Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pandangan Dunia Ateistis-Materialistis Gagal Menemukan Kebenaran Objektif

Senin, 28 September 2026 | 11:45 WIB Last Updated 2026-09-28T04:45:47Z



TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyatakan bahwa pandangan dunia ateistis-materialistis gagal secara fundamental dalam menjelaskan asal-usul kesadaran subjektif dan kemampuan rasionalitas manusia untuk menemukan kebenaran objektif.

 

“Pandangan dunia ateistis-materialistis gagal secara fundamental dalam menjelaskan asal-usul kesadaran subjektif dan kemampuan rasionalitas manusia untuk menemukan kebenaran objektif,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Materi fisik pada tingkat atomik tidak memiliki rasa, cinta, kehendak, maupun kesadaran diri. Mustahil materi yang sama sekali tidak sadar tiba-tiba bertransformasi menjadi subjek yang memiliki kesadaran penuh,” tandas HILMI pada Senin (21/09/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 023 bertajuk Bukti Rasional Kekeliruan Atheisme: Ketika Alam, Akal, dan Moralitas Dibiarkan Tanpa Dasar Terakhir, HILMI mengulas paradoks besar epistemologi naturalistik dalam memandang akal.

 

“Neurosains memang membuktikan korelasi antara aktivitas saraf otak dan proses mental, namun korelasi biologis tidak pernah menjawab mengapa pengalaman batiniah itu hadir,” paparnya.

 

Sebaliknya, HILMI menggarisbawahi bahwa jika akal semata-mata produk sampingan evolusi material, maka fungsinya hanya terbatas pada adaptasi bertahan hidup (survival), bukan untuk memahami kebenaran logis.

 

“Jika proses kimiawi di otak hanyalah reaksi mekanis tanpa arah, tidak ada alasan rasional bagi seorang ateis untuk memercayai validitas kesimpulan logikanya sendiri,” lugasnya.

 

“Menjelaskan penyebab terjadinya keyakinan biologis sangat berbeda dengan membenarkan validitas kebenaran keyakinan tersebut,” jelasnya.

 

HILMI menunjuk pandangan sejumlah filsuf kontemporer yang mengakui bahwa reduksionisme materialis tidak sanggup membedah misteri pikiran dan akal budi manusia. “Bahkan para pemikir nonteistik sekalipun mengakui bahwa narasi materialisme menyisakan lubang besar yang tak terjawab,” ujarnya.

 

“Akal manusia mampu memahami konsep matematika abstrak, metafisika, dan kosmologi yang melampaui kebutuhan sekadar melangsungkan reproduksi fisik,” ulasnya.

 

Oleh karena itu, HILMI menilai kehadiran akal dan kesadaran hanya dapat dipahami secara logis jika bersumber dari Wujud Yang Maha Sadar dan Maha Tahu.

 

“Pandangan Islam meletakkan akal sebagai anugerah Ilahi yang terhubung dengan realitas kebenaran hakiki, bukan semata getaran acak molekul otak,” urai HILMI.

 

“Menolak keberadaan Allah Swt. justru menghancurkan fondasi rasionalitas yang dibanggakan oleh kaum ateis itu sendiri,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update