Pernah mendengar istilah snowplow parenting? Seperti
buldozer atau pembersih salju, ini adalah tipe orang tua yang sigap
menyingkirkan semua batu sandungan di depan anak. Ada masalah sedikit dengan
teman, orang tua turun tangan. Lupa bawa PR, orang tua langsung meluncur ke
sekolah antarkan buku.
Niatnya luar biasa baik: cinta dan tidak tega. Tapi, di
balik niat mulia itu, ada fenomena unik: "Semakin Memudahkan, Semakin
Menyulitkan."
Saat kita membersihkan semua duri di jalan anak, kita
sebenarnya sedang merampas "ruang latihan" yang mereka butuhkan untuk
tumbuh menjadi manusia tangguh (resilient).
Allah SWT berfirman:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ٦
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Kemudahan selalu dimulai dengan kesulitan. Proses melewati
kesulitan (’usr) adalah syarat mutlak untuk meraih kemudahan (yusr). Proses ini akan melatih otot mental anak dan
melahirkan kemampuan dan ketrampilan, untuk anak mudah menjalani kehidupan
kelak.
Jika jalan anak dibuat terlalu mulus tanpa kesulitan dan
tantangan, bagaimana mereka bisa melatih otot mentalnya dan membangun kemampuan
dan ketrampilan menghadapi kehidupan yang semakin dewasa semakin keras?
Mengapa Fenomena Ini Banyak Terjadi?
Orang tua milenial yang dulu diasuh dengan gaya VOC
parenting, tidak mau menerapkan hal yang sama. “Cukuplah saya dulu merasakan
luka akibat kerasnya pengasuhan. Saya ingin membesarkan anak-anak kami dengan
cinta”.
Banyak orang tua hari ini tumbuh di era yang serba terbatas,
sehingga muncul dorongan emosional: "Saya tidak ingin anak saya mengalami
kesulitan yang dulu saya alami."
Kehidupan modern menawarkan kemudahan teknologi, yang tanpa
sadar membentuk standar serba instan "hidup itu harusnya cepat dan tanpa
hambatan."
Terperangkap perasaan bersalah (guilt trap): Orang
tua yang sibuk bekerja sering kali menutupi rasa bersalahnya dengan memanjakan
dan mempermudah segala urusan anak.
Meluruskan Makna Kasih Sayang
Banyak dari kita tanpa sadar menyamakan kasih sayang dengan
menghilangkan semua rasa tidak nyaman.
Padahal, batasnya jelas: Jika sesuatu sudah mampu dilakukan
anak sesuai usianya, tapi kita tetap mengambil alih karena tidak tega atau
tidak sabar, itu namanya memanjakan.
Kasih sayang sejati bukan selalu membuat nyaman anak atau
menuruti semua keinginan, melainkan menjaga dan membimbing mereka agar siap
menghadapi dunia dengan terikat pada syariat Allah.
Allah SWT mengingatkan kita:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ
نَارً
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)
Memelihara keluarga butuh kedisiplinan, sehingga anak
memiliki ketahan mental dan ketrampilan hidup.
Rasa "enggak tega" justru bisa membuat anak tumbuh
tanpa kendali, ketahanan mental dan
miskin ketrampilan hidup.
Dampak Anak yang Selalu Dimudahkan
Ketika anak selalu diselamatkan dari kesulitan, ada
keterampilan hidup vital yang hilang, karena luput mereka pelajari:
1. Bertanggung jawab : bagaimana mau bertanggung jawab
sedangkan anak tak pernah punya kesempatan melakukan sesuatu berdasarkan
pilihannya.
2. Problem solving (Kemampuan Memecahkan Masalah):
Otak anak tidak terbiasa berpikir mencari solusi karena orang tua selalu hadir
membawa jawaban instan.
3. Percaya diri: Anak ragu-ragu melangkah karena terbiasa
disetir.
4. Regulasi emosi dan toleransi frustasi: Anak gagap
menghadapi kata "tidak" atau kegagalan.
Ketika beranjak
remaja hingga dewasa, dampaknya semakin terasa:
1. Mudah mengalami mental breakdown : Mudah
cemas, stres, atau depresi saat menghadapi tekanan di dunia perkuliahan maupun
kerja. Sedikit-sedikit ngeluh “lagi burnout”.
2. Playing victim : Cenderung menyalahkan
lingkungan atau orang lain saat mengalami kegagalan, karena tidak terbiasa
bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.
3. Krisis kemandirian : Sulit membuat keputusan hidup
yang penting (karier, pasangan, finansial) tanpa validasi terus-menerus dari
orang tua.
