Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Puncak Kemerdekaan Adalah Terbebas dari Penghambaan kepada Sesama Manusia

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:11 WIB Last Updated 2026-08-29T00:11:34Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa puncak kemerdekaan yang paling hakiki bukanlah sebatas lepasnya wilayah teritorial dari pasukan penjajah, melainkan tatkala manusia sepenuhnya terbebas dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan mutlak hanya kepada Allah Swt.

 

“Puncak kemerdekaan yang paling hakiki bukanlah sebatas lepasnya wilayah teritorial dari pasukan penjajah, melainkan tatkala manusia sepenuhnya terbebas dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan mutlak hanya kepada Allah Swt,” tutur HILMI.

 

 “Merdeka yang hakiki adalah ketika manusia tidak mempunyai tuan yang mutlak selain Allah,” tandas HILMI kepada TintaSiyasi.ID dalam rilis Letter to Intellectuals No. 011 bertajuk Sudahkah Indonesia Benar-Benar Merdeka? pada Senin (10/08/2026).

 

HILMI menguraikan tujuh lapisan kemerdekaan. “Pertama, merdeka secara teritorial, yakni ketiadaan kekuatan militer asing yang menduduki wilayah suatu negara secara fisik,” ujarnya.

 

Kedua, merdeka menentukan pemerintahan (political sovereignty). “Yaitu kemampuan rakyat memilih pemimpinnya sendiri tanpa intervensi dan tekanan oligarki maupun kekuatan global,” ulasnya.

 

Ketiga, merdeka menentukan hukum. “Yakni kemampuan sebuah bangsa merumuskan undang-undang dan aturan hidupnya secara mandiri tanpa disandera rekomendasi atau syarat pembiayaan lembaga internasional,” urainya.

 

Keempat, merdeka secara teknologi (technological sovereignty), di mana sebuah negara mampu menguasai teknologi inti strategis agar tetap dapat berfungsi mandiri.

 

Kelima, merdeka secara ekonomi. “Yakni ketahanan menghadapi tekanan eksternal dan kemampuan menolak hegemoni tanpa khawatir ekonomi nasional runtuh,” katanya.

 

Keenam, merdeka menentukan jalan peradaban (civilizational sovereignty). ”Kemandirian dalam merumuskan konsep manusia, keluarga, sistem masyarakat, dan nilai kebaikan tanpa mengekor definisi kemajuan bangsa lain,” imbuhnya HILMI.

 

Ketujuh, merdeka dari penghambaan kepada sesama manusia melalui prinsip tauhid.

 

“Manusia tak pernah benar-benar bebas dari penghambaan. Ketika ia tidak menghamba kepada Allah, ia dapat menghamba kepada uang, kekuasaan, pasar, negara, ideologi, opini masyarakat, ataupun hawa nafsunya sendiri,” paparnya mengutip surah Yusuf ayat 40 dan surah Fatir ayat 15.

 

HILMI menjelaskan bahwa ketaatan total kepada wahyu dan syariat Allah Swt. membebaskan manusia dari aneka benturan kepentingan pribadi, politik, maupun korporasi yang melekat pada hukum buatan manusia.

 

“Kemerdekaan yang paling hakiki adalah ketika seluruh kekuatan tersebut tidak membuat manusia menghamba kepada bangsa lain, kepada oligarki, kepada negara, kepada modal, kepada teknologi, ataupun kepada hawa nafsu,” beber HILMI.

 

“Mungkin ini pekerjaan terbesar sesudah Proklamasi. Bukan sekadar mempertahankan Indonesia agar tetap merdeka, tetapi juga menyempurnakan kemerdekaan itu, dari merdekanya tanah air menuju merdekanya manusia,” pungkasnya.[] Rere


 

Opini

×
Berita Terbaru Update