Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI: Kedaulatan Indonesia Disandera Kepentingan Global dan Oligarki

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:11 WIB Last Updated 2026-08-29T00:11:31Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa setelah lebih dari delapan dekade Proklamasi, kemerdekaan Indonesia masih rapuh karena kebijakan politik, hukum, dan ekonominya kerap tersandera tekanan lembaga internasional serta dominasi pasar kapitalistik global.

 

“Setelah lebih dari delapan dekade Proklamasi, kemerdekaan Indonesia masih rapuh karena kebijakan politik, hukum, dan ekonominya kerap tersandera tekanan lembaga internasional serta dominasi pasar kapitalistik global,” tandas HILMI dalam rilis Letter to Intellectuals No. 011 bertajuk Sudahkah Indonesia Benar-Benar Merdeka?, Senin (10/08/2026).

 

“Sebuah bangsa dapat bebas dari tentara asing tetapi bergantung kepada teknologi asing. Ia dapat memilih presidennya sendiri tetapi keputusan ekonominya sangat sensitif terhadap keputusan bank sentral negara lain. Ia dapat mempunyai parlemen sendiri tetapi sebagian standar dan regulasinya harus menyesuaikan tuntutan sistem internasional,” imbuh HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

HILMI mengingatkan agar publik tidak terjebak pada simbolisme kemerdekaan seremonial belaka. “Secara teritorial Indonesia memang tidak diduduki militer asing, namun pada lapisan kedaulatan politik dan hukum, ruang gerak bangsa ini terus dibatasi,” sebutnya.

 

“Kita mempunyai hak memilih. Pertanyaannya adalah: seberapa luas pilihan nyata yang tersedia?” ujarnya menyoroti kuatnya intervensi konsentrasi modal, oligarki, dan biaya politik tinggi dalam penentuan kepemimpinan nasional.

 

HILMI membeberkan bagaimana kedaulatan legislasi nasional turut dipengaruhi agenda luar negeri, seperti proses aksesi OECD yang melibatkan penilaian hingga 25 komite terhadap regulasi domestik, serta program pembiayaan Bank Dunia senilai US$800 juta yang mengikat reformasi investasi dan perdagangan.

 

“Jika sebuah kebijakan adalah syarat pembiayaan atau penerimaan dalam klub internasional, sejauh mana keputusan itu benar-benar berasal dari kebutuhan masyarakat kita sendiri?” ungkapnya.

 

Di sektor ekonomi dan teknologi, HILMI melihat kerentanan tersebut makin nyata terlihat. “Pada Januari–April 2026, impor barang Indonesia menembus US$86,51 miliar dengan posisi utang pada Mei 2026 US$444,4 miliar. Tak hanya itu, impor nonmigas dari Tiongkok sepanjang 2025 mencapai 40,9 persen yang didominasi mesin dan peralatan industry,” ungkapnya.

 

“Merdeka secara ekonomi berarti kita dapat berkata 'tidak' tanpa ekonomi kita seketika runtuh,” bebernya.

 

“Teknologi dapat membebaskan manusia atau mengawasinya. Ekonomi dapat menyejahterakan atau mengeksploitasi. Hukum dapat menghadirkan keadilan atau melindungi kepentingan oligarki. Negara dapat menjadi pelayan manusia atau menjadi Tuhan baru bagi manusia,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update