Data I-NAMHS, yang dilaporkan oleh KBK News menyatakan, 67% remaja SMA di Indonesia lebih memilih curhat ke teman sebaya dan mencari jawaban di media sosial daripada ke orang tuanya atau guru BK.
Bahkan yang lebih mengejutkan, Survei DP3AP2KB di 35 Kabupaten/Kota Jawa Tengah, disampaikan oleh Sekda Jateng Sumarno, diberitakan beritajateng.tv April 2026: Survei resmi ini menemukan fenomena baru: Anak-anak kalau ada masalah, curhatnya ke AI. Bukan ke bapak ibunya.
Padahal sepertiga remaja Indonesia sedang mengalami masalah kesehatan mental. Tapi hanya 4,3% orang tua yang sadar kalau anaknya butuh bantuan. (data I-NAMHS dilaporkan oleh BaKTI News dan The Conversation). Jadi, anaknya sudah teriak dalam diam, orang tuanya mengira anaknya baik-baik saja karena nilainya masih bagus.
Saya jadi bertanya kepada diri sendiri: Kalau suatu hari anak saya benar-benar punya masalah besar, apakah saya masih menjadi orang pertama yang ia cari? Atau jangan-jangan ia lebih dulu membuka HP? Mencari teman? Atau bahkan bertanya kepada AI?
Ya Allah. Resahnya hati ini. Bagaimana jika jawaban yang didapat tak sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini kami tanamkan?
Takutnya: Anak sedang tidak baik-baik saja, sementara orang
tuanya tidak menyadarinya. Anaknya masih sekolah. Nilainya masih bagus. Masih
bisa tertawa ketika diajak makan. Masih aktif di grup. Dari luar, semuanya
terlihat baik-baik saja. Padahal mungkin di dalam kamar, dia sedang berjuang
sendirian. Dan kita tidak tahu.
Mengapa Anak Bisa Lebih Nyaman Cerita ke Orang Lain?
Saya tidak ingin buru-buru menyalahkan anak. Bisa jadi mereka bukan tidak sayang kepada orang tuanya. Bisa jadi mereka hanya takut. Takut dimarahi. Takut dianggap kurang bersyukur. Takut dibandingkan. Takut setelah bercerita justru mendapat ceramah panjang.
Coba kita ingat-ingat. Ketika anak datang dan bercerita tentang masalahnya. Lalu tanpa sadar kita menjawab: “Kan Umi sudah bilang…”, “Kamu itu kurang doa.” “Coba lihat si A, dia bisa.” “Makanya jangan begitu.” Mungkin niat kita baik. Kita ingin anak belajar. Kita ingin dia tidak mengulangi kesalahan.
Mungkin bagi kita itu cuma nasihat. Tapi bagi anak yang sedang rapuh, dia bisa menangkapnya berbeda. Dia bisa berpikir, “Kalau cerita malah begini, lebih baik aku diam.” Lain kali dia mungkin berpikir, “Sudahlah. Tidak usah cerita.”
Bukan karena dia tidak membutuhkan Umi. Justru karena dia
sangat membutuhkan umi, tetapi belum merasa cukup aman untuk membawa semua
ceritanya ke rumah.
Kita Serumah, tapi Kadang Tidak Benar-Benar Bersama
Ini bagian yang paling saya takuti dan membuat saya berkaca kepada diri sendiri. Ayah sibuk dengan HP-nya. Katanya urusan pekerjaan. Ibu juga tidak jauh berbeda. Setelah seharian mengurus rumah, rasanya ingin sebentar saja membuka HP. Anak? Ya, dia juga dengan dunianya.
Akhirnya kita duduk di ruangan yang sama, tetapi masing-masing sedang pergi ke tempat yang berbeda. Tetapi hati belum tentu saling bertemu. Kita sering baru sadar anak sedang punya masalah setelah masalah itu menjadi besar.
Kadang tandanya kecil sekali. Anak yang biasanya banyak cerita tiba-tiba lebih sering diam. Yang biasanya senang keluar kamar, sekarang lebih betah di dalam. Kalau ditanya, jawabannya pendek-pendek. Kita mungkin menganggap, “Namanya juga remaja.”
Mungkin sebenarnya dia sedang memberi tanda. Hanya saja kita
belum menangkapnya. Bisa jadi diamnya bukan berarti dia tidak punya cerita.
Bisa jadi dia sedang menunggu kita bertanya dengan cara yang membuatnya aman
untuk bercerita. Ditambah lagi kita hidup dengan budaya yang sering mengajarkan
anak untuk kuat.
