Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tepi Barat Kian Membara dan Nestapa Anak Palestina

Jumat, 21 Agustus 2026 | 06:02 WIB Last Updated 2026-08-20T23:02:22Z
Tintasiyasi.id.com -- Kekerasan di Tepi Barat kian membara akibat serangan masif dari tentara serta pemukim Israel. Kebrutalan yang terus meningkat ini merusak kehidupan masyarakat sipil secara luas. Anak-anak menjadi kelompok yang paling menderita akibat konflik bersenjata ini.

Berdasarkan data resmi yang diverifikasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) antara Januari 2024 dan Juli 2026, tercatat sebanyak 174 anak Palestina tewas di wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. 

Angka ini mencerminkan realitas kelam di mana lebih dari satu anak kehilangan nyawa setiap minggunya akibat kekerasan yang terjadi secara terus-menerus. (news.republika.co.id, 12/08/26)

Kondisi fisik dan mental anak-anak di sana berada dalam bahaya besar. Lebih dari 1.500 anak dilaporkan mengalami luka-luka, dengan hampir separuhnya menderita luka serius akibat tembakan peluru tajam dari pasukan keamanan maupun kelompok pemukim.

Selain ancaman fisik, penangkapan sepihak juga membayangi kehidupan mereka sehari-hari. Hingga saat ini, sebanyak 355 anak Palestina dari Tepi Barat ditahan dalam fasilitas tahanan militer Israel. Jumlah penahanan ini menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu delapan tahun terakhir. (riau.antaranews.com, 15/08/26)

Genosida dalam Senyap dan Bungkamnya Dunia

Tindakan yang menyasar anak-anak merupakan bentuk kejahatan yang tidak bisa ditoleransi oleh akal sehat manusia. Kekerasan sistematis ini menimbulkan trauma mendalam, penderitaan fisik berkepanjangan, serta kerusakan fasilitas pendidikan dan tempat tinggal. Hilangnya ruang aman bagi tumbuh kembang anak-anak merenggut hak dasar mereka untuk hidup tenang.

Ada indikasi kuat bahwa perluasan agresi ini merupakan strategi teror terencana. Melalui ribuan serangan, pengusiran paksa, perampasan tanah, serta penghancuran rumah, ada upaya untuk menguasai Tepi Barat secara bertahap. 

Pola penggusuran ini mirip dengan apa yang terjadi di Jalur Gaza. Agenda tersebut merupakan sebuah genosida dalam senyap yang bertujuan mengubah demografi wilayah secara total. 

Sayangnya, respons global terhadap tragedi kemanusiaan ini dinilai sangat minim. Dunia internasional, termasuk para penguasa di berbagai negeri muslim, cenderung diam tanpa mengambil tindakan militer yang konkret. 

Akibatnya, kecaman diplomatik di meja perundingan terbukti tidak cukup kuat untuk menekan jalannya agresi di lapangan. 

Jalan Keluar dan Solusi Hakiki

Dalam pandangan Islam, pembiaran terhadap kejahatan kemanusiaan dan kezaliman kepada anak-anak hukumnya haram secara total. Setiap nyawa manusia dilindungi, dan menjadi kewajiban bersama bagi umat manusia untuk menghentikan penindasan di manapun terjadinya. 

Tindakan diam seribu bahasa di hadapan kezaliman yang nyata merupakan bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang dijunjung tinggi oleh syariat. Allah Swt. mengutuk keras para pelaku kezaliman serta mereka yang mendukungnya melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an: 

"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka." (QS. Hud: 113)

Solusi mendasar dari persoalan tragis ini adalah terwujudnya ikatan ukhuwah Islamiyah yang kokoh di antara seluruh negeri muslim tanpa sekat geografis. Persatuan politik dan militer yang kuat di bawah institusi global, yakni Khilafah menjadi kebutuhan mendesak agar umat memiliki posisi tawar yang diperhitungkan di kancah internasional. 

Kehadiran institusi berskala global ini diperlukan untuk memberikan perlindungan fisik yang nyata, sistematis, dan menyeluruh bagi wilayah-wilayah yang tertindas. Melalui kesatuan ini, kaum muslimin dapat bergerak sebagai satu tubuh yang saling menguatkan. Solidaritas universal ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw. dalam hadis : 

"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam." 
(HR. Bukhari dan Muslim).


Oleh karena itu, seruan untuk melakukan tindakan nyata yang bersifat taktis dan strategis harus terus digelorakan ke seluruh penjuru dunia. Partai politik ideologis memiliki peran besar untuk menyuarakan kewajiban pembelaan militer dan pengiriman pasukan bantuan guna membebaskan tanah Palestina secara nyata dan menyeluruh dari cengkeraman penjajahan. 

Upaya ini bukan sekadar diplomasi di atas kertas, melainkan implementasi dari komitmen iman untuk menyelamatkan darah kaum muslimin yang tertumpah.

Kewajiban menghentikan kemungkaran berskala besar seperti ini tidak boleh ditunda atau dialihkan dengan solusi-solusi semu yang terbukti gagal selama puluhan tahun. 

Ketika kekuatan militer dan politik dunia abai, maka menyeru para penguasa muslim untuk mengerahkan tentara adalah kewajiban syar'i yang mendesak. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk mengubah kemungkaran dengan kekuatan nyata melalui hadis :

"Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya/kekuatannya)." 
(HR. Muslim no. 49/70)

Pada akhirnya, pembebasan hakiki hanya akan terwujud apabila umat
Islam kembali kepada agamanya secara kaffah dan membuang ego nasionalisme kelompok. Perjuangan menyelamatkan anak-anak dan warga yang tertindas adalah ujian keimanan bagi seluruh kaum muslimin hari ini. 

Hanya dengan kekuatan yang bersatu, keadilan Islam secara mendunia dapat ditegakkan kembali untuk menghapus segala bentuk penjajahan di muka bumi. Wallahu'alam bishshowwab.[]

Oleh: Hanum Hanindita, S.Si. (Penulis Artikel Islami)

Opini

×
Berita Terbaru Update