TintaSiyasi.id -- Ketika Ilmu Menjadi Barang Mewah, Sebuah Bangsa Sedang Kehilangan Masa Depannya
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (QS. Al-'Alaq [96]: 1)
Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ bukanlah perintah membangun istana, mengumpulkan kekayaan, atau memperluas kekuasaan. Wahyu pertama adalah “Iqra’” (Bacalah). Ini adalah refleksi Ilahi bahwa peradaban dibangun di atas ilmu, bukan peninggalan; di atas pendidikan, bukan kemiskinan intelektual.
Namun, bagaimana mungkin perintah pertama Allah untuk membaca dan belajar dapat diwujudkan jika pintu-pintu pendidikan semakin sulit dimasuki oleh mereka yang lemah secara ekonomi?
Ketika biaya kuliah terus meningkat hingga membuat puluhan ribu calon mahasiswa gagal, sesungguhnya gugurnya bukan sekadar angka statistik. Yang gugur adalah cita-cita seorang anak petani, harapan seorang buruh, doa seorang ibu yang setiap malam memohon agar anaknya menjadi orang berilmu. Yang terkubur adalah potensi lahirnya ilmuwan, ulama, guru, dokter, insinyur, dan pemimpin masa depan.
Pendidikan Adalah Jalan Kemuliaan
Allah SWT berfirman:
"...Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Kemuliaan dalam Islam tidak dibangun oleh keturunan, kekayaan, atau jabatan, tetapi oleh iman dan ilmu. Oleh karena itu, menghalangi akses masyarakat terhadap pendidikan berarti menerangi jalan menuju kemuliaan yang Allah bukakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang mendaki suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkannya jalan menuju surga."
(HR. Muslim).
Ironisnya, hari ini sebagian anak bangsa bahkan belum sempat menapaki jalan ilmu karena terhalang biaya.
Krisis yang Lebih Dalam: Ketika Ilmu Dinilai dengan Rupiah
Persoalan UKT yang tinggi bukan sekadar persoalan administrasi kampus. Ia mencerminkan persoalan yang lebih mendasar: cara pandang terhadap pendidikan.
Ketika pendidikan diperlakukan terutama sebagai komoditas ekonomi, muncul risiko bahwa akses terhadap ilmu semakin bergantung pada kemampuan finansial. Padahal, ilmu adalah landasan kemajuan bangsa dan salah satu sarana untuk memperluas kesempatan hidup.
Dalam perspektif sufistik, ini menjadi bahan muhasabah. Imam besar seperti Abu Hamid al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu adalah cahaya yang menghidupkan hati. Cahaya itu seharusnya diterima sebanyak mungkin manusia, bukan hanya mereka yang mampu membayar mahal.
Kritik yang Perlu Menjadi Renungan Bersama
Kritik terhadap kebijakan pendidikan bukanlah ajakan untuk menyalahkan satu pihak. Justru kritik yang sehat adalah bentuk kepedulian agar negara, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat bersama-sama mencari solusi.
Jika pendidikan semakin sulit dijangkau, pertanyaan yang layak diajukan adalah:
Apakah akses terhadap pendidikan tinggi sudah cukup berpihak pada mereka yang berprestasi namun kurang mampu?
Apakah sistem pembiayaan telah memberikan ruang yang memadai bagi keadilan sosial?
Sudahkah seluruh elemen bangsa menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekedar beban anggaran?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas manusia yang dididik hari ini.
Jalan Sufistik: Mengembalikan Amanah Ilmu
Tasawuf mengajarkan bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Jabatan akan perbatasan.
Kekayaan akan benteng.
Kekuasaan akan berpapasan.
Termasuk bagaimana kita menjaga amanah ilmu dan kesempatan belajar bagi generasi berikutnya.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerima..."
(QS. An-Nisa' [4]: 58).
Pendidikan adalah amanah peradaban. Jika amanah ini dijaga, bangsa akan tumbuh kuat. Jika diabaikan, dampaknya mungkin baru terasa bertahun-tahun kemudian dalam bentuk penurunan kualitas sumber daya manusia dan melemahnya daya saing.
Membangun Peradaban Melalui Ilmu
Peradaban Islam mencapai masa keemasan bukan karena berlimpahnya emas dan perak, tetapi karena kecintaan terhadap ilmu. Perpustakaan dibangun, ulama dihormati, guru dimuliakan, dan para peminjam ilmu dibantu.
Semangat inilah yang perlu terus dihidupkan kembali. Negara memberdayakan akses pendidikan, perguruan tinggi mengelola amanah dengan akuntabilitas, masyarakat mendukung budaya belajar, dan mereka yang memiliki kemampuan ekonomi dapat ikut berkontribusi melalui beasiswa dan wakaf pendidikan.
Penutup Renungan
Bayangkan seorang anak yang menangis bukan karena tidak lulus ujian, tetapi karena lulus namun tidak mampu membiayai kuliah.
Bayangkan seorang ayah yang memegang surat penerimaan siswa sambil menyadari bahwa penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi biaya pendidikan anaknya.
Air mata mereka mengingatkan bahwa cita-cita bangsa belum selesai.
Ilmu adalah cahaya. Jangan biarkan cahaya itu hanya menghasilkan segelintir orang. Bukalah pintu-pintu pendidikan seluas mungkin, karena setiap anak bangsa yang memperoleh kesempatan belajar bukan hanya sedang mengubah nasib dirinya, tetapi juga sedang membangun masa depan Indonesia.
Bangsa yang besar tidak diukur dari tingginya gedung-gedungnya, tetapi dari luasnya kesempatan setiap anak untuk menuntut ilmu. Ketika ilmu dimuliakan, manusia dimuliakan. Ketika manusia dimuliakan, peradaban akan bangkit dengan rahmat Allah SWT.
Dr. Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.