TintaSiyasi.id -- Pendahuluan
Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah (ḥablum minallāh), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia (ḥablum minannās) dan dengan alam semesta. Dalam perspektif Islam, sumber daya alam (SDA) merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dikelola secara adil, produktif, berkelanjutan, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk.
Persoalan ketahanan energi dan pangan dewasa ini menjadi tantangan global. Krisis iklim, eksploitasi sumber daya yang berlebihan, ketimpangan distribusi, serta kerakusan manusia telah menyebabkan berbagai bencana ekologis. Islam sejak empat belas abad yang lalu telah memberikan prinsip-prinsip dasar yang menjadi solusi bagi persoalan tersebut.
1. Konsep Kepemilikan Alam dalam Islam
Allah SWT menegaskan bahwa seluruh alam semesta adalah milik-Nya.
"Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya."
(QS. Al-Ma'idah: 17)
Manusia bukanlah pemilik mutlak bumi, melainkan hanya khalifah (pengelola).
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
(QS. Al-Baqarah: 30)
Menurut Imam Al-Ghazali, kekhalifahan berarti manusia diberi amanah untuk memakmurkan bumi ('imāratul ardh), bukan merusaknya.
Karena itu seluruh aktivitas ekonomi harus diarahkan kepada:
• kemanfaatan
• keadilan
• keberlanjutan
• ibadah kepada Allah.
2. Prinsip Pengelolaan Sumber Daya Alam dalam Islam
a. Prinsip Tauhid
Tauhid melahirkan kesadaran bahwa alam adalah ciptaan Allah.
Maka:
• tidak boleh dieksploitasi secara serakah
• tidak boleh dirusak
• tidak boleh diprivatisasi hingga menzalimi masyarakat.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seluruh nikmat bumi merupakan sarana manusia untuk beribadah kepada Allah.
b. Prinsip Amanah
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung..."
(QS. Al-Ahzab: 72)
Sumber daya alam adalah amanah.
Maka pemerintah maupun masyarakat akan dimintai pertanggungjawaban atas:
• hutan
• air
• tambang
• laut
• energi
• pertanian.
c. Prinsip Keadilan
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil..."
(QS. An-Nahl: 90)
Keadilan berarti:
• hasil kekayaan alam tidak boleh hanya dinikmati segelintir orang
• rakyat memperoleh manfaat terbesar
• tidak terjadi monopoli.
d. Larangan Merusak Lingkungan
Allah berfirman:
"Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya."
(QS. Al-A'raf: 56)
Ayat ini menjadi dasar fiqh lingkungan hidup (Fiqh al-Bi'ah).
3. Ketahanan Energi dalam Perspektif Islam
Ketahanan energi berarti kemampuan suatu negara memenuhi kebutuhan energi secara berkelanjutan.
Islam sangat mendorong:
• eksplorasi ilmu pengetahuan
• inovasi teknologi
• pemanfaatan energi secara efisien
• pengembangan energi terbarukan.
Allah berfirman:
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya."
(QS. Yunus: 5)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa matahari merupakan sumber energi yang luar biasa.
Demikian pula:
• angin
• air
• panas bumi
• biomassa
merupakan karunia Allah yang dapat dimanfaatkan.
Larangan Israf (Pemborosan Energi)
Allah berfirman:
"Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
(QS. Al-A'raf: 31)
Pemborosan listrik, bahan bakar, maupun air merupakan bentuk israf yang dilarang syariat.
4. Pengelolaan Sumber Energi Menurut Fikih Islam
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api."
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Para ulama menjadikan hadis ini sebagai dasar bahwa sumber daya vital termasuk kategori kepemilikan umum (al-milkiyyah al-'ammah).
Menurut Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizham al-Iqtisadi fil Islam:
• minyak
• gas
• batu bara
• tambang besar
• listrik
• sumber energi strategis
termasuk kepemilikan umum yang harus dikelola negara demi kemakmuran rakyat, bukan diserahkan sepenuhnya kepada monopoli swasta.
5. Ketahanan Pangan dalam Perspektif Islam
Islam sangat memperhatikan ketersediaan pangan.
Allah berfirman:
"Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya."
(QS. 'Abasa: 24)
Ayat ini mengandung perintah agar manusia memperhatikan:
• produksi pangan
• kualitas pangan
• keberlanjutan pangan.
Kisah Nabi Yusuf
Salah satu contoh terbaik manajemen pangan terdapat pada kisah Nabi Yusuf AS.
Beliau menyusun strategi:
• meningkatkan produksi
• menyimpan hasil panen
• mengendalikan konsumsi
• membangun cadangan pangan nasional.
Allah mengabadikannya dalam:
(QS. Yusuf: 47–49)
Ini merupakan konsep ketahanan pangan modern yang telah diajarkan Al-Qur'an.
6. Pertanian sebagai Ibadah
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, lalu dimakan manusia, burung atau binatang, melainkan menjadi sedekah baginya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa:
bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi,
tetapi juga ibadah.
7. Konsep Keberlanjutan (Sustainability)
Islam mengajarkan keseimbangan (mīzān).
Allah berfirman:
"Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan)."
(QS. Ar-Rahman: 7–9)
Konsep pembangunan menurut Islam harus menjaga keseimbangan antara:
• ekonomi
• lingkungan
• sosial
• spiritual.
8. Peran Negara dalam Pengelolaan SDA
Negara berkewajiban:
• menjaga kepemilikan umum
• mengelola tambang secara profesional
• menjamin distribusi energi
• menjaga stabilitas pangan
• melindungi petani
• melindungi nelayan
• menjaga kelestarian hutan
• mengembangkan riset energi terbarukan.
Tujuan akhirnya adalah tercapainya maslahah 'ammah (kemaslahatan umum).
9. Tantangan Kontemporer
Beberapa tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini antara lain:
• eksploitasi sumber daya secara berlebihan;
• kerusakan hutan dan pencemaran lingkungan;
• ketergantungan pada energi fosil;
• alih fungsi lahan pertanian produktif;
• ketimpangan distribusi pangan;
• privatisasi sumber daya strategis yang mengurangi akses masyarakat.
Islam menawarkan jalan tengah dengan mengintegrasikan nilai-nilai tauhid, amanah, keadilan, dan keberlanjutan dalam setiap kebijakan publik.
Hikmah dan Pelajaran
Pengelolaan sumber daya alam dalam Islam bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab kekhalifahan. Ketahanan energi dan pangan tidak hanya diukur dari melimpahnya sumber daya, melainkan dari kemampuan mengelolanya secara adil, efisien, dan lestari. Ketika manusia menjadikan Allah sebagai pusat orientasi, maka pembangunan akan menghadirkan keberkahan, kesejahteraan, dan kelestarian alam.
Sebaliknya, apabila keserakahan, monopoli, dan eksploitasi menjadi landasan pengelolaan sumber daya, maka kerusakan ekologis, krisis energi, dan kelangkaan pangan akan menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan. Karena itu, Islam mengajarkan bahwa kemajuan peradaban harus selalu berjalan seiring dengan penjagaan terhadap amanah Allah atas bumi. Inilah makna sejati dari 'imāratul ardh—memakmurkan bumi sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta sekaligus menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)