allah melihat kita, tetapi kita masih berani bermaksiat.

Kita tahu rezeki berasal dari Allah, tetapi masih rakus.

Kita tahu kematian pasti datang, tetapi masih terlena.

Kita tahu akhirat kekal, tetapi dunia sering kita jadikan tujuan utama.

Maka yang perlu dibangunkan adalah hati.

DZIKIR DAN PERJUANGAN MEMBANGUN KEHIDUPAN

Dzikir juga bukan alasan untuk meninggalkan kehidupan.

Seorang Muslim tidak berdzikir untuk melarikan diri dari realitas.

Ia berdzikir agar memiliki kekuatan spiritual untuk menghadapi realitas.

Dengan dzikir, kita bekerja lebih jujur.

Dengan dzikir, kita memimpin lebih amanah.

Dengan dzikir, kita mendidik lebih sabar.

Dengan dzikir, kita berdagang lebih halal.

Dengan dzikir, kita berdakwah lebih ikhlas.

Dengan dzikir, kita menggunakan ilmu untuk kemaslahatan.

Dengan dzikir, kita memiliki keberanian mengatakan benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan.

Maka dzikir yang benar melahirkan manusia yang kuat secara spiritual dan mulia secara sosial.

RENUNGAN: DI TINGKAT MANAKAH KITA?

Mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Apakah aku baru berdzikir ketika sedang membutuhkan Allah?

Ataukah aku sudah menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan?

Apakah aku hanya mengingat Allah ketika berada di masjid?

Ataukah aku juga mengingat Allah ketika berada di pasar, kantor, kampus, rumah, dan ruang-ruang kehidupan?

Apakah dzikirku sudah mengubah akhlakku?

Apakah dzikirku membuatku semakin rendah hati?

Apakah dzikirku membuatku semakin jujur?

Apakah dzikirku membuatku semakin mencintai sesama?

Apakah dzikirku membuatku semakin takut melakukan kezaliman?

Dan pertanyaan yang paling dalam:

«Apakah kehidupanku sudah menjadi kehidupan yang layak untuk diingat oleh Allah?»

---

PENUTUP: JADIKAN HIDUP SEBAGAI DZIKIR

Pada akhirnya, dzikir bukan hanya soal berapa banyak kalimat yang keluar dari lisan, tetapi seberapa dalam nama Allah hidup di dalam hati dan tercermin dalam kehidupan.

Mulailah dengan mengingat Allah.

Ulangi dzikir hingga hati belajar mengingat Allah.

Hidupkan kesadaran hingga setiap peristiwa mengingatkan kita kepada Allah.

Kemudian berusahalah menjadi hamba yang kehidupannya dipenuhi ketaatan, sehingga kita berharap termasuk orang-orang yang mendapatkan ingatan, perhatian, rahmat, dan pertolongan Allah.

Sebab tujuan akhir seorang salik bukan sekadar:

“Aku mengingat Allah.”

Tetapi:

“Aku ingin hidup dalam keadaan selalu diingat Allah.”

Dan ketika Allah menjadi pusat kehidupan, dunia tidak lagi menjadi Tuhan yang kita kejar.

Dunia menjadi amanah.

Harta menjadi sarana.

Jabatan menjadi tanggung jawab.

Ilmu menjadi jalan pengabdian.

Keluarga menjadi ladang ibadah.

Dakwah menjadi perjuangan.

Dan seluruh kehidupan menjadi perjalanan pulang menuju Allah.

Ya Allah, hidupkan hati kami dengan dzikir-Mu.
Jadikan lisan kami senantiasa menyebut nama-Mu.
Jadikan kehidupan kami selalu mengingat-Mu.
Dan jadikan kami hamba yang Engkau ingat, Engkau cintai, Engkau rahmati, dan Engkau ridai.

آمين يا رب العالمين.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Opini

×
Berita Terbaru Update