Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ada Misi Kemerdekaan dalam Perjuangan Dakwah Rasulullah

Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:12 WIB Last Updated 2026-08-30T11:12:44Z

TintaSiyasi.id -- Merenungi makna kemerdekaan dalam momen Maulid Nabi ṣallallāhu ’alaihi wa sallam, Direktur Indonesia Justice Monitor Agung Wisnuwardana memaparkan bahwa di dalam perjuangan dakwah Rasulullah ada misi kemerdekaan.

 

"Saat kita mencerna, memperhatikan, dan juga menggali seperti yang diungkapkan tentang perjalanan dakwah Rasulullah Muhammad ṣallallāhu ’alaihi wa sallam, maka ada sesuatu yang menarik. Apa itu? Bahwa di dalam perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad ṣallallāhu ’alaihi wa sallam itu ada misi pembebasan, misi kemerdekaan, misi memerdekakan manusia dari perbudakan pada sesama manusia kepada penghambaan murni kepada Allah subḥānahu wa ta’āla. Itulah kemerdekaan," tuturnya pada acara Qudwah yang disiarkan langsung di YouTube 1Ummah.tv, Selasa (25/08/2026).

 

Agung menegaskan bahwa makna kemerdekaan yang diperjuangkan oleh Nabi Muhammad ṣallallāhu ’alaihi wa sallam adalah memerdekakan manusia dari perbudakan pada sesama manusia kepada penghambaan murni kepada Allah subḥānahu wa ta’āla.

 

Ia mengajak umat Islam untuk berjuang memerdekakan negeri ini dengan penerapan hukum Allah subḥānahu wa ta’āla, sebagaimana dahulu para pejuang mengusir penjajah dengan kalimat takbir.

 

"Mari hari ini kita semua meniatkan diri kita menggenggamkan tangan kita menghujamkan pikiran kita untuk bertekad memerdekakan jiwa, kita memerdekakan negeri ini, memerdekakan rakyat Indonesia dan memerdekakan dan seluruh manusia dengan hukum Allah subḥānahu wa ta’āla," serunya.

 

Menurutnya, umat Islam saat ini adalah pelanjut risalah Nabi yang dikhawatirkan oleh Rasulullah di akhir hayatnya.

 

"Kitalah masa-masa kritis itu. Kitalah orang-orang hebat itu yang akan melanjutkan risalah Kanjeng Nabi Muhammad ṣallallāhu ’alaihi wa sallam. Risalah cintanya, risalah misi pembebasannya. Dan kita tidak rela hukum Allah tidak diterapkan. dan kita tidak rela negeri ini dalam penjajahan," lanjutnya.

 

Ia menerangkan, panggilan Rasulullah, "Ummati, Ummati, Ummati! (Wahai umatku, wahai umatku, wahai umatku!)" di akhirat hayat Beliau adalah bentuk rasa cinta dan kekhawatiran Rasulullah akan masa depan umatnya.

 

"Beliau juga punya rasa cinta. Beliau tidak ingin putus asa. Dan beliau yakin bahwa risalahnya, misi pembebasannya akan dilanjutkan oleh kita semua," kata Agung.

 

81 Tahun Indonesia Belum Merdeka

 

Sementara itu, jika direfleksikan pada kondisi Indonesia, Agung menilai saat ini umat belum merdeka sekalipun telah merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-81 tahun ini, yang ditegaskan dengan mengutip pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto dalam pidatonya yang menyatakan bahwa negeri ini belum merdeka.

 

"Kita punya semua tetapi rakyat masih ada yang lapar. Kita belum merdeka. Rakyat kita masih sangat miskin. Kita belum merdeka. Saya boleh mengatakan bahwa Pak Prabowo sangat tegas sekali mengatakan: 'Indonesia belum merdeka!' pakai tanda seru'," tegasnya.

 

Ia juga mengingatkan pada pernyataan Surya Paloh di tahun 2019 bahwa Indonesia hari ini negara kapitalis yang liberal yang di dalamnya pragmatisme transaksional. "Sepertinya Pak Surya ingin mengatakan bahwa kemerdekaan keadilan itu hanya untuk mereka yang punya uang. Money is power," ujarnya.

 

Realitas Indonesia belum merdeka tersebut menurutnya dapat dikaji pada tiga aspek: ekonomi, sosial, dan politik.

