“Dasar yang betul akan
menghasilkan kebangkitan yang betul, sedangkan dasar yang salah akan membawa
kepada kebangkitan yang salah,” katanya dalam program online Open Circle
Sahabat Muslimah—Siri Kita Bangkit! bertajuk Falsafah Kebangkitan pada
Sabtu (11/7/2026).
“Sebenarnya rahasia kebangkitan ini
terletak pada wujudnya pemikiran ideologis yang memimpin umat. Tetapi, ia juga
bergantung pada dasar itu betul atau salah,” sebutnya.
Ia mengatakan, kalau dasarnya
betul, akan lahirlah kebangkitan yang betul. “Tetapi kalau dasarnya salah, of
course kebangkitan yang terhasil pun akan salah juga,” lugasnya.
“Jadi kita bukan hanya perlu tahu
seperti akan bangkit, tetapi bangkitnya itu berdasarkan apa,” imbuhnya.
Menurutnya, kebangkitan yang sesungguhnya
tidak bermula dari perubahan fisik atau lahiriah, tetapi melalui perubahan cara
manusia memahami dan memandang kehidupan.
“Kebangkitan ini bermula dari
perubahan pemahaman, yakni cara berpikir yang ada dalam diri manusia,”
ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa perubahan
tersebut perlu mengalihkan pemikiran umat dari acuan sekularisme-kapitalisme
pada pandangan hidup Islam.
“Apabila kita ingin bangkit, kita tidak boleh
meniru acuan kapitalisme. Jika tidak, kita akan selama-lamanya berada pada tingkat
yang sama,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia mengusulkan
untuk wajib kembali menjadikan Islam sebagai pemimpin pemikiran dalam seluruh
kehidupan, bukan hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam urusan-urusan
lainnya.
Perubahan Politik
Hani turut berkomentar bahwa
pergantian partai, tokoh politik, atau pemerintah sama sekali tidak
menyelesaikan masalah umat apabila masyarakat masih berpikir dengan pola yang
sama.
“Perubahan politik ataupun
pertukaran political figure atau peralihan tidak mengubah cara berpikir
masyarakat. Akhirnya kita hanya menukar pemandu, tetapi mobil tetap mobil yang
lama yang rusak,” ujarnya seraya menganalogikan perubahan semu.
Menurutnya, akidah Islam tidak
boleh dibatasi hanya pada salat, puasa, dan amalan ritual, karena akidah
merupakan sumber lahirnya sistem dan aturan kehidupan manusia.
“Akidah bukan hanya sekadar
kepercayaan ritual, salat, ataupun puasa. Akidah sesungguhnya merupakan suatu
pemikiran yang menyeluruh mengenai realitas kehidupan,” tuturnya.
Dari akidah itu, ia mengatakan,
akan lahir suatu sistem dan aturan kehidupan yang secara praktis menyelesaikan
berbagai urusan kehidupan manusia, baik dalam aspek ekonomi, politik,
pemerintahan, maupun Pendidikan.
Melanjutkan penjelasan mengenai
akidah sebagai pemikiran menyeluruh tentang realitas kehidupan, Hani
menambahkan bahwa akidah juga akan memberikan jawaban mengenai tujuan kehidupan
manusia, sekaligus menjadi unsur penting dalam pembentukan peradaban.
“Ia (akidah) menjawab pertanyaan
paling mendasar yang kita sentiasa terpikir, dari mana kita datang, untuk apa
kita dihidupkan di dunia ini, dan juga ke mana kita akan pergi setelah kita
mati,” ulasnya.
“Dan jawaban itulah yang akan
menjadi dasar pada cara hidup orang-orang. Kalau ikut Islam, Islam itulah dasar
kita. Oleh sebab itu, setiap peradaban harus memiliki dasar pemikiran,”
urainya.
Aktivis muda itu turut
mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, bangunan modern, dan fasilitas fisik
bukanlah ukuran utama kebangkitan umat. “Bahkan, semua itu tidak serta-merta
membawa manusia bangkit menuju kebenaran,” tandasnya.
“Tidak semua kebangkitan dalam
sejarah dunia merupakan kebangkitan yang benar. Ada yang membawa kepada
petunjuk Allah dan ada pula yang hanya membawa kepada kemajuan material,”
bebernya.
“Namun semakin lama, manusia
justru semakin jauh dari tujuan sebenarnya penciptaan kita sebagai manusia,”
ungkapnya.
Tahapan
“Sebagai jalan menuju
kebangkitan, ada dua tahapan proses pembangunan kembali yang perlu dilakukan
secara berurutan,” jelasnya.
Pertama, pembinaan individu,
yaitu melahirkan kepribadian Islam yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang
tunduk kepada syariat.
“Kedua, pembinaan
masyarakat dengan cara membebaskan pemikiran masyarakat dari cengkeraman
ideologi asing dan menyatukan mereka di bawah sistem Islam,” tutupnya.[] Aliya
Ab Aziz