Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Strategi Mengajar Ala Nabi Muhammad SAW

Kamis, 20 Agustus 2026 | 08:25 WIB Last Updated 2026-08-20T01:25:43Z


TintaSiyasi.id -- Perspektif Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam Ushūlut Tarbiyah an-Nabawiyyah.

Kitab Ushūlut Tarbiyah an-Nabawiyyah karya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani merupakan salah satu karya beliau tentang prinsip-prinsip pendidikan yang bersumber dari metode Rasulullah ﷺ. Kitab ini tercatat sebagai karya beliau dan edisi bibliografisnya menunjukkan terbitan Mesir; katalog perpustakaan juga mencatat versi terjemahannya dengan judul Prinsip-prinsip Pendidikan Rasulullah SAW.

Yang menarik, pendidikan Nabi ﷺ tidak dibangun hanya dengan ceramah dan transfer informasi, tetapi dengan metode yang sangat variatif: bertanya, menguji, memberikan contoh, menggunakan kisah, perumpamaan, dialog, pendekatan bertahap, memperhatikan kapasitas pendengar, dan menghubungkan sesuatu yang abstrak dengan realitas konkret. Kajian terhadap kitab tersebut merangkum 14 metode pendidikan Nabi ﷺ. 

1. Mengajar dengan Memotivasi Murid untuk Bertanya
Salah satu karakter pendidikan Nabi ﷺ adalah membuka ruang dialog.
Guru tidak selalu menjadi pihak yang berbicara sementara murid hanya mendengarkan. Nabi ﷺ justru sering membangun suasana yang membuat para sahabat terdorong untuk bertanya dan mencari penjelasan.

Dalam perspektif pendidikan, pertanyaan adalah tanda bahwa akal sedang bekerja.
Karena itu, guru jangan mematikan pertanyaan dengan:
“Jangan banyak bertanya.”
Sebaliknya, guru hendaknya membangun budaya:
bertanya → berpikir → memahami → meyakini → mengamalkan.
Pendidikan yang sehat bukan hanya menghasilkan murid yang mampu menjawab pertanyaan guru, tetapi juga menghasilkan murid yang mampu mengajukan pertanyaan yang bermutu.

2. Metode Tes dan Melempar Pertanyaan
Nabi ﷺ juga menggunakan pertanyaan untuk menguji pemahaman para sahabat.
Ini menunjukkan bahwa mengajar tidak berhenti pada:
“Apakah saya sudah menjelaskan?”
Tetapi harus sampai kepada:
“Apakah mereka sudah memahami?”
Guru dapat bertanya:
“Apa yang kalian pahami?”
“Mengapa demikian?”
“Bagaimana jika situasinya berbeda?”
“Apa akibat dari perbuatan tersebut?”
“Menurut kalian, apa solusi terbaik?”
Dengan demikian, kelas berubah dari komunikasi satu arah menjadi proses berpikir bersama.

3. Memberikan Penyegaran
Pembelajaran yang terlalu monoton dapat membuat perhatian murid menurun.
Karena itu, metode Nabi ﷺ juga mengenal penyegaran dalam proses pendidikan.
Kadang serius, kadang dialogis, kadang menggunakan kisah, perumpamaan, atau pendekatan yang menggugah perhatian.
Ini merupakan pelajaran penting bagi guru:
Jangan hanya mengejar banyaknya materi; kejarlah hidupnya perhatian murid.
Materi yang sangat banyak tetapi tidak masuk ke hati dan pikiran murid tidak otomatis menjadi pendidikan yang berhasil.

4. Mengenali Kapasitas dan Dialek Audiens
Ini salah satu prinsip yang sangat penting.
Nabi ﷺ tidak berbicara kepada seluruh manusia dengan satu pola komunikasi yang kaku.
Beliau memperhatikan:
siapa yang diajak bicara,
tingkat pemahamannya,
kondisi psikologisnya,
latar belakangnya,
kemampuan intelektualnya,
bahkan karakter dan cara berkomunikasinya.
Karena itu, satu materi tidak selalu harus disampaikan dengan satu metode.
Guru SD, mahasiswa, santri, orang tua, profesional, dan masyarakat umum membutuhkan pendekatan berbeda.

