Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sabar dan Takwa, HILMI: Tidak Boleh Menjadi Instrumen Pembungkam Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 21:03 WIB Last Updated 2026-09-16T14:03:25Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa seruan sabar dan takwa tidak boleh dijadikan instrumen pembungkaman terhadap rakyat yang menuntut haknya, melainkan wajib menjadi prinsip penguasa untuk sabar menerima kritik dan bertakwa dalam mengelola kekuasaan.

 

“Seruan sabar dan takwa tidak boleh dijadikan instrumen pembungkaman terhadap rakyat yang menuntut haknya, melainkan wajib menjadi prinsip penguasa untuk sabar menerima kritik dan bertakwa dalam mengelola kekuasaan,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Orang di bawah diuji oleh keterbatasan kekuasaan, sementara orang di atas justru diuji oleh kelebihan kekuasaan. Semakin besar kuasa seseorang, semakin besar pula tuntutan moral dan kewajibannya untuk bertakwa,” tandas HILMI pada Senin (14/09/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 021 bertajuk Sabar dan Takwa Tak Hanya untuk Rakyat: Kekuasaan, Kritik, dan Kewajiban Negara Membangun Sistem yang Mau Mendengar, HILMI menyoroti ketimpangan yang kerap terjadi ketika rakyat menghadapi kesulitan hidup.

 

“Saat harga melonjak, banjir berulang, atau layanan publik memburuk, rakyat selalu diminta bersabar dan bertakwa agar tidak memicu kegaduhan,” keluhnya.

 

Sebaliknya, HILMI menyebut bahwa medan kesabaran penguasa justru terletak pada kesediaan mendengar keluhan warganya. “Penguasa dituntut sabar menghadapi kritik pedas, demonstrasi, sanggahan data, hingga berani mengakui kegagalan program unggulannya,” luganya.

 

“Kekuasaan dalam Islam adalah amanah sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah An-Nisa ayat 58, bukan sekadar hak istimewa (privilege) untuk memaksakan kehendak,” jelasnya.

 

HILMI juga membantah narasi lazim yang menuntut rakyat membawa solusi teknis sebelum menyampaikan keluhan. “Rakyat adalah pihak yang menanggung derita masalah, sedangkan pemerintahlah yang menguasai anggaran, dinas teknis, tenaga ahli, dan kewenangan,” ujarnya.

 

“Warga yang kebanjiran tidak wajib membawa desain teknis drainase atau analisis AMDAL. Keluhan masyarakat adalah sensor lapangan yang sangat vital bagi sistem pemerintahan,” ulasnya.

 

Oleh karena itu, HILMI menyebut bahwa negara yang bertakwa harus menerjemahkan kesalehan pribadi ke dalam arsitektur pemerintahan dengan membangun mekanisme umpan balik (feedback loop) yang sehat.

 

“Tanpa sistem koreksi yang mau mendengar, kekuasaan akan menjadi arogan dan kebal terhadap fakta riil di lapangan,” ulasnya.

 

“Rakyat yang mengeluh belum tentu kurang sabar, melainkan bisa jadi telah terlalu lama bersabar menghadapi kebijakan yang tidak adil,” urai HILMI.

 

“Pejabat yang tidak tahan dikritik belum tentu sedang menjaga kewibawaan negara, melainkan justru pada saat itulah integritas, kesabaran, dan ketakwaannya sedang diuji di hadapan Allah Swt.,” tandasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update