“Ateisme bukanlah posisi yang
netral atau bebas asumsi, melainkan pandangan metafisika yang turut memikul
beban pembuktian rasional atas klaim ketiadaan Tuhan,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.
“Ketiadaan keyakinan personal
tidak otomatis membuktikan ketiadaan wujud Tuhan secara ontologis. Siapa pun
yang mengklaim Tuhan tidak ada, ia memikul beban argumentasi yang sama beratnya
untuk menjelaskan asal-usul realitas,” tandas HILMI pada Senin (21/09/2026).
Di dalam rilis Letter to
Intellectuals No. 023 bertajuk Bukti Rasional Kekeliruan Atheisme:
Ketika Alam, Akal, dan Moralitas Dibiarkan Tanpa Dasar Terakhir, HILMI
menyoroti kerapuhan argumen ateisme dalam menjawab problem kontingensi alam
semesta.
“Alam semesta beserta bintang dan
manusia bersifat kontingen atau tidak wajib ada, sehingga keberadaannya mutlak
membutuhkan dasar wujud yang niscaya (necessary being),” jelasnya.
Sebaliknya, HILMI menyebut bahwa
anggapan ateisme yang menjadikan materi sebagai fakta mentah (brute fact)
bukanlah sebuah penjelasan ilmiah. “Mengatakan alam ada begitu saja tanpa
pencipta bukanlah jawaban rasional, melainkan pelarian dari kebutuhan
eksplanasi kausalitas,” lugasnya.
“Hukum fisika hanya
mendeskripsikan pola perilaku materi di alam raya, bukan penyebab mengapa materi
itu sendiri tercipta,” tambahnya.
HILMI juga membantah pertanyaan
klise yang kerap dilontarkan ateis mengenai siapa yang menciptakan Sang
Pencipta. “Menanyakan penyebab bagi wujud yang niscaya (Wajibul Wujud)
adalah kerancuan berpikir yang mereduksi Tuhan menjadi makhluk kontingen
lainnya,” ujarnya.
“Sains dan metodologi naturalisme
laboratorium tidak boleh disamakan dengan kesimpulan metafisika ateistis,”
ulasnya.
Oleh karena itu, HILMI menegaskan
bahwa konsep tauhid merupakan jawaban paling koheren yang menempatkan Allah
Swt. sebagai Sang Khalik (al-Khaliq), bukan bagian dari objek fisik yang
dicari melalui teleskop.
“Kerapuhan klaim bahwa alam
semesta dapat dijelaskan secara utuh tanpa Tuhan membuktikan bahwa ateisme
gagal menjadi worldview yang rasional,” urai HILMI.
“Ateisme pada akhirnya hanyalah
pilihan metafisika yang rapuh, sementara keteraturan alam secara gamblang
menuntut adanya Pencipta Yang Mahacerdas,” pungkasnya.[] Rere
.png)