TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa iman kepada perkara gaib tidak bertentangan dengan rasionalitas maupun tradisi ilmiah, justru merupakan pengakuan rasional bahwa realitas lebih luas daripada jangkauan indra dan kemampuan observasi manusia.
“Iman kepada yang gaib bukan
pengingkaran terhadap rasionalitas. Ia justru merupakan pengakuan rasional
bahwa realitas lebih luas daripada kemampuan indra manusia,” tegas HILMI kepada
TintaSiyasi.ID, Senin (27/07/2026).
Dalam dokumen Letter to
Intellectuals No. 007 bertajuk Iman kepada yang Gaib di Tengah Tradisi
Ilmiah itu dijelaskan bahwa salah satu ciri utama orang bertakwa adalah
beriman kepada perkara gaib.
“Namun bagi ilmuwan yang terbiasa
berpikir empiris, terukur, dan dapat diverifikasi, keyakinan terhadap malaikat,
jin, mukjizat para nabi, surga, neraka, pahala, dosa, dajal, maupun Ya’juj
dan Ma’juj sering memunculkan pertanyaan epistemologis.
Menurut HILMI, Islam tidak
menghendaki umatnya mempercayai setiap cerita yang tidak jelas sumbernya. “Karena
itu, iman kepada yang gaib harus dibedakan secara tegas dari taklid, spekulasi,
dan kepercayaan tanpa dalil. Yang gaib tidak sama dengan yang irasional,”
jelasnya.
HILMI menerangkan bahwa dalam
dunia sains sendiri terdapat banyak realitas yang tidak diamati secara
langsung. “Atom tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, struktur bagian
dalam bumi dipelajari melalui gelombang seismik, sedangkan lubang hitam
diketahui melalui pengaruh gravitasi dan radiasi di sekitarnya,” sebutnya
mencontohkan.
“Bahkan dalam sejarah, manusia
menerima keberadaan tokoh-tokoh masa lalu berdasarkan kesaksian, dokumen, dan
artefak yang dapat diuji kredibilitasnya. Karena itu, kaidah ‘tidak terlihat
berarti tidak ada’ bukanlah kaidah ilmiah,” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa manusia
memperoleh pengetahuan melalui tiga jalan, yakni pengindraan, penalaran, dan
informasi yang terpercaya. “Dalam Islam, berita tentang perkara gaib diterima
melalui wahyu setelah terlebih dahulu dibuktikan kebenaran sumbernya,”
terangnya.
“Akal digunakan untuk menilai
adanya Sang Pencipta, kebenaran kerasulan Muhammad saw., dan autentisitas
Al-Qur’an. Setelah sumbernya terbukti benar, maka berita tentang perkara gaib
diterima karena kebenaran sumbernya,” tuturnya.
Karena itu, HILMI menegaskan
bahwa seorang Muslim tidak harus membuktikan keberadaan malaikat melalui
mikroskop atau mencari neraka dengan teleskop.
“Yang dibuktikan adalah
kredibilitas sumber berita. Jika sumbernya benar, maka berita yang
disampaikannya pun diterima,” ujarnya.
Lebih lanjut, HILMI menyatakan
bahwa tidak ada pertentangan hakiki antara sains dan iman selama keduanya
ditempatkan pada wilayahnya masing-masing. “Konflik muncul ketika sains diubah
menjadi saintisme atau ketika agama dibebani oleh cerita dan klaim yang tidak
pernah diajarkan wahyu,” ulasnya.
“Sikap seorang ilmuwan Muslim
seharusnya jelas: tidak menolak perkara gaib hanya karena tidak dapat dilihat,
tetapi juga tidak mempercayai setiap cerita aneh hanya karena terdengar
religius,” simpulnya.
“Islam menjaga umatnya agar tidak
jatuh ke dalam tahayul dan khurafat dengan mensyaratkan dalil, kehati-hatian,
dan kejujuran intelektual,” pungkasnya.[] Rere