TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menuturkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. semestinya tidak berhenti pada rutinitas seremonial belaka, melainkan harus dijadikan momentum perubahan mendasar untuk meneladani Rasulullah saw. dalam mengelola tata kelola negara dan melayani urusan publik.
“Peringatan Maulid Nabi
semestinya tidak berhenti pada rutinitas seremonial belaka, melainkan harus
dijadikan momentum perubahan mendasar untuk meneladani Rasulullah saw. dalam
mengelola tata kelola negara dan melayani urusan publik,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID dalam rilis Letter
to Intellectuals No. 015 bertajuk Rasulullah, Negarawan Teladan pada
Senin (24/08/2026).
“Mengikuti Rasulullah tidak cukup
diwujudkan dengan meniru adab individual, tetapi juga tentang bagaimana
kekuasaan dikelola, kekayaan didistribusikan, pendidikan diselenggarakan, orang
sakit dilayani, dan rakyat dilindungi dari bencana,” tandas HILMI.
HILMI menyoroti pergeseran makna
politik kekuasaan hari ini yang kerap direduksi sekadar menjadi ajang perebutan
kursi dan pembagian jabatan semata.
“Padahal, Rasulullah saw.
memberikan paradigma kenabian yang sangat tegas bahwa kepemimpinan adalah
amanah yang menuntut pertanggungjawaban mutlak di hadapan Allah dan manusia,”
ujarnya menyitir hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Konsekuensinya, HILMI menyatakan
bahwa penunjukan pejabat tidak boleh didasarkan pada politik balas budi atau
kedekatan semata tanpa kapasitas dan integritas.
“Ukuran keberhasilan pemerintahan
bukan banyaknya seremoni, pidato, atau pencitraan, melainkan apakah rakyat
mendapatkan keamanan, keadilan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan
yang layak,” ulasnya.
Ia menguraikan bahwa spirit
kenabian juga harus tercermin nyata dalam perlindungan masyarakat dari bencana
alam maupun pelayanan kesehatan yang menempatkan manusia bukan sekadar konsumen
komoditas.
“Kita memuji kepemimpinannya,
tetapi dalam keadaan darurat rakyat terkadang masih menunggu lama kehadiran
negara,” urainya.
Oleh sebab itu, HILMI menyerukan
agar umat dan para intelektual muslim berani menjadikan risalah Islam sebagai
fondasi utama tata kelola peradaban bangsa.
“Bentuk kecintaan tertinggi
kepada Nabi bukan hanya mengucapkan selawat, tetapi menjadikan nilai yang
beliau bawa sebagai inspirasi nyata dalam mengurus kehidupan,” beber HILMI.
“Selawat adalah ekspresi cinta.
Keteladanan adalah pembuktiannya. Dan menghadirkan ajaran Ilahi untuk
memperbaiki negeri adalah salah satu konsekuensi terbesarnya,” pungkasnya.[] Rere