Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cendekiawan: Maulid Nabi Adalah Penyelamat Dunia dari Kegelapan Peradaban

Kamis, 03 September 2026 | 20:44 WIB Last Updated 2026-09-03T13:44:44Z

TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar bentuk cinta personal kepada Rasulullah saw., melainkan tanggung jawab besar umat Islam untuk menyelamatkan dunia yang tengah dilanda kekacauan dan kegelapan peradaban.

 

"Peringatan Maulid bukan sekadar cinta dalam pengertian personal kepada Nabi, melainkan bagaimana kita membawa risalah Nabi untuk memberikan arah kepada dunia yang sedang kacau-balau seperti sekarang ini. Ini sangat dibutuhkan oleh dunia, sekaligus menjadi sumbangsih serta tanggung jawab kita yang luar biasa untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan," ucapnya di kanal YouTube 1 Ummah, Meneladani Rasulullah, Mengemban Risalah Islam, pada Selasa (25/08/2026).

 

Adapun, ia menekankan bahwa Islam tidak lahir di ruang hampa, melainkan hadir di tengah dominasi dua kekuatan adikuasa dunia saat itu, yakni Kekaisaran Persia dan Romawi. “Lantas sejarah mencatat bagaimana Islam mampu membuktikan kekuatannya hingga akhirnya berhadapan langsung dan meruntuhkan dominasi kedua peradaban besar tersebut,” beber UIY.

 

"Pertemuan pertama dengan Romawi terjadi dalam Perang Mu'tah, sedangkan pertemuan pertama dengan Persia terjadi dalam Perang Al-Qadisiyah," ungkapnya.

 

Lanjutnya, ia menilai, perang itu menandakan konfrontasi tersebut bukan sekadar benturan fisik, melainkan pertemuan dua peradaban besar, yakni peradaban materialisme yang mulai kehilangan relevansi melawan peradaban wahyu yang menawarkan petunjuk hidup yang jelas.

 

"Islam peradaban yang memberikan arah lebih jelas di tengah kekacauan semua hal, sebagaimana ini hari terjadi kekacauan di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya. Kalau disebut era disruption, itu era kekacauan," bebernya.

 

Pria kelahiran Yogyakarta itu mencontohkan kekacauan era modern melalui isu gender, di mana konsep dasar laki-laki dan perempuan yang seharusnya sederhana kini dibuat rumit oleh peradaban Barat dengan membagi kata sapaan pria dan wanita masing-masing menjadi dua bentuk, bahkan berkembang hingga diakui menjadi 18 identitas gender seperti yang terjadi di Tailan.

 

"Kemudian soal ekonomi, setelah semua kekacauan ini, untuk apa jika kesenjangan makin hari makin menganga? Ada orang yang punya kekayaan sampai Rp12 ribu triliun, tetapi sebegitu banyak orang yang untuk makan sehari-hari pun susah. Politik hari ini, kalau orang Jawa punya istilah 'asu gede menang kerahi', mereka yang kuat dialah yang menang," jelasnya.

 

Lebih lanjut, ia menyoroti, bagaimana pihak yang memiliki kekuatan bebas bertindak sewenang-wenang tanpa kendali, sebagaimana terlihat dari berbagai tragedi dan konflik global yang terjadi di Gaza, Timur Tengah, Venezuela, serta sejarah kelam di Vietnam dan Irak, yang menurutnya menjadi bukti nyata dari kekacauan peradaban dunia saat ini.

 

"Bagaimana mengendalikan ketika yang memiliki kekuatan dialah yang mengendalikan dan dia kendalikan untuk keangkaramurkaan dia. Justru di situlah dunia sedang membutuhkan arah yang benar dan arah yang benar tidak mungkin datang dari kecuali oleh sesuatu yang Maha Benar," pungkasnya.[] Taufan



Opini

×
Berita Terbaru Update