Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pengembangan Teknologi Nuklir Harus Diarahkan oleh Akidah dan Syariat Islam

Selasa, 18 Agustus 2026 | 05:29 WIB Last Updated 2026-08-17T22:29:57Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa seluruh pengembangan teknologi nuklir harus diarahkan oleh akidah Islam dan syariat Islam agar menghasilkan kemaslahatan serta tidak menjadi sarana kezaliman dan kerusakan.

 

“Seluruh pengembangan teknologi nuklir harus diarahkan oleh akidah dan syariat Islam agar menghasilkan kemaslahatan serta tidak menjadi sarana kezaliman dan kerusakan,” tegasnya kepada TintaSiyasi.ID di dalam Letter to Intellectuals No. 012 bertajuk Membaca Potensi Sumber Daya Nuklir Indonesia secara Realistis dan Strategis.  

 

Dokumen yang dirilis HILMI pada Kamis (13/08/2026) menyebutkan bahwa pembangunan kedaulatan energi nuklir Indonesia tidak boleh berhenti pada penguasaan teknologi dan sumber daya.

 

“Kedaulatan energi nuklir tidak dapat dibangun hanya dengan membuka tambang uranium. Kedaulatan tersebut membutuhkan penguasaan ilmu dan teknologi sepanjang rantai nilai, mulai dari eksplorasi dan pemetaan mineral radioaktif hingga pengolahan bijih, konversi uranium, fabrikasi bahan bakar, keselamatan reaktor, pengelolaan limbah, dan pengawasan bahan nuklir,” bebernya.

 

Menurut HILMI, Indonesia perlu menempuh strategi bertahap. “Pembangunan PLTN dengan teknologi yang telah terbukti dapat menjadi jalur awal untuk memenuhi kebutuhan listrik sekaligus membentuk pengalaman industry,” ujarnya.

 

“Pilihan paling rasional adalah strategi dua jalur: menggunakan teknologi yang telah terbukti untuk memenuhi kebutuhan listrik dan membentuk pengalaman industri, sembari mengembangkan teknologi reaktor maju agar sumber daya uranium dan torium domestik kelak dapat dimanfaatkan secara jauh lebih efisien,” paparnya.

 

Pada saat yang sama, HILMI mendorong riset jangka panjang terhadap reaktor cepat, reaktor garam cair, torium, dan siklus bahan bakar tertutup.

 

“Pengembangan tersebut diperlukan agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi nuklir, tetapi mampu membangun kapasitas teknologinya sendiri,” sarannya.

 

Karena itu, HILMI juga menilai impor bahan bakar nuklir untuk tahap awal tidak perlu diposisikan sebagai kegagalan kemandirian. “Negara pengguna nuklir dapat mengombinasikan produksi domestik, investasi tambang di luar negeri, kontrak jangka panjang, dan pembelian dari pasar internasional,” jelasnya.

 

“Strategi Indonesia seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan ‘impor atau memakai uranium sendiri’,” tandasnya.

 

“Indonesia dapat membangun PLTN dengan teknologi yang telah matang sambil memperoleh bahan bakar dari pemasok yang terdiversifikasi. Pada saat yang sama, eksplorasi uranium dan torium domestik harus dilanjutkan agar kategori sumber dayanya semakin pasti,” ujarnya.

 

Bagi HILMI, langkah tersebut perlu ditempatkan sebagai strategi jangka panjang. “Sumber daya uranium dan torium domestik tidak semestinya dihabiskan ketika teknologi pemanfaatannya belum mampu mengambil energi secara maksimal,” katanya.

 

“Karena itu, penguasaan teknologi nuklir harus ditempatkan sebagai bagian dari agenda strategis bangsa. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan listrik, melainkan membangun kemampuan ilmu pengetahuan, industri, dan teknologi yang memungkinkan Indonesia menentukan masa depan energinya secara mandiri,” ungkapnya.

 

“Angka 89 ribu ton uranium memang penting, tetapi kekuatan energi suatu bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak mineral yang tersimpan di bawah tanah, melainkan oleh seberapa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya,” simpulnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update