Peringatan Ruhani Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Al-Jawābul Kāfī
Pendahuluan: Hidup Panjang Tapi Tak Berkah
Banyak orang hidup lama, tetapi sedikit amalnya.
Banyak yang rezekinya besar, tetapi hatinya sempit.
Banyak yang berilmu tinggi, tetapi tidak membawa cahaya.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah رحمه الله menjelaskan bahwa penyebab utama fenomena ini adalah hilangnya keberkahan akibat dosa dan kemaksiatan.
“Keberkahan adalah kebaikan yang menetap dan berkembang. Maksiat menghilangkannya, walau lahirnya tampak utuh.”
Kitab Al-Jawābul Kāfī hadir sebagai cermin kejujuran bagi jiwa, agar kita menyadari bahwa dosa tidak hanya berdampak di akhirat, tetapi menggerogoti kehidupan sejak di dunia.
Hakikat Keberkahan Menurut Ibnu Qayyim
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa keberkahan (barakah) bukan soal banyaknya:
• Umur
• Harta
• Aktivitas
• Pengetahuan
Tetapi manfaat, ketenangan, dan nilai di sisi Allah. “Sedikit yang diberkahi lebih baik daripada banyak yang dicabut keberkahannya.”
1. Maksiat Menghapus Keberkahan Umur
Umur yang berkah bukan yang panjang, tetapi yang penuh ketaatan dan amal shalih.
Ibnu Qayyim menjelaskan:
• Maksiat membuat waktu berlalu tanpa makna
• Hari demi hari habis tanpa bekas amal
• Sibuk, tetapi tidak produktif untuk akhirat
“Seseorang bisa hidup enam puluh tahun, tetapi hakikatnya ia tidak hidup kecuali beberapa saat saja.” Maksiat mencuri waktu, sedangkan taat melipatgandakannya.
2. Maksiat Menghapus Keberkahan Rezeki
Maksiat tidak selalu membuat seseorang miskin secara materi, tetapi:
• Rezeki terasa sempit
• Hati tidak pernah puas
• Harta cepat habis tanpa manfaat
Ibnu Qayyim menegaskan:
“Takwa adalah sebab datangnya rezeki, dan maksiat adalah sebab terhalangnya.”
Harta yang banyak tanpa keberkahan hanya menjadi beban hisab.
3. Maksiat Memadamkan Keberkahan Ilmu
Ilmu sejati adalah cahaya yang menuntun kepada Allah.
Ibnu Qayyim menyebutkan:
• Maksiat memadamkan cahaya ilmu
• Ilmu berubah menjadi hujjah yang memberatkan
• Ilmu tidak melahirkan amal
“Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”
Karena itu, banyak orang berilmu, tetapi tidak berakhlak.
4. Maksiat Menghapus Keberkahan Ketaatan
Ini dampak yang paling halus namun paling berbahaya.
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa maksiat:
• Membuat shalat terasa berat
• Dzikir terasa kering
• Ibadah kehilangan kenikmatan
“Maksiat melemahkan kelezatan taat, sebagaimana racun merusak tubuh.”
Ibadah tetap dilakukan, tetapi tanpa ruh dan tanpa bekas di hati.
5. Maksiat Merusak Hubungan dengan Allah
Ibnu Qayyim menegaskan bahwa maksiat:
• Menjauhkan hati dari Allah
• Menghalangi doa dikabulkan
• Membuat hati asing dalam ibadah
“Jarak terjauh antara hamba dan Rabb-nya adalah dosa.”
6. Maksiat Mengundang Kesempitan Hidup
Allah berfirman bahwa siapa yang berpaling dari dzikir-Nya, maka hidupnya sempit.
Ibnu Qayyim menjelaskan:
• Kegelisahan
• Cemas tanpa sebab
• Hilangnya ketenangan
Semua itu adalah alarm ruhani.
Obat Hilangnya Keberkahan Menurut Ibnu Qayyim
Al-Jawābul Kāfī tidak berhenti pada peringatan, tetapi memberi solusi:
1. Taubat yang jujur dan segera
2. Menjauhi sebab-sebab maksiat
3. Memperbanyak istighfar dan dzikir
4. Mengganti dosa dengan amal shalih
5. Menjaga makanan dan rezeki yang halal
6. Menghidupkan rasa muraqabah (diawasi Allah)
Pesan Mencerahkan untuk Umat
Jangan heran jika hidup terasa sempit padahal harta cukup.
Jangan heran jika ilmu tidak membawa manfaat. Jangan heran jika ibadah terasa berat. “Periksalah hubunganmu dengan Allah, sebelum menyalahkan dunia.”
Penutup Reflektif
Maksiat bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi pencuri keberkahan. Ia mencuri umur tanpa terasa, menguras rezeki tanpa disadari, dan memadamkan cahaya ilmu serta ibadah.
“Barang siapa menjaga ketaatan, Allah akan menjaga keberkahan hidupnya.”
— Ibnu Qayyim al-Jauziyah
Semoga Allah:
• Mengembalikan keberkahan umur kita
• Membersihkan rezeki dan ilmu kita
• Menghidupkan kembali manisnya ketaatan di hati kita
اللهم بارك لنا في أعمارنا وأرزاقنا وأعمالنا
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)