“Jangan cengeng.”
“Kamu kan sudah besar.”
“Masalah begitu saja jangan dipikirkan.”
Akhirnya anak belajar satu hal: Kalau sedang sedih,
sembunyikan. Kalau takut, tahan. Kalau kecewa, diam. Kalau bingung, cari
jawaban sendiri.
Tapi Anak Tidak Hidup Hanya di Dalam Rumah
Semakin saya pikirkan, semakin saya merasa masalah ini tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada orang tua. Anak tumbuh bukan hanya bersama ayah dan ibunya. Ia juga dibentuk oleh sekolahnya, teman-temannya, lingkungan tempat tinggalnya, masjid yang ia datangi, bahkan oleh apa yang setiap hari muncul di layar HP-nya.
Sekolah mengajarkan matematika, bahasa, sains, dan berbagai ilmu lainnya. Tetapi bagaimana dengan anak yang sedang patah hati? Bagaimana dengan anak yang ditolak teman? Bagaimana dengan anak yang menjadi bahan ejekan? Bagaimana dengan anak yang mulai membenci tubuhnya sendiri karena setiap hari membandingkannya dengan orang lain di media sosial?
Tidak semuanya bisa diselesaikan dengan nilai rapor. Tidak
semuanya selesai dengan kalimat “Yang penting kamu fokus belajar.” Karena anak
kita bukan hanya kepala yang harus diisi ilmu. Ia punya hati. Bisa takut. Bisa
malu. Bisa merasa tidak diterima. Dan, seperti kita semua, ia ingin dicintai.
Lalu, Apa yang Islam Ajarkan?
Tentu orang tua harus lebih dekat dengan anak. Itu penting sekali. Tetapi setelah saya pikirkan, apakah kedekatan keluarga saja sudah cukup? Di titik ini saya ingin mengatakan, kalau lingkungan di luar rumah terus-menerus menarik anak ke arah yang berbeda, tentu keluarga membutuhkan perlindungan yang lebih besar.
Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana seorang ibu mendidik anaknya. Islam juga berbicara tentang keluarga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, media, dan tanggung jawab negara. Semakin saya memikirkan ini, saya sadar bahwa persoalannya ternyata lebih luas daripada sekadar “orang tua kurang dekat dengan anak”.
Anak kita hidup di tengah sebuah sistem kehidupan. Ada
sekolahnya. Ada lingkungan sosialnya. Ada ekonomi keluarganya. Ada media yang
setiap hari masuk ke kamarnya melalui layar. Karena itu, dalam pandangan Islam,
tanggung jawab menjaga generasi juga tidak berhenti di pundak keluarga. Ada
masyarakat dan ada negara. Di sinilah pembahasan tentang Khilafah menjadi
penting untuk saya bawa.
Pertama, Anak Diajarkan Kepada Siapa Ia Harus Pulang
Dalam Islam, anak tidak hanya diajarkan untuk mencari manusia ketika sedang kesusahan. Sejak kecil ia dikenalkan kepada Allah. Ketika sedih, ia belajar berdoa. Ketika takut, ia belajar mengingat Allah. Ketika bingung, ia belajar meminta petunjuk kepada Allah. Karena manusia bisa mengecewakan. Teman bisa pergi. Orang tua pun bisa salah. Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Namun bukan berarti setelah mengenal Allah anak tidak
membutuhkan manusia. Justru sebaliknya. Anak tetap membutuhkan ayah dan ibu. Ia
membutuhkan rumah. Ia membutuhkan tempat untuk menangis tanpa ditertawakan. Tempat
untuk mengaku salah tanpa langsung merasa dirinya anak yang buruk. Tempat untuk
berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja.” Dan dijawab, “Tidak apa-apa. Cerita
ajah sama Mama.”
Kedua, Keluarga Tidak Boleh Dibiarkan Berjuang Sendirian
Ayah memang memiliki kewajiban menafkahi keluarga.Tetapi ayah juga seorang manusia. Ia bisa lelah. Ia membutuhkan waktu untuk anak-anaknya. Begitu juga ibu. Ibu bukan mesin yang harus mengurus rumah, mendidik anak, mengurus suami, sambil terus kuat setiap hari. Karena itu, persoalan keluarga tidak cukup diselesaikan dengan mengatakan, “Orang tua harus pandai mengatur waktu.”
