Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ateisme Bukan Posisi Tanpa Asumsi, HILMI: Klaim Ketiadaan Tuhan Wajib Dibuktikan

Senin, 28 September 2026 | 11:44 WIB Last Updated 2026-09-28T04:44:52Z



TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa ateisme bukanlah posisi yang netral atau bebas asumsi, melainkan pandangan metafisika yang turut memikul beban pembuktian rasional atas klaim ketiadaan Tuhan.

 

“Ateisme bukanlah posisi yang netral atau bebas asumsi, melainkan pandangan metafisika yang turut memikul beban pembuktian rasional atas klaim ketiadaan Tuhan,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Ketiadaan keyakinan personal tidak otomatis membuktikan ketiadaan wujud Tuhan secara ontologis. Siapa pun yang mengklaim Tuhan tidak ada, ia memikul beban argumentasi yang sama beratnya untuk menjelaskan asal-usul realitas,” tandas HILMI pada Senin (21/09/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 023 bertajuk Bukti Rasional Kekeliruan Atheisme: Ketika Alam, Akal, dan Moralitas Dibiarkan Tanpa Dasar Terakhir, HILMI menyoroti kerapuhan argumen ateisme dalam menjawab problem kontingensi alam semesta.

 

“Alam semesta beserta bintang dan manusia bersifat kontingen atau tidak wajib ada, sehingga keberadaannya mutlak membutuhkan dasar wujud yang niscaya (necessary being),” jelasnya.

 

Sebaliknya, HILMI menyebut bahwa anggapan ateisme yang menjadikan materi sebagai fakta mentah (brute fact) bukanlah sebuah penjelasan ilmiah. “Mengatakan alam ada begitu saja tanpa pencipta bukanlah jawaban rasional, melainkan pelarian dari kebutuhan eksplanasi kausalitas,” lugasnya.

 

“Hukum fisika hanya mendeskripsikan pola perilaku materi di alam raya, bukan penyebab mengapa materi itu sendiri tercipta,” tambahnya.

 

HILMI juga membantah pertanyaan klise yang kerap dilontarkan ateis mengenai siapa yang menciptakan Sang Pencipta. “Menanyakan penyebab bagi wujud yang niscaya (Wajibul Wujud) adalah kerancuan berpikir yang mereduksi Tuhan menjadi makhluk kontingen lainnya,” ujarnya.

 

“Sains dan metodologi naturalisme laboratorium tidak boleh disamakan dengan kesimpulan metafisika ateistis,” ulasnya.

 

Oleh karena itu, HILMI menegaskan bahwa konsep tauhid merupakan jawaban paling koheren yang menempatkan Allah Swt. sebagai Sang Khalik (al-Khaliq), bukan bagian dari objek fisik yang dicari melalui teleskop.

 

“Kerapuhan klaim bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara utuh tanpa Tuhan membuktikan bahwa ateisme gagal menjadi worldview yang rasional,” urai HILMI.

 

“Ateisme pada akhirnya hanyalah pilihan metafisika yang rapuh, sementara keteraturan alam secara gamblang menuntut adanya Pencipta Yang Mahacerdas,” pungkasnya.[] Rere


 

Opini

×
Berita Terbaru Update