Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI: Ekonomi Kapitalistik Gagal Hadirkan Keadilan Tanpa Distribusi Syariat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:11 WIB Last Updated 2026-08-29T00:11:45Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyatakan bahwa angka pertumbuhan ekonomi tidak otomatis mencerminkan keadilan sosial bagi rakyat selama tata kelolanya mengabaikan prinsip syariat dalam distribusi kekayaan.

 

“Angka pertumbuhan ekonomi tidak otomatis mencerminkan keadilan sosial bagi rakyat selama tata kelolanya mengabaikan prinsip syariat dalam distribusi kekayaan,” ulas HILMI  kepada TintaSiyasi.ID dalam rilis Letter to Intellectuals No. 015 bertajuk Rasulullah, Negarawan Teladan pada Senin (24/08/2026).

 

“Pertanyaan ekonomi tidak boleh berhenti pada berapa pertumbuhan, tetapi juga dilanjutkan dengan siapa yang menikmati pertumbuhan,” tandas HILMI.

 

HILMI membeberkan bahwa meski Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,0 persen pada 2026, realitas kemiskinan di tingkat tapak masih sangat mengkhawatirkan.

 

“Data BPS mencatat penduduk miskin pada Maret 2026 masih mencapai 22,93 juta jiwa atau 8,07 persen, bahkan di pedesaan menembus 10,67 persen,” ujarnya.

 

Kondisi ketimpangan, lanjut HILMI, terjadi karena penguasaan kekayaan dibiarkan menumpuk pada segelintir konglomerat, bertolak belakang dengan Surah Al-Hasyr ayat 7 yang melarang harta hanya berputar di kalangan orang kaya saja.

 

“Negara tidak cukup sekadar membuka pintu investasi, tetapi wajib memastikan seluruh sumber daya alam, lahan, mineral, pangan, dan energi dikelola untuk sebesar-besarnya kemaslahatan rakyat,” ulasnya.

 

Terkait beban fiskal, HILMI mengingatkan risiko akumulasi utang luar negeri yang dapat membebani masa depan generasi bangsa jika terus digunakan untuk proyek-proyek yang minim nilai manfaat riil.

“Setiap rupiah utang semestinya diperlakukan sebagai amanah lintas generasi agar tidak membebankan biaya proyek yang tidak sebanding dengan kewajibannya kepada anak cucu kita,” katanya.

 

HILMI menyebutkan, kritik tajam juga dilayangkan pada sistem pendidikan modern yang dinilai makin tereduksi menjadi pabrik pencetak tenaga kerja tanpa diiringi penanaman integritas moral berbasis wahyu.

 

“Pendidikan yang hanya mengejar kompetensi tetapi kehilangan moralitas dapat menghasilkan manusia cerdas yang justru semakin efektif melakukan kerusakan dan korupsi,” paparnya.

 

HILMI menegaskan bahwa Rasulullah saw. telah meletakkan fondasi pembangunan manusia berakhlak mulia sebelum membangun institusi peradaban.

 

“Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang sering menjadi persoalan justru ketika kecerdasan tidak disertai integritas,” beber HILMI.

 

“Rasulullah tidak diutus sekadar agar namanya diperingati setiap tahun, melainkan membawa risalah yang mengubah manusia, masyarakat, bahkan sejarah menuju tatanan yang adil di bawah bimbingan wahyu,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update