Guru yang baik bukan sekadar menguasai materi.
Ia juga menguasai cara menyampaikan materi kepada manusia yang berbeda-beda.
Kajian atas metode pendidikan Nabi ﷺ dalam kitab ini secara khusus menempatkan pengenalan terhadap kapasitas dan dialek audiens sebagai salah satu metode pendidikan beliau.

5. Mengalihkan Realitas Indrawi kepada Realitas Kejiwaan
Nabi ﷺ sering menjadikan sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan sebagai pintu menuju pemahaman batin.
Artinya, pendidikan tidak berhenti pada benda atau fenomena lahiriah.
Guru membawa murid dari:
yang terlihat → kepada yang dipikirkan → kepada yang direnungkan → kepada nilai yang diyakini.
Inilah pendidikan yang menghidupkan hati.
Misalnya ketika membicarakan kehidupan dunia, jangan hanya menjelaskan definisi dunia. Ajak murid melihat perubahan manusia, kefanaan kehidupan, perjalanan usia, kematian, dan akhirnya kesadaran tentang akhirat.

6. Metode Peragaan
Nabi ﷺ tidak hanya mengatakan, tetapi juga memperagakan.
Dalam pendidikan, demonstrasi sering kali lebih kuat daripada penjelasan panjang.
Guru dapat:
menunjukkan cara melakukan sesuatu,
mempraktikkan,
memperagakan,
memberikan simulasi,
kemudian meminta murid mempraktikkannya kembali.
Prinsipnya:
Apa yang dilihat sering lebih mudah diingat daripada apa yang hanya didengar.
Karena itu, pembelajaran ideal menggabungkan:
mendengar + melihat + melakukan.

7. Menggunakan Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan, metafora, dan ungkapan perbandingan memiliki kekuatan pedagogis yang besar.
Sesuatu yang sulit dipahami dapat menjadi mudah ketika diberikan dalam bentuk analogi.
Misalnya konsep hati yang keras dapat dijelaskan melalui gambaran batu.
Konsep amal yang tidak ikhlas dapat dijelaskan melalui perumpamaan sesuatu yang tampak indah tetapi tidak memiliki nilai hakiki.
Metode ini membuat konsep abstrak menjadi lebih dekat dengan imajinasi murid.

8. Pendidikan Secara Bertahap (Tadarruj)
Ini salah satu prinsip pendidikan yang sangat fundamental.
Nabi ﷺ tidak membebani manusia dengan seluruh ajaran sekaligus.
Pendidikan berjalan melalui proses:
mengenal → memahami → meyakini → membiasakan → mengamalkan → istiqamah.
Karena manusia memiliki keterbatasan, perubahan yang kokoh membutuhkan proses.
Dalam konteks pendidikan modern, prinsip tadarruj berarti guru harus memperhatikan level perkembangan peserta didik.
Jangan memberikan materi tingkat lanjut kepada orang yang fondasinya belum kuat.

9. Mengapresiasi Pertanyaan
Pertanyaan murid bukan gangguan terhadap pembelajaran.
Pertanyaan dapat menjadi jendela untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dalam pikiran murid.
Karena itu, guru hendaknya menghargai pertanyaan yang diajukan.
Bahkan pertanyaan yang sederhana sekalipun dapat menjadi kesempatan untuk membangun pemahaman yang lebih luas.
Guru jangan mempermalukan murid dengan mengatakan:
“Pertanyaanmu bodoh.”
Sebab sekali murid dipermalukan, mungkin ia akan berhenti bertanya selamanya.

