"Peringatan Maulid bukan
sekadar cinta dalam pengertian personal kepada Nabi, melainkan bagaimana kita
membawa risalah Nabi untuk memberikan arah kepada dunia yang sedang kacau-balau
seperti sekarang ini. Ini sangat dibutuhkan oleh dunia, sekaligus menjadi
sumbangsih serta tanggung jawab kita yang luar biasa untuk menyelamatkan
manusia dari kegelapan," ucapnya di kanal YouTube 1 Ummah, Meneladani
Rasulullah, Mengemban Risalah Islam, pada Selasa (25/08/2026).
Adapun, ia menekankan bahwa Islam
tidak lahir di ruang hampa, melainkan hadir di tengah dominasi dua kekuatan
adikuasa dunia saat itu, yakni Kekaisaran Persia dan Romawi. “Lantas sejarah
mencatat bagaimana Islam mampu membuktikan kekuatannya hingga akhirnya
berhadapan langsung dan meruntuhkan dominasi kedua peradaban besar tersebut,” beber
UIY.
"Pertemuan pertama dengan
Romawi terjadi dalam Perang Mu'tah, sedangkan pertemuan pertama dengan Persia
terjadi dalam Perang Al-Qadisiyah," ungkapnya.
Lanjutnya, ia menilai, perang itu
menandakan konfrontasi tersebut bukan sekadar benturan fisik, melainkan
pertemuan dua peradaban besar, yakni peradaban materialisme yang mulai
kehilangan relevansi melawan peradaban wahyu yang menawarkan petunjuk hidup
yang jelas.
"Islam peradaban yang
memberikan arah lebih jelas di tengah kekacauan semua hal, sebagaimana ini hari
terjadi kekacauan di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya. Kalau disebut era
disruption, itu era kekacauan," bebernya.
Pria kelahiran Yogyakarta itu mencontohkan
kekacauan era modern melalui isu gender, di mana konsep dasar laki-laki dan
perempuan yang seharusnya sederhana kini dibuat rumit oleh peradaban Barat
dengan membagi kata sapaan pria dan wanita masing-masing menjadi dua bentuk,
bahkan berkembang hingga diakui menjadi 18 identitas gender seperti yang
terjadi di Tailan.
"Kemudian soal ekonomi,
setelah semua kekacauan ini, untuk apa jika kesenjangan makin hari makin
menganga? Ada orang yang punya kekayaan sampai Rp12 ribu triliun, tetapi
sebegitu banyak orang yang untuk makan sehari-hari pun susah. Politik hari ini,
kalau orang Jawa punya istilah 'asu gede menang kerahi', mereka yang
kuat dialah yang menang," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti,
bagaimana pihak yang memiliki kekuatan bebas bertindak sewenang-wenang tanpa
kendali, sebagaimana terlihat dari berbagai tragedi dan konflik global yang
terjadi di Gaza, Timur Tengah, Venezuela, serta sejarah kelam di Vietnam dan
Irak, yang menurutnya menjadi bukti nyata dari kekacauan peradaban dunia saat
ini.
"Bagaimana mengendalikan
ketika yang memiliki kekuatan dialah yang mengendalikan dan dia kendalikan
untuk keangkaramurkaan dia. Justru di situlah dunia sedang membutuhkan arah
yang benar dan arah yang benar tidak mungkin datang dari kecuali oleh sesuatu
yang Maha Benar," pungkasnya.[] Taufan