 

Dalam hal ekonomi, ia mencontohkan, Provinsi Maluku Utara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi di tahun 2025 sebesar 27% saja, pemerintah daerahnya kesulitan membayar gaji PPPK dan hampir 74.810 warganya masih miskin dengan gini rasio sebesar 0,31 yang artinya ketimpangannya sangat tinggi.

 

Selain itu, lanjutnya, Indonesia juga tergolong memiliki tingkat kelaparan yang cukup tinggi. "Dari capaian yang terjadi, Indonesia itu masuk global hanger index (indeks kelaparan global) 14,6 nilainya. Ternyata dia nomor 70 dari 123 negara. Indonesia kemudian gini rasio lahan ketimpangan lahan 0,58, artinya 1% manusia di Indonesia menguasai 58%," bebernya.

 

Demikian juga di sektor energi, menurutnya, sekalipun Indonesia kaya batu bara, tetapi rakyat kerap mengalami byarpet listrik. "Yang menguasai batu bara, yang jualnya luar negeri. Legit keuntungannya. Apakah Indonesia sudah merdeka?" tanyanya retoris.

 

Menurutnya, ayat konstitusi yang menempatkan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dapat memunculkan tafsir bahwa karena dikuasai negara, maka negara bisa melakukan apa pun dan memberikan untuk siapa pun, termasuk melakukan privatisasi SDA.

 

"Luar biasa ini mengerikan sekali pasal 33 pun ditafsirkan dengan persepsi seperti yang dikatakan Pak Surya paloh tadi: kapitalis liberal," ujarnya.

 

Ia mencontohkan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda berbagai daerah saat ini, lebih dari setengahnya berada dalam izin konsesi. "Luar biasa, ada 67.370 titik api. anda tahu? 52% nya ternyata di dalam konsesi perusahaan sawit dan hutan tanaman industri. Siapa yang membakar? Indonesia sudah merdeka? Jawab dengan tegas, Indonesia belum merdeka," ujarnya.

 

Sementara itu, dalam politik, Agung mengatakan Indonesia tidak bebas dan aktif sebagaimana yang digaungkan karena secara geopolitik posisi Indonesia tampak permisif pada Amerika Serikat.

 

"Ada keputusan untuk bekerja sama dalam Board of Peace, kemudian tunduk pada perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat, terus kemudian bandara Kertajati dijadikan bengkel Hercules Amerika Serikat. Apakah ini bebas aktif? Saya mengatakan tidak bebas dan tidak aktif," ujarnya.

 

Agung juga mengkritisi keterlibatan TNI dan Polri dalam proyek-proyek sipil yang menurutnya dapat berpengaruh pada tugas pokok TNI terkait pertahanan negara maupun Polri dalam menjaga  keamanan dan ketertiban dalam negeri. Selain itu, menurutnya koalisi bersama dalam perpolitikan dalam negeri pun tampak berjalan untuk kepentingan oligarki.

"Politik kita, 100 persen dalam koalisi bersama, koalisi besar permanen jangka panjang. Dan semua itu untuk kepentingan oligarki kapitalis liberal," kata Agung.

 

Sedangkan di bidang sosial, Agung juga menilai masih banyak sekali masalah. “Maraknya LGBTQ, misalnya, sekalipun Perpres menyebutnya sebagai salah satu ancaman nonmiliter, tetapi Indonesia tidak punya hukum yang jelas terkait itu, bahkan Indonesia berupaya menjadi anggota negara kaya OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) yang harus permisif pada LGBTQ,” bebernya.

 

Di samping itu, lanjut Agung, sosial masyarakat Indonesia juga masih terlilit persoalan pinjaman online, narkoba, dan sebagainya.

 

"Belum lagi persoalan pinjol, persoalan miras, persoalan generasi muda, narkoba, dan lain sebagainya. Itu menjadi masalah kita di depan kita. Pertanyaannya sekali lagi, apakah sudah merdeka? Mari sekarang dengan tegas kita katakan, '81 tahun Indonesia belum merdeka!' Tanda seru, seperti yang dikatakan oleh Pak Prabowo Subianto," pungkasnya.[] Saptaningtyas

Opini

×
Berita Terbaru Update