10. Mendekatkan yang Abstrak kepada yang Konkret
Konsep-konsep seperti:
ikhlas,
tawakal,
sabar,
zuhud,
takwa,
cinta kepada Allah,
akhlak,
merupakan konsep yang abstrak.
Guru perlu memberikan contoh konkret sehingga murid dapat melihat bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan.
Misalnya:
Ikhlas bukan hanya definisi, tetapi bagaimana seseorang tetap beramal ketika tidak dipuji.
Sabar bukan hanya teori, tetapi bagaimana seseorang mengendalikan diri ketika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.
Dengan demikian:
Nilai tidak hanya dipahami oleh akal, tetapi dilihat oleh mata kehidupan.

11. Memperkuat Pendapat dengan Argumentasi
Nabi ﷺ juga mengajarkan dengan argumentasi.
Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak meminta manusia mematikan akalnya.
Sebaliknya, iman yang benar harus melibatkan:
wahyu, akal, kesadaran, dan pembuktian.
Karena itu guru perlu membiasakan murid memahami:
Apa dalilnya?
Apa alasannya?
Bagaimana penjelasannya?
Apa konsekuensinya?
Dengan demikian, murid tidak menjadi manusia yang hanya mampu menghafal jawaban, tetapi mampu mempertanggungjawabkan keyakinannya.

12. Mengarahkan kepada Pemikiran yang Bernilai Tinggi
Pendidikan Nabi ﷺ tidak sekadar mengajarkan informasi.
Beliau membentuk cara berpikir.
Murid diarahkan untuk melihat sesuatu lebih dalam:
bukan hanya “apa?”, tetapi juga “mengapa?”
Bukan hanya:
“apa hukumnya?”
tetapi:
“apa hikmahnya?”
Bukan hanya:
“apa yang saya dapat?”
tetapi:
“apa manfaat saya bagi orang lain?”
Inilah pendidikan yang menghasilkan manusia berorientasi nilai.

13. Metode Kisah dan Cerita
Manusia sangat mudah menerima pesan melalui cerita.
Karena itu Al-Qur'an sendiri banyak menggunakan kisah.
Kisah Nabi ﷺ, para sahabat, orang-orang saleh, bahkan kisah umat terdahulu dapat menjadi media pendidikan yang sangat kuat.
Mengapa?
Karena melalui cerita murid dapat:
membayangkan situasi,
merasakan konflik,
melihat pilihan,
memahami akibat,
menemukan nilai,
dan mengambil pelajaran.
Maka guru yang mampu bercerita dengan baik sebenarnya sedang menggunakan salah satu metode pendidikan yang sangat efektif.

14. Metode Perumpamaan
Perumpamaan (matsal) merupakan metode yang sangat kuat karena menghubungkan sesuatu yang sulit dengan sesuatu yang dekat dengan pengalaman manusia.
Konsep yang rumit menjadi lebih sederhana.
Konsep yang abstrak menjadi konkret.
Konsep yang jauh menjadi dekat.
Karena itu, guru hendaknya tidak takut menggunakan analogi:
“Bayangkan jika...”
“Ibaratnya...”
“Seperti seseorang yang...”
“Coba kita lihat dari pengalaman sehari-hari...”
Kajian akademik yang membahas Ushūlut Tarbiyah an-Nabawiyyah juga menempatkan kisah, perumpamaan, pertanyaan, metode gradual, penyegaran, peragaan, dan pengenalan kapasitas audiens sebagai bagian penting dari metode pendidikan Nabi ﷺ. 

Dari 14 Metode Menuju Satu Filosofi Pendidikan
Jika seluruh metode tersebut direnungkan, tampak bahwa pendidikan Nabi ﷺ memiliki karakter yang sangat komprehensif.
Pertama: Pendidikan Nabi ﷺ bersifat manusiawi
Murid diperlakukan sebagai manusia yang memiliki:
akal,
hati,
emosi,
pengalaman,
kemampuan,
kelemahan,
dan kebutuhan yang berbeda.
Kedua: Pendidikan Nabi ﷺ bersifat dialogis
Guru tidak memonopoli pembicaraan.
Pertanyaan, dialog dan interaksi menjadi bagian penting dari proses belajar.
Ketiga: Pendidikan Nabi ﷺ bersifat kontekstual
Cara mengajar disesuaikan dengan siapa yang diajar dan situasi yang dihadapi.
Keempat: Pendidikan Nabi ﷺ bersifat gradual
Perubahan manusia membutuhkan tahapan.
Kelima: Pendidikan Nabi ﷺ bersifat aplikatif
Ilmu tidak berhenti pada kepala.
Ia harus turun menjadi:
keyakinan → sikap → perilaku → akhlak → amal.
Keenam: Pendidikan Nabi ﷺ berorientasi pada pembentukan manusia
Tujuan akhirnya bukan sekadar murid pintar, tetapi manusia yang berilmu, beriman, berakhlak dan bermanfaat.