Allah SWT mengingatkan kita agar jangan sampai meninggalkan
generasi yang lemah:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً
ضِعٰفًا
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka...” (QS. An-Nisa: 9)
Rasulullah ﷺ bersabda:“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya...” (HR. Bukhari & Muslim)
Bagaimana anak bisa memimpin orang lain kelak? Sedang
memimpin dirinya sendiri belum tentu dia mampu, karena ia tak pernah diberi kesempatan bertanggung
jawab atas tindakan dan pilihannya sejak dini?
Alarm Bagi Orang Tua
Mari kita cek apakah alarm ini menyala di rumah anda?
1. Kalimat Refleks: Sering bilang, "Sini, Ibu/Bapak
saja yang kerjakan!" cuma karena gemas melihat anak mengerjakannya lambat
atau kurang rapi.
2. Panik Duluan: Langsung pasang badan saat anak konflik
ringan dengan temannya, sebelum memberi kesempatan mereka berdamai sendiri.
3. Gagap Keterampilan Dasar: Anak sudah cukup umur, tapi
belum bisa pakai sepatu, merapikan mainan, atau menyiapkan tas sekolahnya
sendiri.
4. Alergi Emosi Anak: Merasa menjadi orang tua yang gagal
setiap kali melihat anak menangis, sedih, atau kecewa.
Warning! Jika alarm sudah menyala, segeralah berubah!
Perpektif Islam dalam Mendidik Generasi
Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik yang memadukan kasih
sayang yang lembut (Rahmah) dengan pembentukan karakter yang tangguh.
Prinsip Utama dari Teladan Rasulullah ﷺ:
1. Kasih Sayang yang Membesarkan Jiwa: Rasulullah ﷺ sering
memeluk, mencium, dan bermain dengan anak-anak, namun tetap tegas dalam hal
akidah, adab, dan tanggung jawab moral. Kasih sayang dalam Islam berfungsi
mengisi "tangki emosi" anak agar mereka percaya diri,
Rasulullah ﷺ menanamkan fondasi mental yang kuat sejak dini.
Beliau juga mengajarkan adab secara langsung tanpa mengambil alih tugas sang
anak. Ketika mendidik anak tirinya, Umar bin Abi Salamah RA, yang tangannya
menjangkau ke mana-mana saat makan, Rasulullah ﷺ tidak menyuapinya, melainkan
mengajarinya:
“Wahai anak, sebutlah nama Allah (baca Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Tirmidzi)
Beliau melatih kemandirian anak dengan petunjuk yang jelas,
bukan dengan mengambil alih pekerjaannya.
2. Penanaman Tanggung Jawab Sejak Dini: Rasulullah ﷺ tidak
memperlakukan anak-anak sekadar sebagai objek penyayang, tetapi memberi mereka
kepercayaan. Contohnya Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang diberi
kepercayaan menjalankan tugas-tugas penting sejak usia muda.
4. Membiasakan Keprihatinan & Ketahanan Mental:
Anak-anak para sahabat dilatih untuk mengenal puasa, belajar menunggang kuda,
memanah, dan berenang. Mereka diajarkan untuk tidak hidup bermewah-mewahan agar
jiwa mereka tangguh.
Lihatlah Beliau ﷺ mengajari Ibnu Abbas RA yang saat itu
masih cilik:
“Wahai anak muda, aku akan
mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan
menjagamu... Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah...”
(HR. Tirmidzi)
Langkah Praktis Menanamkan Membangun Mental Tangguh
Ubah kebiasaan "ambil alih" menjadi
"pemberdayaan":
1. Pakai Prinsip Gradual Release
"Ibu contohkan
dulu" > "Mari kita kerjakan bersama" > "Kamu coba
sendiri, Ibu perhatikan" > "Kamu kerjakan mandiri."
2. Ubah Bentuk Pertanyaan
Saat anak mengeluh atau kesulitan, tahan keinginan untuk
langsung memberi solusi. Gantilah kalimat "Sini Mama bantu" menjadi:
"Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikan ini?"
3. Biarkan Konsekuensi Alamiah Bekerja
Anak lupa membawa buku pelajaran padahal sudah diingatkan?
Tahan rasa ingin menjadi "pahlawan" yang mengantarkan buku ke
sekolah. Biarkan ia merasakan konsekuensi ditegur guru. Itu adalah guru terbaik
untuk rasa tanggung jawabnya.
4. Berikan Peran & Tugas Rutin
Libatkan anak dalam tugas harian rumah tangga: menyiram
tanaman, menyiapkan meja makan, atau merapikan tempat tidur. Anak yang diberi
kepercayaan akan merasa dibutuhkan dan dihargai.
Tugas utama orang tua bukan menyiapkan jalan yang mulus, tapi menyiapkan anak-anak yang tangguh untuk mampu berjalan di jalan mana pun yang kelak mereka tempuh.
Oleh. Dini Sumaryanti Mardi (Family Coach)
