Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Minggu, 26 Juli 2026 | 21:13 WIB Last Updated 2026-07-26T14:14:14Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Malaysia Hani Fadiah menyatakan bahwa kebangkitan umat ditentukan oleh dasar pemikiran yang memimpin mereka. “Kebangkitan umat ditentukan oleh dasar pemikiran yang memimpin mereka,” ujar Hani.

 

“Dasar yang betul akan menghasilkan kebangkitan yang betul, sedangkan dasar yang salah akan membawa kepada kebangkitan yang salah,” katanya dalam program online Open Circle Sahabat Muslimah—Siri Kita Bangkit! bertajuk Falsafah Kebangkitan pada Sabtu (11/7/2026).

 

“Sebenarnya rahasia kebangkitan ini terletak pada wujudnya pemikiran ideologis yang memimpin umat. Tetapi, ia juga bergantung pada dasar itu betul atau salah,” sebutnya.

 

Ia mengatakan, kalau dasarnya betul, akan lahirlah kebangkitan yang betul. “Tetapi kalau dasarnya salah, of course kebangkitan yang terhasil pun akan salah juga,” lugasnya.

 

“Jadi kita bukan hanya perlu tahu seperti akan bangkit, tetapi bangkitnya itu berdasarkan apa,” imbuhnya.

 

Menurutnya, kebangkitan yang sesungguhnya tidak bermula dari perubahan fisik atau lahiriah, tetapi melalui perubahan cara manusia memahami dan memandang kehidupan.

 

“Kebangkitan ini bermula dari perubahan pemahaman, yakni cara berpikir yang ada dalam diri manusia,” ungkapnya.

 

Ia menegaskan bahwa perubahan tersebut perlu mengalihkan pemikiran umat dari acuan sekularisme-kapitalisme pada pandangan hidup Islam.

 

 “Apabila kita ingin bangkit, kita tidak boleh meniru acuan kapitalisme. Jika tidak, kita akan selama-lamanya berada pada tingkat yang sama,” jelasnya.

 

Oleh karena itu, ia mengusulkan untuk wajib kembali menjadikan Islam sebagai pemimpin pemikiran dalam seluruh kehidupan, bukan hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam urusan-urusan lainnya.

 

Perubahan Politik

 

Hani turut berkomentar bahwa pergantian partai, tokoh politik, atau pemerintah sama sekali tidak menyelesaikan masalah umat apabila masyarakat masih berpikir dengan pola yang sama.

 

“Perubahan politik ataupun pertukaran political figure atau peralihan tidak mengubah cara berpikir masyarakat. Akhirnya kita hanya menukar pemandu, tetapi mobil tetap mobil yang lama yang rusak,” ujarnya seraya menganalogikan perubahan semu.

 

Menurutnya, akidah Islam tidak boleh dibatasi hanya pada salat, puasa, dan amalan ritual, karena akidah merupakan sumber lahirnya sistem dan aturan kehidupan manusia.

 

“Akidah bukan hanya sekadar kepercayaan ritual, salat, ataupun puasa. Akidah sesungguhnya merupakan suatu pemikiran yang menyeluruh mengenai realitas kehidupan,” tuturnya.

 

Dari akidah itu, ia mengatakan, akan lahir suatu sistem dan aturan kehidupan yang secara praktis menyelesaikan berbagai urusan kehidupan manusia, baik dalam aspek ekonomi, politik, pemerintahan, maupun Pendidikan.

 

Melanjutkan penjelasan mengenai akidah sebagai pemikiran menyeluruh tentang realitas kehidupan, Hani menambahkan bahwa akidah juga akan memberikan jawaban mengenai tujuan kehidupan manusia, sekaligus menjadi unsur penting dalam pembentukan peradaban.

 

“Ia (akidah) menjawab pertanyaan paling mendasar yang kita sentiasa terpikir, dari mana kita datang, untuk apa kita dihidupkan di dunia ini, dan juga ke mana kita akan pergi setelah kita mati,” ulasnya.

 

“Dan jawaban itulah yang akan menjadi dasar pada cara hidup orang-orang. Kalau ikut Islam, Islam itulah dasar kita. Oleh sebab itu, setiap peradaban harus memiliki dasar pemikiran,” urainya.

 

Aktivis muda itu turut mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, bangunan modern, dan fasilitas fisik bukanlah ukuran utama kebangkitan umat. “Bahkan, semua itu tidak serta-merta membawa manusia bangkit menuju kebenaran,” tandasnya.

 

“Tidak semua kebangkitan dalam sejarah dunia merupakan kebangkitan yang benar. Ada yang membawa kepada petunjuk Allah dan ada pula yang hanya membawa kepada kemajuan material,” bebernya.

 

“Namun semakin lama, manusia justru semakin jauh dari tujuan sebenarnya penciptaan kita sebagai manusia,” ungkapnya.

 

Tahapan

 

“Sebagai jalan menuju kebangkitan, ada dua tahapan proses pembangunan kembali yang perlu dilakukan secara berurutan,” jelasnya.

 

Pertama, pembinaan individu, yaitu melahirkan kepribadian Islam yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang tunduk kepada syariat.

 

Kedua, pembinaan masyarakat dengan cara membebaskan pemikiran masyarakat dari cengkeraman ideologi asing dan menyatukan mereka di bawah sistem Islam,” tutupnya.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update