Relevansi bagi Guru dan Dosen Masa Kini
Di tengah pendidikan yang semakin digital, prinsip Nabi ﷺ justru semakin relevan.
Guru hari ini menghadapi peserta didik yang:
cepat bosan,
terbiasa dengan visual,
terbiasa dengan komunikasi singkat,
memiliki kemampuan berbeda,
berasal dari latar sosial yang beragam,
dan memiliki akses informasi yang sangat luas.
Maka guru tidak cukup hanya menjadi “pemberi materi.”
Guru harus menjadi:
pendidik, pembimbing, komunikator, motivator, teladan dan pembangun karakter.
Teknologi boleh berubah.
Media boleh berubah.
Kurikulum boleh berubah.
Tetapi prinsip pendidikan Nabi ﷺ tetap relevan:
Kenali manusia yang engkau didik, pahami kapasitasnya, dekatilah hatinya, hidupkan akalnya, berikan contoh, gunakan bahasa yang tepat, bertahaplah dalam mendidik, dan arahkan ilmu menuju amal.

Guru Bukan Sekadar Pengajar, Tetapi Murabbi
Inilah salah satu pelajaran terdalam dari Ushūlut Tarbiyah an-Nabawiyyah.
Mengajar (ta'lim) berarti menyampaikan ilmu.
Sedangkan mendidik (tarbiyah) berarti menumbuhkan manusia.
Seorang guru dapat membuat murid tahu.
Tetapi seorang murabbi berusaha membuat murid:
tahu → sadar → cinta → berubah → istiqamah.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari nilai ujian.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah ilmu yang diajarkan telah mengubah akhlak murid?
Apakah ilmu tersebut membuatnya semakin mengenal Allah?
Apakah ia menjadi lebih rendah hati?
Apakah ia semakin mencintai kebaikan?
Apakah ilmunya memberikan manfaat bagi manusia?
Di sinilah pendidikan Nabi Muhammad ﷺ memiliki kedalaman luar biasa.
Beliau bukan hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi membentuk manusia yang layak membawa ilmu tersebut dalam kehidupan.

Penutup
Strategi mengajar Nabi Muhammad ﷺ menurut perspektif Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki dalam Ushūlut Tarbiyah an-Nabawiyyah pada akhirnya mengajarkan satu prinsip besar:
Pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang paling banyak menyampaikan informasi, tetapi pendidikan yang paling berhasil mengubah manusia.
Guru harus menyentuh akalnya dengan argumentasi, hatinya dengan hikmah, perasaannya dengan kasih sayang, imajinasinya dengan kisah dan perumpamaan, serta perilakunya dengan keteladanan.

Itulah pendidikan kenabian:
mencerdaskan akal, menyucikan jiwa, membentuk akhlak, dan mengarahkan manusia kepada Allah SWT.

Dan karena itu, seorang guru hendaknya bertanya setiap kali selesai mengajar:
“Apa yang telah masuk ke kepala murid saya?”
Tetapi lebih jauh lagi:
“Apa yang telah berubah dalam hati dan perilaku mereka?”
Sebab ilmu yang hanya menambah pengetahuan belum tentu menjadi pendidikan; tetapi ilmu yang mengubah manusia menjadi lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama—itulah pendidikan yang hidup.

Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Opini

×
Berita Terbaru Update