Surah yang turun untuk menenangkan hati Nabi Muhammad SAW
yang sedang bersedih, surah yang penuh kasih sayang Allah, dibacakan di depan
booth miras, lalu ditukar dengan sesuatu yang Allah haramkan di dalam Al-Quran
itu sendiri.
Ironis? Jelas.
Menyakitkan? Banget.
Reaksinya pun meledak di mana-mana.
MUI murka. Menilai ini adalah bentuk merendahkan kesucian
Al-Quran, penistaan agama, dan pelanggaran hukum.
Penyelenggara The Sounds Project pasang badan. Mereka
mengaku marah dan kecewa berat, menegaskan aksi itu di luar kendali dan tanpa
izin mereka. Itu adalah ulah liar dari tenant dan MC yang haus sensasi.
Polisi turun tangan. Laporan penistaan agama sudah masuk dan
proses penyelidikan terhadap EO dan MC booth tersebut sedang berjalan.
Tapi mari jujur, Bu, Kak, teman-teman semua... Masalahnya
tidak selesai hanya dengan memecat MC dan minta maaf.
Kita harus bertanya lebih dalam: Kenapa hal segila ini bisa
kepikiran dan berani dilakukan di Indonesia, negri dengan mayoritas penduduknya
Muslim?
Kenapa Bisa Terjadi?
Karena Sistemnya Memang Memungkinkan
Ini adalah buah busuk dari sistem yang kita hidupi: Sistem
Kapitalis Liberal.
a. Dalam Kapitalisme, Semua Jadi Barang Dagangan.
Tidak ada yang sakral, yang ada hanya yang bisa dijual.
Al-Quran yang mulia pun diubah jadi alat marketing.
Logikanya sederhana: Pakai tantangan Islami biar rame, biar
viral, biar booth dikerumuni orang. Viral=cuan. Agama jadi komoditas, kesucian
dijual demi keuntungan sebotol miras. Mereka tidak peduli Allah ridha atau
tidak, yang penting laporan penjualan naik.
b. Dalam Liberalisme, Semua Atas Nama Kebebasan.
"Kami kan cuma bikin konten seru-seruan, yang ikut juga
mau kok."
Inilah mantra liberal: kebebasan berekspresi tanpa batas.
Ketika kebebasanmu sudah menghina keyakinan miliaran orang
dan menabrak aturan Tuhan, itu bukan lagi kebebasan, tapi kebablasan. Penistaan
dibungkus dengan kata "gimmick" dan "kreativitas".
c. Sekularisme: Agama Cukup di Masjid Saja.
Sistem ini mengajarkan agama jangan dibawa ke ruang publik,
bisnis, dan hiburan. Akhirnya lahirlah pemikiran: "Sholat ya sholat, mabuk
ya mabuk, ngaji ya ngaji, dugem ya dugem."
Padahal dalam Islam, hidup itu satu paket. Islam mengatur
cara kita ibadah DAN cara kita berbisnis, bersenang-senang, dan memberi hadiah.
Ini Dosa Bertumpuk
Dalam Islam, ini bukan pelanggaran biasa.
Pertama, Miras itu Haram Mutlak. Allah sebut
dalam QS. Al-Maidah: 90 sebagai perbuatan keji dari perbuatan setan. Rasulullah
melaknat bukan hanya peminumnya, tapi juga yang membuat, menjual, membelikan,
dan yang menjadikannya hadiah.
Kedua, Ini Merendahkan Al-Quran. Al-Quran
adalah firman Allah yang mulia. Membacanya adalah ibadah. Menghafalnya adalah
kemuliaan. Menjadikannya bahan taruhan di depan botol miras adalah istihza -
mempermainkan agama. Allah sudah mengingatkan dalam QS. At-Taubah 65-66 tentang
bahaya menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan olok-olokan.
Bagaimana mungkin sebuah ketaatan dibalas dengan
kemaksiatan?
Ini Bagian Paling Bahaya: Pengaruhnya ke Kehidupan Sosial
Muslim & Generasi Penerus
Inilah yang harus kita takuti, bukan sekadar videonya yang
viral.
A. Kerusakan Kehidupan Sosial Muslim:
1. Normalisasi Penistaan & Hilangnya Rasa Malu: Hari ini
kita kaget lihat Ad-Dhuha ditukar miras. Kalau dibiarkan tanpa hukuman tegas,
besok kita akan lihat Al-Fatihah ditukar rokok, dan kita hanya bilang "Ah,
lagi-lagi." Batas sensitif kita makin tipis. Rasa cemburu terhadap agama
kita mati pelan-pelan.
2. Tumbuhnya Islamophobia di Negeri Muslim Sendiri: Umat
Islam jadi terlihat aneh jika marah. Ketika kita protes karena Quran dihina,
kita malah dicap "baperan, intoleran, gak asik." Pelaku penistaan
dilindungi atas nama toleransi, sementara yang agamanya dihina disuruh toleran.
3. Perpecahan Sosial: Ulah seperti ini jelas memicu
kegaduhan dan perpecahan. Umat Islam yang hatinya terluka akan bereaksi, dan
itu dimanfaatkan untuk mengadu domba.
B. Racun Mematikan Bagi Generasi Penerus - Anak-Anak Kita:
1. Krisis Adab Sebelum Krisis Ilmu: Anak kita mungkin hafal
Ad-Dhuha, tapi mereka diajari bahwa hafalan itu hanya bernilai sebotol miras.
Mereka pintar secara lisan, tapi miskin adab. Mereka kehilangan rasa ta'dzhim -
mengagungkan Al-Quran. Padahal adab itu di atas ilmu.
2. Bingung Membedakan Halal-Haram: Di rumah kita ajarkan
"Nak, miras itu haram, dekat-dekat saja jangan." Tapi di media sosial
mereka lihat: "Loh, kok kakak-kakak keren di festival itu dapat miras
karena ngaji? Berarti ngaji dan miras itu satu paket yang keren dong?"
Cara berpikir mereka jadi rusak. Agama dianggap bisa dicampur aduk dengan
maksiat.
3. Agama Hanya Jadi Konten, Bukan Pedoman Hidup: Generasi
TikTok diajari bahwa agama itu bukan untuk diamalkan, tapi untuk dikontenkan.
Baca Quran bukan untuk dapat pahala dan petunjuk, tapi untuk dapat hadiah,
gift, dan viral. Niat ikhlas karena Allah hilang, diganti niat cari validasi
dan hadiah haram.
Kasus di Ancol ini bukan sekedar berita viral, yang besok
setelah minta maaf beres.
Ini adalah cermin.
Cermin yang menunjukkan kondisi ketika Al Qur’an bukan
dijadikan sistem yang mengatur kehidupan kita.
Cermin saat negara tak berperan menjaga kesholehan warga
negara.
Mudah sekai orang-orang menghina Islam.
Tugas kita sekarang bukan hanya mengecam booth itu.
Bukan hanya memastikan di rumah kita, di sekolah anak kita,
dan di lingkungan kita, Al-Quran kembali ditempatkan pada tempatnya yang paling
tinggi.
Tapi juga mengupayakan sistem yang menerapkan Al-Qur’an
secara kaffah dan menjaga aqidah umat
Setuju?
.png)