Tintasiyasi.id.com -- “Selamatkan Generasi dengan Islam Kaffah.”
Begitu yang saya baca di salah satu poster yang dibawa ibu-ibu dalam sebuah aksi damai di depan Gedung Grahadi Surabaya, Ahad 9 Agustus 2026.
Kalimatnya singkat, tetapi pesannya tidak sesederhana tulisan di atas karton. Sebab, pasti ada yang bertanya-tanya, “Islam kaffah itu seperti apa modelnya?”
Apakah Islam kaffah hanya rajin salat? Hanya memakai pakaian syar’i? Hanya rajin ikut kajian?
Tentu tidak sesempit itu.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa Islam adalah mabda’, yakni ideologi yang lahir dari akidah Islam dan memancarkan sistem untuk mengatur kehidupan.
Karena itu, Islam bukan sekadar mengatur hubungan manusia dengan Allah di masjid, lalu berhenti ketika manusia masuk pasar, sekolah, kantor, ruang keluarga, bahkan urusan negara.
Islam memiliki aturan tentang kehidupan individu, keluarga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, pergaulan, hukum hingga pemerintahan. Inilah makna berislam secara kaffah adalah mengambil Islam sebagai jalan hidup secara menyeluruh, bukan memilih sebagian ajarannya lalu menyingkirkan sebagian yang lain ketika dianggap tidak sesuai dengan selera zaman.
Allah SWT memerintahkan kaum beriman untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Islam tidak hadir sekadar menjadi aksesori identitas. Islam datang membawa pandangan hidup dan aturan kehidupan.
Lalu, mengapa harus Islam kaffah?
Karena sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan justru gagal membentuk generasi.
Sekularisme membolehkan agama hidup di ruang privat, tetapi ketika agama ingin mengatur pendidikan, pergaulan, budaya, bahkan kebijakan negara, ia segera diminta mundur.
Agama boleh bicara pahala dan dosa, tetapi jangan terlalu ikut mengatur kurikulum.
Agama boleh hadir saat akad nikah, tetapi jangan bicara sistem pergaulan.
Agama boleh mengisi ceramah, tetapi jangan mengkritik gaya hidup. Agama boleh didengar di masjid, tetapi jangan dibawa ke ruang publik.
Akhirnya lahirlah generasi yang mungkin mengenal Tuhannya, tetapi hidup dalam sistem yang setiap hari mengajarkan nilai berbeda. Di rumah diajari menjaga diri, di luar sana ia dibombardir budaya kebebasan tanpa batas. Di sekolah diajari prestasi, tetapi layar ponselnya menawarkan tontonan, gaya hidup dan standar pergaulan yang jauh dari nilai Islam.
Jangan heran jika satu sisi masyarakat sibuk membuat seminar akhlak, sementara sisi lain sistem terus membuka pintu kerusakan.
Hari ini muncul persoalan L98t, seks bebas, besok narkoba. Lalu miras, kekerasan, perundungan, curanmor dan berbagai masalah sosial lainnya. Setiap kasus ditangani seperti kebakaran kecil yang harus dipadamkan satu per satu. Ada sosialisasi, seminar dan kampanye. Besok muncul lagi.
Padahal masalahnya bukan sekadar anak yang “nakal”. Kita perlu bertanya lebih dalam sistem nilai seperti apa yang setiap hari membentuk mereka?
Inilah bedanya jika Islam diterapkan secara kaffah. Pendidikan tidak hanya mengejar anak agar pintar menjawab soal dan siap masuk dunia kerja. Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia dengan pola pikir dan pola sikap Islam.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa kepribadian Islam, syakhsiyah Islamiyah, terbentuk dari pola pikir Islam dan pola sikap Islam. Artinya, seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui bahwa Islam itu benar. Cara berpikirnya dibentuk dengan akidah Islam, sementara perilakunya diarahkan oleh hukum syariah.