Kadang kita terlalu cepat mengatakan, “Orang tua harus punya quality time.” Iya. Saya setuju. Tetapi saya juga bertanya: bagaimana kalau ayah pulang hampir setiap malam dalam keadaan lelah karena harus mengejar kebutuhan keluarga? Bagaimana kalau persoalan ekonomi terus menghimpit? Berarti persoalannya memang tidak sesederhana menyuruh orang tua meluangkan waktu..
Ada kebijakan negara yang ikut menentukan bagaimana sebuah
keluarga menjalani kehidupannya. Dalam sistem Islam, negara memiliki tanggung
jawab terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat dan pengaturan ekonomi sesuai
syariat. Ketika kebutuhan dasar masyarakat terjamin, keluarga memiliki ruang
yang lebih sehat untuk menjalankan perannya. Bukan berarti semua masalah
keluarga otomatis hilang. Tidak. Manusia tetap manusia. Ayah tetap bisa salah.
Ibu tetap bisa lelah. Anak tetap bisa bermasalah. Tetapi negara tidak boleh
lepas tangan.
Ketiga, Anak Perlu Dilindungi Dari Lingkungan Yang Merusak
Kita sering meminta anak untuk kuat menghadapi dunia. Tetapi
dunia seperti apa yang kita berikan kepada mereka? Setiap hari mereka bisa
berhadapan dengan pornografi, judi online, kekerasan, budaya pamer, hedonisme,
dan berbagai konten yang tidak selalu sesuai dengan usia mereka. Lalu kita
meminta anak,
“Jangan terpengaruh.”
Bukankah itu terlalu berat? Karena itu perlindungan anak tidak cukup hanya dengan memasang aturan di rumah. Masyarakat juga punya tanggung jawab. Sekolah punya tanggung jawab. Dan negaralah yang punya power terbesar memegang tanggung jawab.
Dalam perspektif Islam, kebebasan bukan berarti setiap
sesuatu boleh dibiarkan berkembang tanpa batas. Ada kemaslahatan yang harus
dijaga. Ada hal-hal yang harus dicegah sebelum merusak. Dan negara berperan
sebagai pelindung masyarakat, bukan sekadar datang setelah kerusakan terjadi.
Jadi, Siapa Tempat Curhat Anak Kita?
Saya kembali kepada pertanyaan pertama. “Nak, kalau punya
masalah besar, kamu akan cerita ke siapa?” Saya tidak ingin hanya berharap anak
menjawab,“Umi.” Saya ingin membangun hubungan yang membuat dia berani menjawab,
“Umi.” Saya ingin dia tahu bahwa umi mungkin tidak selalu punya jawaban. Umi
mungkin kadang salah. Umi mungkin tidak selalu mengerti dunia anak zaman
sekarang.
Tetapi ketika dia datang membawa cerita, umi tidak akan buru-buru menghakiminya. Karena mungkin tugas pertama seorang ibu bukan selalu memberi solusi. Kadang tugas pertama kita adalah mendengarkan. Dan tentu, di atas semua itu, saya ingin anak-anak kita mengenal Allah. Karena tempat bergantung yang paling pertama tetap Allah.
Manusia bisa berubah. Allah tidak. Maka kalau suatu hari anak kita sedang berada di titik paling gelap dalam hidupnya, semoga ia tahu ke mana harus pulang. Kepada Allah. Dan kemudian kepada rumahnya. Kepada Mama dan Ayahnya. Lalu saya ingin mengatakan ini kepada anak saya:
“Nak… Kalau suatu hari masalahmu terasa sebesar gunung,
pertama-tama lari kepada Allah, ya. Setelah itu, pulang ke umi. Pintu umi tidak
pernah terkunci untukmu. Kalau kamu merasa sudah melakukan kesalahan sebesar
apa pun, jangan takut pulang. Cerita saja. Umi mungkin tidak selalu punya
jawaban. Tapi umi mau mendengarkan. Sekotor apa pun kamu merasa, pulanglah. Umi
akan tetap membukakan pintu.”
Semoga Allah menjaga anak-anak kita. Bukan hanya dari dunia
yang semakin ramai, tetapi juga dari kesepian yang kadang tidak terlihat. Dan
semoga rumah kita menjadi tempat yang selalu mereka ingat ketika mereka
membutuhkan tempat untuk pulang. Karena anak yang tahu jalan pulang, tidak
mudah mencari rumah di tempat yang salah.
#ParentingIslami #CatatanUmi
Oleh. Dini Sumaryanti (Family Coach, Founder Komunitas Ibu Hebat)
