Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bukan Nirempati, tapi Kelelahan Sistemis

Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:02 WIB Last Updated 2026-08-14T04:02:55Z
TintaSiyasi.id -- Kemenkes buka suara soal pasien BPJS Kesehatan Yurizal Tri Chaerawan yang disebut harus menunggu hingga delapan jam di IGD Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, sebelum meninggal dunia pada akhir Juli lalu. Curhatan Yurizal via Threads saat menunggu di ruang perawatan dalam unggahan pada 22 Juli 2026 tidak menyebut nama rumah sakitnya, dibanjiri komentar termasuk di antaranya pernyataan nirempati dari para akun yang belakangan diketahui sebagai tenaga kesehatan (nakes).

Yurizal dikabarkan meninggal pada 31 Juli 2026, dan kerabatnya mengatakan salah satu sebab karena terlambat mendapat perawatan lebih lanjut. Setelah penelusuran, Kemenkes menyatakan Yurizal menunggu hingga 8 jam di IGD RSCM, Jakarta Pusat. (cnnindonesia.com). 

Komentar nakes yang meremehkan pasien, baik di ruang publik maupun di sosial media adalah pelanggaran etik dan profesi. Seharusnya, sumpah profesi kedokteran dan keperawatan sebagai janji secara eksplisit menempatkan kepentingan lainnya. Realitas ini menunjukkan adanya persoalan nirempati buah dari sistem pendidikan sekuler dan kerumitan tata kelola kesehatan kapitalistik. Literatur kedokteran yang cukup konsisten menunjukkan hubungan antara beban kerja berlebih, kelelahan kronis, dan penurunan empati klinis sering terjadi di dunia kesehatan. Nakes yang bekerja dalam shift panjang dengan rasio pasien dan jumlah nakes yang timpang, tekanan administrasi klaim yang rumit membuat pola munculnya sikap dingin terhadap pasien dan keluarga. Hal ini bukan karena sikap "jahat", tetapi karena kapasitas empati manusia bisa terkikis oleh kelelahan struktural yang berkepanjangan. Terlebih UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang mahal untuk masuk prodi Fakultas akan mencetak para nakes yang berfikir bagaimana kembali modal, bukan lagi murni pengabdian dan ketulusan. 

Selain itu, pennggunaan sistem berjenjang dari faskes awal, tetapi terbatas sarana, prasarana, dan ketersediaan dokter spesialis akan menjadikan rumah sakit rujukan dalam jenjang yang lebih tinggi sering mengalami overload volume pasien. Hal inilah yang mengakibatkan antrean menjadi lama. Apalagi manajemen rumah sakit harus detail menghitung antara biaya pelayanan dan nominal klaim dari BPJS. Di sisi lain, pasien terkategori umum bisa lebih leluasa memilih. Bisa menjadi pemasukan rumah sakit tanpa rentetan panjang regulasi pencairan klaim ke BPJS. 

Sementara dalam Islam, para nakes tercetak dari sistem pendidikan yang tujuan utamanya  adalah pembentukan syakhsiyah Islamiyah. Para mahasiswa dan dokter harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya. Motivasi mereka menuntut ilmu adalah ibadah, bukan sekadar kapital. Biaya pendidikan murah bahkan gratis karena diambil dari baitul mal negara yang bersinergi dengan sistem ekonomi dan politik negara dari pengelolaan sumber daya. 

Dari sudut pandang politik kesehatan, menunggu ruang rawat inap terlalu lama lebih dari 8 jam menunjukkan bahwa negara masih belum serius memenuhi fasilitas kesehatan jika terjadi lonjakan pasien di faskes rujukan, sehingga pasien dan keluarga kelelahan. Padahal di lapangan, rumah sakit kebingungan karena harus tetap melayani pasien. Situasi ini membuka mata bahwa akar masalahnya bukan sekadar teknis, tetapi sistemik. Yakni terdapat kegagalan dalam mencetak nakes yang penuh empati dan tulus, juga kerumitan administrasi model pembiayaan jaminan kesehatan berbasis iuran yang bergantung pada kemampuan administrasi dan verifikasi data rakyat.

“Tidaklah seorang pemimpin yang memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu (menelantarkan) mereka, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.”

Hadis riwayat Muslim tersebut menegaskan kerasnya ancaman bagi pemimpin yang gagal memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Dalam Islam, kesehatan adalah kebutuhan dasar yang wajib ditanggung negara. Masyarakat, baik yang kaya maupun miskin berhak mendapatkan layanan kesehatan secara gratis melalui pembiayaan dari baitul mal negara yang bersumber dari kepemilikan umum dan pos pemasukan negara seperti fai, kharaj, dan ghonimah (kitab Al Amwal fi daulah khilafah). 

Sebagai contoh rumah sakit Al-Bimaristan al-Mansuri Kairo didirikan oleh Sultan Qalawun pada tahun 1284 M, berkapasitas sangat besar, memiliki air mengalir, dan melayani ribuan pasien harian secara gratis total dengan jaminan uang tunai bagi pasien yang sembuh agar tidak langsung bekerja berat. 

Dengan demikian, solusi krisis nirempati, baik di ruang publik maupun di sosial media dan kekacauan administrasi antrean lama rawat inap bukan sekadar memperbaiki sikap individu nakes yang nirempati ataupun memperbaiki sistem data atau menambah anggaran, tetapi perlu perubahan mendasar penerapan sistem pendidikan, sistem kesehatan Islam yang bersinergi dengan sistem politik, sistem ekonomi dan sistem-sistem lainnya sesuai dengan syariat Islam. Sistem Islam akan memastikan negara sebagai penanggung kebutuhan dasar rakyat, dalam hal ini adalah urusan kesehatan masyarakat.

Oleh: Shinta Erry Izayati
Nakes

Opini

×
Berita Terbaru Update