Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Di Balik Layar dan Tawa Gen Z: Beban Tersembunyi, Krisis Makna dan Solusi Sejati dalam Islam

Selasa, 25 Agustus 2026 | 09:59 WIB Last Updated 2026-08-25T03:00:05Z
TintaSiyasi.id -- Tanggal gajian tiba. Notifikasi transfer masuk ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda. Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya.

Ada yang membeli lipstik dan parfum baru, memesan kopi atau matcha, memperpanjang langganan layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, sampai berburu tiket konser. 

Namun, bagi banyak Gen Z, membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja selama sebulan penuh. Lalu muncul pertanyaan, apakah kebiasaan self-reward benar-benar mencerminkan gaya hidup konsumtif, atau justru menjadi cara generasi muda bertahan menghadapi tekanan ekonomi dan psikologis?
( kompas.com, 12/08/2026 ). 

Generasi Z tumbuh di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Mereka hidup dalam era digital, ketika informasi, hiburan, dan berbagai tren dapat diakses hanya melalui layar ponsel. Di satu sisi, perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan. Namun, di sisi lain, generasi ini juga menghadapi tekanan yang tidak ringan, terutama dalam persoalan ekonomi, tuntutan gaya hidup, serta pencarian makna hidup. 

Angka-angka berbicara jujur, lebih dari 48 persen Generasi Z mengaku tidak merasa aman secara finansial. Di saat yang sama, pengeluaran untuk memanjakan diri, pergi "healing", dan mengikuti gaya hidup tampak justru makin meningkat. Bukan karena mereka boros tanpa alasan, melainkan karena hal itu dirasakan sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Mereka lelah, dan mencoba melarikan diri dari tekanan dengan cara apa pun yang bisa dijangkau.

Tekanan Ekonomi yang Menghimpit
Penyebab pertama dan paling nyata adalah beban ekonomi yang semakin berat. Biaya kebutuhan pokok, tempat tinggal, pendidikan, dan biaya hidup sehari-hari terus naik. Sebaliknya, pendapatan dan peluang kerja tidak berimbang. Upah cenderung tertahan, sementara harga terus melesat. Sistem yang berjalan saat ini seolah membiarkan pasar berjalan sendiri, sementara negara perlahan melepaskan tanggung jawab menjamin kesejahteraan rakyat. Akibatnya, generasi muda harus berjuang seorang diri, bekerja sekuat tenaga, berhemat sebisa mungkin, namun tetap merasa tertinggal jauh. Mereka bekerja keras, namun masa depan terasa samar dan tidak menentu.

Pelarian yang Menjerat adalah Budaya Hedonis dan Gaya Hidup

Tekanan ekonomi itu diperparah dengan gaya hidup yang kini dianggap wajar seperti mengejar kesenangan sesaat sebagai penghibur. Di media sosial, setiap hari terpampang gaya hidup tampak mewah, jalan-jalan, barang-barang bermerek, dan kebahagiaan yang seolah hanya bisa dibeli dengan uang. Munculah rasa takut tertinggal, rasa malu jika tidak mengikuti tren, dan keinginan kuat untuk merasakan "kebahagiaan" yang sama. Maka, meski dompet menipis, mereka tetap membelanjakan uang untuk sekadar merasa tenang sejenak. Padahal, pelarian itu tidak menyelesaikan masalah. Setelah euforia hilang, kecemasan dan beban kembali datang, bahkan terasa lebih berat dari sebelumnya.

Krisis Paling Dalam yaitu Hilangnya Tujuan Hidup

Namun di balik semua itu, ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan jarang disadari: krisis makna dan tujuan hidup. Ketika pandangan hidup hanya berpusat pada dunia kesenangan, penampilan, pengakuan sesama manusia, maka ukuran kebahagiaan pun menjadi sempit. Kebahagiaan diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari ketenangan hati dan ridha Allah. Akibatnya, meski sudah memiliki pekerjaan, teman, dan gaya hidup yang cukup, hati tetap merasa kosong. Karena manusia diciptakan bukan sekadar untuk mencari nafkah dan bersenang-senang, melainkan untuk tujuan yang jauh lebih mulia: beribadah kepada Allah, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an Surah Adz-Dzariyat ayat 56. Tanpa memahami hakikat ini, hidup terasa seperti berjalan tanpa arah, cepat, namun entah ke mana.

Islam menawarkan solusi yang menyentuh seluruh aspek kehidupan, mulai dari kebutuhan fisik hingga kebutuhan jiwa.

Pertama, dalam sistem yang berlandaskan syariat, seperti yang dijamin dalam Negara Khilafah, kebutuhan dasar setiap warga negara menjadi tanggung jawab bersama. Sumber daya alam dikelola untuk kemaslahatan seluruh rakyat, bukan untuk keuntungan segelintir pihak. Setiap orang yang bersungguh-sungguh bekerja akan mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang mencukupi. Dengan begitu, generasi muda tidak perlu berjuang sendirian di bawah tekanan biaya hidup yang tidak masuk akal. Ada kepastian bahwa kebutuhan dasar akan terpenuhi, sehingga mereka bisa hidup tenang dan berkarya tanpa terus-menerus cemas.

Kedua, Islam menutup pintu gaya hidup yang boros dan penuh kemewahan tanpa makna. Islam juga melindungi generasi dari paparan pandangan hidup yang merusak termasuk budaya sekuler-kapitalisme yang memandang dunia sebagai segalanya. Sarana informasi dan komunikasi tidak diarahkan untuk memamerkan kemewahan atau memicu keinginan berlebihan, melainkan untuk mendidik, menyebarkan kebaikan, dan meningkatkan ketakwaan. Generasi tumbuh dengan lingkungan yang menyejukkan jiwa, bukan menciptakan kecemasan dan rasa kurang.

Ketiga, dan yang terpenting, Islam memberikan makna hidup yang jelas. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Ibadah bukan sekadar shalat dan puasa, melainkan seluruh kehidupan yang dijalani untuk meraih ridha-Nya. Dengan akidah yang kokoh, standar kebahagiaan pun berubah: bukan lagi dari seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan dari seberapa taat hamba menjalankan perintah-Nya. Harta adalah sarana, bukan tujuan. Kesenangan dunia adalah nikmat yang sementara, sedangkan yang bersama Allah adalah lebih baik dan kekal. Ketika Gen Z memahami hal ini, mereka tidak lagi hanyut dalam pelarian sesaat. Mereka tumbuh menjadi generasi yang memiliki visi: membangun peradaban Islam yang mulia, di mana kebahagiaan dunia dan akhirat diupayakan sekaligus.

Penutup
Tekanan ekonomi, budaya pelarian, dan hilangnya makna hidup memang menjadi beban berat yang dipikul Gen Z saat ini. Namun semua itu muncul karena pandangan hidup yang keliru dan sistem yang tidak berpihak pada rakyat. Jika kembali kepada Islam sebagai pandangan hidup dan sistem kehidupan, maka tekanan akan tergantikan dengan jaminan kesejahteraan, pelarian sesaat akan tergantikan dengan ketenangan jiwa; dan kebingungan arah akan tergantikan dengan tujuan hidup yang jelas: beribadah kepada Allah dan membangun peradaban yang diridhoi-Nya. Di sanalah letak kebahagiaan sejati.


Oleh: Dian Puspitasari
Penulis Aktivis Dakwah

Opini

×
Berita Terbaru Update