Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kemandirian Energi Nuklir, HILMI: Tak Cukup Hanya Potensi Uranium dan Torium

Selasa, 18 Agustus 2026 | 05:28 WIB Last Updated 2026-08-17T22:28:30Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa potensi uranium dan torium Indonesia tidak serta-merta menunjukkan kemandirian energi nuklir. “Potensi uranium dan torium Indonesia tidak serta-merta menunjukkan kemandirian energi nuklir,” sebut HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Kekuatan energi suatu bangsa justru ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di sepanjang rantai industri nuklir,” tegas HILMI dalam Letter to Intellectuals No. 012 bertajuk Membaca Potensi Sumber Daya Nuklir Indonesia secara Realistis dan Strategis yang dirilis Kamis (13/08/2026).

 

“Angka 89 ribu ton uranium memang penting. Namun, kekuatan energi suatu bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak mineral yang tersimpan di bawah tanah, melainkan oleh seberapa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya,” tegasnya.

 

HILMI menjelaskan, pemaparan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi sekitar 89 ribu ton uranium dan 140 ribu ton torium memang menarik perhatian.

 

“Namun, angka tersebut harus dibaca secara realistis karena sumber daya belum tentu sama dengan cadangan yang siap ditambang dan digunakan,” urainya.

 

“Sumber daya uranium adalah perkiraan keberadaan mineral berdasarkan penyelidikan geologi, sedangkan cadangan merupakan bagian dari sumber daya yang memiliki tingkat keyakinan geologi lebih tinggi serta dinilai dapat ditambang secara teknis dan ekonomis,” jelasnya.

 

Menurut HILMI, perbedaan satuan uranium juga penting diperhatikan. Jika 89 ribu ton yang dimaksud merupakan U₃O₈, kandungan uraniumnya hanya sekitar 75,5 ribu ton. “Perbedaan tersebut akan memengaruhi perhitungan umur sumber daya,” ulasnya.

 

HILMI kemudian menghitung kebutuhan bahan bakar PLTN generasi sekarang. “Reaktor berdaya 1.000 MWe umumnya membutuhkan sekitar 160–200 ton uranium alam setiap tahun. Jika Indonesia memiliki sepuluh PLTN dengan kapasitas masing-masing 1.000 MWe, kebutuhan uranium alamnya diperkirakan mencapai 2 ribu ton per tahun,” bebernya.

 

“Dengan asumsi 85 ribu ton uranium yang seluruhnya dapat dimanfaatkan, sumber tersebut secara matematis hanya mencukupi sekitar 42,5 tahun untuk sepuluh PLTN berkapasitas 1.000 MWe. Jika angka 89 ribu ton sebenarnya U₃O₈, umur teoretisnya bahkan sekitar 37,8 tahun,” paparnya.

 

HILMI menilai hitungan tersebut pun masih optimistis. “Tidak seluruh sumber daya geologi dapat dipulihkan karena sebagian dapat berkadar rendah, berada di lokasi yang sulit atau mahal ditambang, tidak layak secara lingkungan, serta mengalami kehilangan dalam proses penambangan hingga fabrikasi bahan bakar,” nilainya.

 

“Karena itu, persoalan strategis Indonesia bukan sekadar memiliki mineral nuklir, melainkan bagaimana menguasai teknologi yang mampu memanfaatkan sumber daya tersebut secara lebih optimal. Reaktor air ringan, misalnya, hanya memanfaatkan sebagian kecil potensi energi uranium alam,” ujarnya.

 

“Teknologi reaktor cepat dan reaktor pembiak berpotensi meningkatkan pemanfaatan energi uranium dan torium secara drastis. Namun, teknologi tersebut membutuhkan fasilitas pemrosesan ulang, fabrikasi bahan bakar khusus, pengamanan material nuklir, serta pengawasan nonproliferasi yang jauh lebih kompleks,” terangnya.

 

HILMI juga mengingatkan agar narasi tentang torium sebagai sumber energi untuk ribuan tahun tidak dilepaskan dari realitas teknologi. “Torium-232 tidak dapat langsung digunakan untuk mempertahankan reaksi berantai, melainkan harus diubah menjadi uranium-233 melalui proses yang membutuhkan teknologi tertentu,” imbuhnya.

 

Untuk itu, Indonesia dinilai HILMI tidak perlu terburu-buru menghabiskan sumber daya domestiknya.

 

“Impor uranium untuk PLTN generasi awal tidak otomatis berarti gagal membangun kemandirian energi. Yang lebih strategis adalah membangun kemampuan penguasaan siklus bahan bakar, desain reaktor, keselamatan, pengelolaan limbah, dan teknologi nuklir lainnya,” sarannya.

 

“Sebagian besar sumber daya domestik patut diperlakukan sebagai cadangan strategis. Pemanfaatannya secara besar-besaran dapat menunggu sampai Indonesia menguasai teknologi yang mampu mengekstrak energi jauh lebih banyak dari setiap ton bahan,” tandasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update