Inilah generasi yang kita rindukan, yaitu generasi yang ketika berhadapan dengan suatu persoalan tidak sekadar bertanya, “Aman tidak? Ketahuan tidak? Viral tidak?” Tetapi lebih dahulu bertanya, “Apa hukum Allah dalam perkara ini?”
Ketika akidah ditanamkan kuat, cara berpikir dibentuk dengan Islam, lingkungan masyarakat mendukung ketaatan, pendidikan memiliki arah yang benar, dan negara menjalankan kebijakan yang melindungi masyarakat dari kerusakan, pencegahan tidak lagi dibebankan hanya kepada orang tua.
Hari ini kita terlalu sering menyuruh orang tua mengawasi anak. Padahal anak hidup dalam budaya dan sistem yang jauh lebih besar daripada ruang keluarga. Ibu bisa mengingatkan. Ayah bisa menasihati. Guru bisa mendidik. Tetapi kalau lingkungan justru menarik anak ke arah sebaliknya, perjuangan itu semakin berat.
Karena itu, Islam kaffah bukan sekadar slogan di atas poster. Ia adalah kebutuhan untuk menyelesaikan masalah sampai ke akarnya.
Sistem Islam tentu tidak menjadikan manusia malaikat. Pelanggaran tetap mungkin terjadi. Namun Islam membangun pencegahan dari hulu hingga hilir, yaitu dengan menanamkan akidah, membentuk syakhsiyah Islamiyah, mengatur pergaulan, menjaga lingkungan sosial, mencegah sebab-sebab kerusakan, serta menerapkan aturan yang menjaga masyarakat.
Dengan sistem seperti ini, persoalan L98t tidak cukup dilihat hanya sebagai satu gejala yang harus ditolak. Islam juga memiliki mekanisme untuk mencegah berbagai kerusakan lain, seperti seks bebas, narkoba, miras, kekerasan, perundungan, pencurian dan berbagai bentuk penyimpangan sosial.
Sebab Islam tidak hanya sibuk mengobati akibat. Islam membangun kehidupan agar sebab-sebab kerusakan tidak terus diproduksi oleh sistem itu sendiri.
Sekularisme sudah lama menjanjikan kebebasan. Tetapi mengapa semakin banyak orang tua justru hidup dalam kecemasan? Anak harus dijaga dari narkoba, seks bebas, miras, kekerasan, pergaulan yang merusak dan konten yang tidak pantas.
Ibu-ibu zaman sekarang rasanya bukan cuma jadi orang tua. Sudah seperti satpam, guru BK, admin parental control, intelijen, sekaligus operator CCTV keluarga.
Sampai kapan semua beban ini diletakkan di pundak keluarga, sementara sistem di sekelilingnya terus mengajarkan kebebasan tanpa batas?
Barangkali inilah mengapa sebagian ibu memilih turun ke jalan. Bukan karena mereka merasa paling suci. Bukan karena mereka membenci manusia lain. Tetapi karena mereka memahami bahwa generasi sedang menghadapi arus pemikiran yang sangat besar.
Dan arus sebesar itu tidak cukup dilawan dengan nasihat sebelum tidur. Kita membutuhkan Islam sebagai mabda’. Islam yang tidak dipreteli menjadi urusan ritual semata. Islam yang menjadi dasar berpikir dan menjalani kehidupan, yaitu Islam kaffah.
Sebab yang kita perjuangkan bukan sekadar agar generasi hari ini selamat dari satu masalah. Yang kita perjuangkan adalah lahirnya generasi bersyakhsiyah Islamiyah (generasi yang berpikir Islami, berperilaku Islami) sadar terhadap halal dan haram, serta menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya.
Generasi yang ketika kebebasan ditawarkan, ia tidak kehilangan batas. Ketika godaan datang, ia memiliki kompas. Ketika dunia mengajaknya mengikuti arus, ia tahu ke mana harus kembali.
Bukan generasi yang sekadar cerdas. Bukan pula sekadar sukses. Tetapi generasi yang memiliki kepribadian Islam. Tidakkah kita merindukannya?
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)