“Pandangan dunia ateistis-materialistis
gagal secara fundamental dalam menjelaskan asal-usul kesadaran subjektif dan
kemampuan rasionalitas manusia untuk menemukan kebenaran objektif,” tutur HILMI
kepada TintaSiyasi.ID.
“Materi fisik pada tingkat atomik
tidak memiliki rasa, cinta, kehendak, maupun kesadaran diri. Mustahil materi
yang sama sekali tidak sadar tiba-tiba bertransformasi menjadi subjek yang
memiliki kesadaran penuh,” tandas HILMI pada Senin (21/09/2026).
Di dalam rilis Letter to
Intellectuals No. 023 bertajuk Bukti Rasional Kekeliruan Atheisme:
Ketika Alam, Akal, dan Moralitas Dibiarkan Tanpa Dasar Terakhir, HILMI
mengulas paradoks besar epistemologi naturalistik dalam memandang akal.
“Neurosains memang membuktikan
korelasi antara aktivitas saraf otak dan proses mental, namun korelasi biologis
tidak pernah menjawab mengapa pengalaman batiniah itu hadir,” paparnya.
Sebaliknya, HILMI menggarisbawahi
bahwa jika akal semata-mata produk sampingan evolusi material, maka fungsinya
hanya terbatas pada adaptasi bertahan hidup (survival), bukan untuk
memahami kebenaran logis.
“Jika proses kimiawi di otak
hanyalah reaksi mekanis tanpa arah, tidak ada alasan rasional bagi seorang
ateis untuk memercayai validitas kesimpulan logikanya sendiri,” lugasnya.
“Menjelaskan penyebab terjadinya
keyakinan biologis sangat berbeda dengan membenarkan validitas kebenaran
keyakinan tersebut,” jelasnya.
HILMI menunjuk pandangan sejumlah
filsuf kontemporer yang mengakui bahwa reduksionisme materialis tidak sanggup
membedah misteri pikiran dan akal budi manusia. “Bahkan para pemikir nonteistik
sekalipun mengakui bahwa narasi materialisme menyisakan lubang besar yang tak
terjawab,” ujarnya.
“Akal manusia mampu memahami
konsep matematika abstrak, metafisika, dan kosmologi yang melampaui kebutuhan
sekadar melangsungkan reproduksi fisik,” ulasnya.
Oleh karena itu, HILMI menilai
kehadiran akal dan kesadaran hanya dapat dipahami secara logis jika bersumber
dari Wujud Yang Maha Sadar dan Maha Tahu.
“Pandangan Islam meletakkan akal
sebagai anugerah Ilahi yang terhubung dengan realitas kebenaran hakiki, bukan
semata getaran acak molekul otak,” urai HILMI.
“Menolak keberadaan Allah Swt.
justru menghancurkan fondasi rasionalitas yang dibanggakan oleh kaum ateis itu
sendiri,” pungkasnya.[] Rere
.png)