Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Maulid Nabi, HILMI: Momentum Menjadikan Rasulullah Teladan Bernegara

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:11 WIB Last Updated 2026-08-29T00:11:42Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menuturkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. semestinya tidak berhenti pada rutinitas seremonial belaka, melainkan harus dijadikan momentum perubahan mendasar untuk meneladani Rasulullah saw. dalam mengelola tata kelola negara dan melayani urusan publik.

 

“Peringatan Maulid Nabi semestinya tidak berhenti pada rutinitas seremonial belaka, melainkan harus dijadikan momentum perubahan mendasar untuk meneladani Rasulullah saw. dalam mengelola tata kelola negara dan melayani urusan publik,” tutur HILMI  kepada TintaSiyasi.ID dalam rilis Letter to Intellectuals No. 015 bertajuk Rasulullah, Negarawan Teladan pada Senin (24/08/2026).

 

“Mengikuti Rasulullah tidak cukup diwujudkan dengan meniru adab individual, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan dikelola, kekayaan didistribusikan, pendidikan diselenggarakan, orang sakit dilayani, dan rakyat dilindungi dari bencana,” tandas HILMI.

 

HILMI menyoroti pergeseran makna politik kekuasaan hari ini yang kerap direduksi sekadar menjadi ajang perebutan kursi dan pembagian jabatan semata.

 

“Padahal, Rasulullah saw. memberikan paradigma kenabian yang sangat tegas bahwa kepemimpinan adalah amanah yang menuntut pertanggungjawaban mutlak di hadapan Allah dan manusia,” ujarnya menyitir hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

 

Konsekuensinya, HILMI menyatakan bahwa penunjukan pejabat tidak boleh didasarkan pada politik balas budi atau kedekatan semata tanpa kapasitas dan integritas.

 

“Ukuran keberhasilan pemerintahan bukan banyaknya seremoni, pidato, atau pencitraan, melainkan apakah rakyat mendapatkan keamanan, keadilan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan yang layak,” ulasnya.

 

Ia menguraikan bahwa spirit kenabian juga harus tercermin nyata dalam perlindungan masyarakat dari bencana alam maupun pelayanan kesehatan yang menempatkan manusia bukan sekadar konsumen komoditas.

 

“Kita memuji kepemimpinannya, tetapi dalam keadaan darurat rakyat terkadang masih menunggu lama kehadiran negara,” urainya.

 

Oleh sebab itu, HILMI menyerukan agar umat dan para intelektual muslim berani menjadikan risalah Islam sebagai fondasi utama tata kelola peradaban bangsa.

 

“Bentuk kecintaan tertinggi kepada Nabi bukan hanya mengucapkan selawat, tetapi menjadikan nilai yang beliau bawa sebagai inspirasi nyata dalam mengurus kehidupan,” beber HILMI.

 

“Selawat adalah ekspresi cinta. Keteladanan adalah pembuktiannya. Dan menghadirkan ajaran Ilahi untuk memperbaiki negeri adalah salah satu konsekuensi terbesarnya,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update