Tintasiyasi.i.com -- 6 bulan pasca pembentukannya pada Februari 2026, Board of Peace (BoP) telah menjadi agenda besar dunia untuk merekonstruksi Gaza. Terdapat banyak kejanggalan sejak pendiriannya, salah satunya adalah rencana pelucutan senjata secara lengkap untuk Hamas dan kelompok bersenjata Gaza lainnya, dengan kesepakatan bahwa setelah pelucutan senjata dilakukan, maka tentara Israel akan ditarik secara perlahan (Detik, 31/07/2026).
Terdapat ungkapan lama yang akan relevan bagi setiap bangsa yang tengah berjuang sebagaimana di Gaza, “jangan pernah menyerahkan senjata di tengah medan perang, sebab itu sama saja dengan menyerahkan nyawa kepada lawan”.
Namun realitas hari ini, atas nama perdamaian, senjata itu justru diminta untuk lepas ketika genosida berlangsung kepada kaum Muslim. Maka wajar jika menjadi pertanyaan besar, bagaimana perdamaian bisa terwujud, di tengah sistem kapitalis yang nyata memusuhi Islam?
Pada titik inilah kewaspadaan umat harus kembali dibangkitkan. Wacana penolakan terhadap BoP yang dulu sangat kuat terdengar, kini mulai tergerus oleh lelahnya opini publik dan derasnya narasi HAM yang ingin melindungi Zionis.
Padahal, bergabung pada skema proyek ini, hakikatnya sama saja dengan menyerahkan wilayah Gaza ke mulut harimau. Bagaimana mungkin pihak yang selama ini menjadi aktor penjajahan dunia, lalu dipercaya menjadi wasit perdamaian?
Bisa diibaratkan menitipkan kambing kepada serigala, lalu berharap sang kambing selamat.
Laporan Aljazeera mencatat bahwa sejak serangan Oktober 2023, Israel telah membunuh sekitar 75.200 warga Palestina.
Bahkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Gaza sebelum proses pelucutan senjata benar-benar tuntas (Kompas, 10/08/2026).
Sebuah syarat yang jelas menempatkan Gaza dalam posisi negosiasi lemah tanpa jaminan apa pun. Kita perlu mempertanyakan, jika memang niat AS adalah benar-benar untuk memberikan perdamaian, mengapa rancangan perdamaian besar ini muncul setelah lebih dari 73 ribu nyawa melayang sejak 2023, setelah kota-kota diratakan, setelah rumah sakit dan gedung penyiaran turut menjadi sasaran serangan?
Dengan segala masalah yang nampak selama perancangan dan realisasi BoP, membiarkan proyek ini berjalan terus-menerus akan menjadi dosa jariyah yang dialirkan kepada setiap umat muslim yang diam dan tidak peduli. Kita perlu menghadirkan solusi hakiki yang dicontohkan oleh saw. untuk menjaga marwah dan eksistensi umat.
Sebagai kiblat pertama umat muslim, mempertahankan Al-Aqsa bukan hanya menjadi kewajiban masyarakat Gaza, namun menjadi beban tanggung jawab umat Muslim yang imannya masih tertancap. Tidak bisa hanya mencukupkan diri dengan berjuang secara personal atau hanya melalui doa.
Genosida yang menggunakan senjata lengkap, tidak bisa dihentikan kecuali dengan menggunakan senjata yang sama. Ratusan kesepakatan sudah digagas untuk genjatan senjata sejak 1948 hingga saat ini, namun tidak satupun yang menghasilkan perdamaian.
Maka, persatuan umat adalah cara mutlak untuk memberi perlawanan militer yang dapat mengimbangi kekuatan Israel. Namun, dengan kondisi terpecahnya umat muslim saat ini, menyatukannya adalah sebuah langkah awal untuk kembali mengulang masa ketika Umar bin Khathab menerima kunci Baitul Maqdis, atau ketika Shalahuddin Al-Ayyubi menguatkan militernya untuk mengambil kembali tanah kenabian Al-Aqsa.
Bersatu di bawah komando Khalifah yang sama, di bawah akidah Islam, dan di bawah aturan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Berdiam diri, bukanlah pernyataan sikap yang bisa dilakukan kaum muslim ketika melihat Palestina berada di puncak genosida.
Ketika kita diam, sama saja kita sedang membunuh kebenaran yang masih tersisa di bumi ini. Menyeru kembali umat untuk bersatu, menjadi satu-satunya cara agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin.
Menyeru umat untuk menerima panggilan akidah yang sama, melanjutkan perjuangan nabi untuk berjihad, menjaga agama Allah, serta menggugurkan kewajiban berjihad di pundak kita.
Sebagaimana kalamullah dalam QS. Al-Baqarah: 216 yang artinya, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Namun, dalam proses menyiapkan diri untuk berjihad, kita memerlukan satu imamah untuk memberikan arah dalam proses mengembalikan kemuliaan Islam. Mewujudkan fase kebangkitan Islam yang haqiqi, dengan kembali menerapkan metode kenabian, yaitu merealisasikan aturan berdasarkan aturan Al-Qur’an dan Sunah.
Sebagaimana Rasulullah saw. yang tak hanya berperan sebagai nabiyullah, namun juga secara praktis menjadi kepala negara yang mewujudkan kesempurnaan Islam dengan dakwah politik luar biasa.[]
Oleh: Lailin Nurul Hidayati
(Aktivis Muslimah)